Senin, 20 Desember 2021

PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DI DALAM INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

A.    PENDAHULUAN

Filasafat adalah pemikiran secara sistematis dan universal untuk mencapai hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Berpikir secara sistematis dan universal tersebut adalah berpikir secara sungguh-sungguh dan bertujun untuk mengetahui secara mendalam tentang segala sesuatu yang dipikirkan ini berarti ingin mencari hakikat kebenaran sesuatu. Oleh karena itu tujuan filsafat sesungguhnya adalah mencapai kebenaran yang hakiki. Tujuan mencari kebenaran ini merupakan keharusahan bagi para filsuf. Kebenaran ini akan mempengaruhi tindakan, keyakinan sehingga akan membentuk sikap seseorang. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan :

1.   Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.

2.   Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.

3.   Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu.

Ontologi mencakup banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk disini, misalnya Logika, Metafisika, Kosmologi, Teologi, Antropologi, Etika, Estetika, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum dan lain-lain.

Epistimologi hanya mencakup satu bidang saja yang disebut epistimologi yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi setiap cabang filsafat. Sedangkan Aksiologi hanya mencakup satu bidang filsafat yaitu aksiologi yang membicarakan guna pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi semua cabang filsafat. Inilah kerangka struktur filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat itu ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis berarti benar dan bila tidak logis berarti salah. Ada hal yang patut diingat. Kita tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktukan kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Bila logis dan tidak empiris itu adalah pengetahuan sains. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis dan tidaknya teori itu. Ukuran logis dan tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan teori itu.

Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.

Di dalam pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnostisisme. Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”. Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure, metode, dan validitas pengetahuan. Pengetahuan di dapatkan dari pengamatan.

Di dalam pengamatan indrawi tidak dapat di tetapkan apa yang subjektif dan apa yang objektif. Jika kesan–kesan subjektif di anggap sebagai kebenaran, hal itu mengakibatkan adanya gambaran–gambaran yang kacau di dalam imajinasi. Segala pengetahuan di mulai dengan gambaran–gambaran indrawi. Gambaran–gambaran itu kemudian di tingkatkan sampai kepada tingkatan–tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif. Di dalam pengetahuan rasional orang hanya mengambil kesimpulan–kesimpulan, tetapi di dalam pengetahuan intuitif orang memandang kepada idea–idea yang berkaitan dengan Allah. Disini orang di masukkan ke dalam keharusan ilahi yang kekal. Demikian menurut Baruch Spinoza sebagai salah seorang tokoh Resiesinalisme. Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia ( world view). Dalam hidup kita banyak menghadapi masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan lebih enak jika masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal artinya filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.

Filsafat jika ditinjau lebih mendalam lagi bukan sekedar ilmu logika yang lebih mengedepankan rasionalitas, karena filsafat merupakan pondasi awal dari segala macam disiplin keilmuan yang ada. Sedangkan ilmu merupakan suatu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat dari waktu ke waktu. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia menggunakan ilmu seperti agama, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan lain sebagainya.

Filsafat yang mengedepankan eksplorasi logika yang insyaf, radikal dan bebas ternyata tidak selamanya mampu memberikan solusi terbaik kepada manusia. Filsafat dari waktu ke waktu tidak pernah mengalami kemajuan (passif). filusuf hanya bisa berfikir tanpa bisa mengekspresikan hasil pemikirannya dalam bentuk yang lebih praktis. inilah yang membingungkan. Maka lahirlah Ilmu (sains) yang menjadi cabang atau pemekaran dari filsafat itu sendiri yang tidak hanya mengandalkan kekuatan logika semata, tetapi sudah berupaya menjabarkan dengan bukti2 empiris dan rasional melalui riset-riset atau uji coba yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun lagi-lagi hal itu tidak cukup untuk menjawab dan menyelesaikan problematika kehidupan karena kerapkali dijumpai teori (ilmu) yang tidak sesuai dengan realita, pun sebaliknya, realita tidak selamanya harus dibarengi dengan teori.  Oleh karena itu manusia terus mencari solusi guna menjawab tantangan-tantangan tersebut, yaitu dengan agama.

Agama lahir sebagai pedoman dan panduan bagi kehidupan manusia. Agama lahir tidak dengan rasio, riset, dan uji coba belaka melainkan lahir dari proses penciptaan dzat yang berada di luar jangkauan akal manusia dan penelitian pada objek-objek tertentu. Agama menjadi titik akhir dari suatu perjalanan jauh manusia dalam mencari kepuasan hidup yang tidak bisa didapatkan dalam filsafat dan sains (ilmu).

Permainan kata-kata atau kalimat berikut diharapkan dapat memberi gambaran selintas tentang filsafat (Marsigit, 2013):

“Filsafat adalah olah pikir refleksif. Obyek material filsafat adalah obyek kajiannya, sedangkan obyek formal filsafat adalah metodenya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Metode untuk mempelajari filsafat beraneka ragam, tetapi yang menonjol adalah hermeneutika. Alat yang digunakan untuk mempelajari filsafat adalah bahasa analog. Namun secara ontologis tidak ada batasan filsafat yang paling baik, karena definisi dan penjelasan filsafat tergantung kepada filsuf dan konteks budayanya. Tetapi disepakati bahwa dalam filsafat paling tidak terdapat 3 pilar utama yaitu ontology, epistemology dan aksiologi. Perbedaan filsafat adalah perbedaan pemikiran filsufnya. Perbedaan pemikiran filsuf adalah perbedaan obyek dan metodenya. Aliran filsafat adalah pengaruh pemikiran filsufnya. Dan karakteristik atau ciri filsafat adalah penjelasannya. Implementasi filsafat adalah di luar jangkauannya. Tidak setuju atau menolak filsafat adalah berfilsafat pula. Makro filsafat adalah dunianya. Mikro filsafat adalah subyek diri. Tiadalah sebenar-benar ada seorang filsuf, karena tidak ada seorang filsufpun yang mengaku sebagai filsuf. Karakter tertinggi dalam filsafat adalah karakter Socrates karena pengakuannya yang tidap dapat mengerti apapun. Struktur filsafat yang aku kehendaki adalah hirarkhi berdimensi: material, folmal, normatif dan spiritual. Filsafat dimulai dari pertanyaan dan diakhiri pula dengan pertanyaan. Kesimpulan pertanda belum berfilsafat. Awal dari filsafat adalah kesadaran, dan akhir dari filsafat adalah mitos. Adab berfilsafat adalah tata-cara berfilsafat; dan tata cara berfilsafat adalah filsafat itu sendiri. Kesimpulan berfilsafat adalah bahwa ternyata filsafat adalah diriku sendiri. Ternyata aku tidak dapat menemukan diriku sendiri, padahal aku tahu bahwa diriku adalah sifat-sifatku. Maka diriku bisa pikiranku bisa pula doaku. Kebenaran adalah diriku yang tertutup, sedangkan diriku yang terbuka adalah ilmuku. Ternyata aku menemukan bahwa diriku tidak sama dengan diriku, dikarenakan bujuk dan rayuan ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu adalah intuisiku, yaitu intuisi pikiran dan intuisi pengalamanku. Diriku tidak sama dengan diriku adalah kontradiksi karena itu adalah pengalaman menemukan diriku. Sedangkan diriku adalah diriku adalah identitas jika dia masih berada di dalam pikiranku, tetapi serta merta akan menjadi salah jika aku ucapkan atau aku tuliskan. Setinggi-tinggi tujuanku berfilsafat adalah sekedar menjadi saksi. Saksi adalah kuasa menyaksikan dan mengalami. Kuasa itu adalah diriku. Padahal diriku bisa apa saja (op maaf). Kemarin saya otoritarianisme sedangkan sekarang saya demokratis; kemarin saya Platonist sedang sekarang saya Aristotelianis; kemarin saya Pragmatis sedangkan sekarang saya Idealist, dst. Itulah bukti bahwa diriku adalah filsafat. Demikian juga engkau muridku adalah juga filsafat, bedanya mungkin engkau belum menyadarinya.

B.    LANDASAN FILOSOFI DALAM PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan berusaha menjelaskan banyak makna yang berbeda yang berhubungan dengan istilah-istilah yang banyak digunakan dalam lapangan pendidikan seperti kebebasan, penyesuaian, pertumbuhan, pengalaman, kebutuhan, dan pengetahuan. Penjernihan istilah-istilah akan sampai pada hal-hal yang bersifat hakiki, maka kajian filsafat tentang pendidikan akan ditelaah oleh cabang filsafat yang bernama metafisika atau ontologi. Ontologi menjadi salah satu landasan dalam filsafat pendidikan. Selain itu, kajian pendidikan secara filsafati memerlukan pula landasan epistemologis dan landasan aksiologis (Rukiyati: 2015).

1.                  Landasan Ontologi Pendidikan

Ontologi merupakan bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari metafisika, dan metafisika merupakan salah satu bab dari filsafat. Obyek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.

Ditinjau dari segi ontologi, ilmu membatasi diri pada kajian yang bersifat empiris. Objek penelaah ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hal-hal yang sudah berada diluar jangkauan manusia tidak dibahas oleh ilmu karena tidak dapat dibuktikan secara metodologis dan empiris, sedangkan ilmu itu mempunyai ciri tersendiri yakni berorientasi pada dunia empiris (Amka: 2019).

Landasan ontologis atau sering juga disebut landasan metafisik merupakan landasan filsafat yang menunjuk pada keberadaan atau substansi sesuatu. Misalnya, pendidikan secara ilmiah ditujukan untuk mensistematisasikan konsep- konsep dan praktik pendidikan yang telah dikaji secara metodologis menjadi suatu bentuk pengetahuan tersendiri yang disebut Ilmu Pendidikan. Pengetahuan ilmiah mengenai pendidikan pada hakikatnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati mengenai manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, pandangan tentang alam semesta; tempat manusia hidup bersama, dan pandangan tentang Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta tersebut (Rukiyati: 2015).

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Disini bermakna bahwa adanya pendidikan bermaksud untuk mencapai tujuan, maka dengan ini tujuan menjadi hal penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat membawa anak menuju kepada kedewasaan, dewasa baik dari segi jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna ontologi dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan dimana sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu (Mubin: 2020).

2.                  Landasan Epistemologi Pendidikan

Epistemologi adalah cabang filsafat yang disebut juga teori mengetahui dan pengetahuan. Epistemologi sangat penting bagi para pendidik. Akinpelu (Dalam Rukayati: 2015) mengatakan bahwa area kajian epistemologi ada relevansinya dengan pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pencarian akan pengetahuan dan kebenaran adalah tugas utama baik dalam bidang filsafat/epistemologi maupun pendidikan. Sebagaimana dinyatakan oleh Dewey, hanya saja antara epistemologi dan pendidikan terdapat perbedaan dalam hal prosesnya. Pendidikan sebagai proses memusatkan perhatiannya pada penanaman pengetahuan oleh guru dan perolehannya oleh peserta didik, sedangkan epistemologi menggali lebih dalam sampai pada akarnya pengetahuan.

Guru-guru di dalam kelas memberikan berbagai jenis pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Akan baik bagi seorang guru mengetahui berbagai jenis pengetahuan yang diberikannya, apa sumber pengetahuan tersebut, dan bagaimana tingkat kepercayaan kita pada pengetahuan tersebut. Penting dan menjadi keharusan bagi guru untuk mengetahui jenis pengetahuan dalam disiplin ilmunya yang diberikan kepada murid-muridnya. Hal ini akan membantu guru untuk menyeleksi bahan ajar dan penekanannya pada materi tertentu dalam mengajar.

Epistemologi membahas konsep dasar dan sangat umum dari proses mengetahui, sehingga erat kaitannya dengan metode pengajaran dan pembelajaran. Banayak sekali kita dijumpai di lapangan bahwa terdapat guru atau pengajar yang memiliki prinsip dan keyakinan guru tersebut dalam menjalankan proses pembelajaranya disekolah masing-masing. Tentunya ini menjadi perhatian bahwa karakterstik atau kondisi baik tu satuan oendidikanya, siswanya, sarana prasaraa, letak geografis mnejadi dasar kenapa guru melaksanakan proses pembelajaran yang mereka yakini bahwa cara itu paling efektif untuk diterapkan.

Menurut (Rukayati: 2015) dapat diketahui bahwa dalam kegiatan pendidikan sangat erat dengan epistemologi karena pendidikan selalu berkaitan dengan pemberian pengetahuan oleh pendidik, dan penerimaannya, serta pengembangannya oleh peserta didik. Dalam setiap pengetahuan yang disampaikan oleh guru dengan berbagai disiplin ilmu masing-masing terdapat dasar epistemologinya sendiri-sendiri.

3.                  Landasan Aksiologis Pendidikan

Aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas teori-teori nilai dan berusaha menggambarkan apa yang dinamakan dengan kebaikan dan perilaku yang baik. Bagian dari aksiologi adalah etika dan estetika. Etika menunjuk pada kajian filsafati tentang nilai-nilai moral dan perilaku manusia. Estetika berkaitan dengan kajian nilai-nilai keindahan dan seni. Metafisika membahas tentang hakikat kenyataan terdalam, sedangkan aksiologi menunjuk pada preskripsi perilaku moral dan keindahan. Para pendidik selalu memperhatikan masalahmasalah yang berkaitan dengan pembentukan nilai-nilai dalam diri para subjek didik dan mendorong ke arah perilaku yang bernilai (Gutek dalam Rukayati: 2015).

Secara tidak langsung landasan aksiologis pendidikan tecermin di dalam perumusan tujuan pendidikan. Tatkala orang merancang pendidikan, maka ia harus memulainya dengan merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan pendidikan didasarkan oleh nilai-nilai yang diyakini yang berusaha untuk diwujudkan tindakan nyata. Hal itu dapat diartikan bahwa menurut Armstrong pendidikan harus dilandasi oleh nilai-nilai kehidupan yang bersifat holistik sehingga pendidikan yang ingin diwujudkan adalah pendidikan yang bersifat holistik pula.

Dalam konteks Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan tujuan pendidikan yang meliputi banyak aspek, baik individual maupun sosial, jasmaniah dan rohaniah. Tujuan pendidikan dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang bersifat holistik, yaitu nilainilai Pancasila. Di dalam pasal 3 UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia 31 yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jadi, ada nilai-nilai kehidupan yang berdimensi horizontal dan vertikal yang terkandung di dalam tujuan pendidikan tersebut.

Menurut Marsigit (2010) secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakekat karakter, implementasi dan contoh-contohnya; menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa maupun secara universal. Jika karakter dipandang sebagai nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting. (Rukayati: 2015) bahwa landasan aksiologis ilmu pendidikan adalah konsep nilai yang diyakini yang dijadikan landasan atau dasar dalam teori dan praktik pendidikan.

 

C.    KEBERADAAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Indonesia merupakan nagara yang besar baik dari segi wilayah, penduduk, kekayaan alam. Semua kekayaan itu seharusnya dikelola dengan baik oleh seluruh putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Untuk membentuk putra-putri terbaik tersebut maka pendidikan merupakan suatu upaya dan proses untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita mulia negara Indonesia. Negara bertujuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa, dan masyarakat merasa berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, oleh sebab itu tarik menarik antar kewajiban dan hak tersebt seharusnya dapat dijadikan modal yang kuat. Oleh sebab itu pendidikan merupakn solusi dalam menjelaskan dan memposisikan antara hak masyarakat dan kewajiban negara dalam pendidikan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan tentunya banyak sekali kendala atau permasalahan yang dihadapi. Indonesia yang memiliki wilayah geografis yang yang sangat luas dan bahkan dibeberapa wilayah harus melewati jalur perairan untuk menuju lokasi daerah tersebut. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah dalam mengupayakan penyelenggaraan pendidikan secara merata dan fairness. Tentunya akan timbul permasalahan yang semakin pelik dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia mulai dari pemerataan kurikulum, pemerataan guru, pemerataan fasilitas, pemerataan akses, pemerataan referensi, dalan lain sebagainya. Disinilah dibutuhkan alternatif-alternatif solusi untuk menjawab semua permasalahan yang dihadapi baik secara teoritis maupun secara praktis. Salah satunyanya yaitu melalui pamahaman filsafat bagi seluruh penyelenggara pendidikan.

Pendidikan dilakukan oleh manusia melalui kegiatan pembelajaran. Dalam praktik pendidikan yang universal banyak ditemukan beragam komunitas dari manusia yang memberikan makna yang beragam dari pendidikan. Di Indonesia pendidikan di tekankan pada penguasaan landasan terbentuknya masyarakat meritorik, artinya memberikan waktu jam pelajaran yang luas dalam penguasaan mata pelajaran tertentu (Azmi: 2018).

Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih mendalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman atau fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Tenaga pengajar atau guru harus dapat memamahi tentang filsafatndi pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan.

Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut suatu bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat itu sendiri. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dn mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku yang didasarkan pada prinsip-prinsip filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin upaya pendidikan dan proses tersebut efektif, dibutuhkan landasan-landasan filosofis.

Filsafat mengajarkan manusia, untuk berpikir secara holistik dengan menggunakan berbagai sudut pandang, sebelum akhirnya membuat suatu keputusan, ini berarti tanggung jawab merupakan suatu tanggung jawab dalam berfilsafat. Filsafat membantu menjamin agar tujuan selalu menentukan pilihan-pilihan sarana, mempertajam  dan menjelaskan seni, dan menumbuhkan keterampilan. Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan dalam diri peserta didik kebebasan sehingga membentuk subjek moral yang bertanggung jawab. Ilmu pengetahuan yang memungkinkan untuk menjelasakan, mengontrol, dan memprediksi tetap mendasarkan diri pada ideal moral untuk mendidik para individu yang berkarakter, mandiri dan mampu mengendalikan dirinya.

Menurut Harisah (2018) menjelaskan bahwa keberadaan filsafat dalam menjalankan system pendidikan di Indonesia menjadi penting sekali, sebab menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, pendidikan dan pengalaman manusia.

 

Penerapan Filsafat di Sekolah

Filsafat termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu.

Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik). Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.

Sesuai yang tercantum dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Usaha di sini berarti kegiatan atau perbuatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Sadar adalah insyaf, yakin, tahu, dan mengerti. Sedangkan terencana adalah menyusun sistem dengan landasan tertentu untuk kemudian dilaksanakan.

Perencanaan pendidikan secara sengaja dan sungguh-sungguh ini tentunya dilakukan oleh insan pendidikan yang mempunyai kewenangan dan tanggung jawab menyeluruh terhadap keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah. Selain itu penerapan filsafat pendidikan di dalamnya merupakan faktor yang ikut menentukan dan membantu para pelaku pendidikan tersebut.

Menurut Amka (2019) menjelaskan bahwa filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat diterapkan dalam penentuan kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran guru atau pendidik juga anak didiknya. Adanya berbagai aliran dalam filsafat pendidikan juga menyebabkan berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan guru dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Semuanya tergantung pada mazhab apa yang diterapkan atau dianut oleh para pelakunya. Hanya saja, dalam hal ini mereka dituntut untuk memiliki kurikulum yang relevan dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan dengan perkembangan jaman dan menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal.

Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan pendidikan tidak hanya terpaku pada salah satu pihak semata, melainkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya masing-masing dengan baik.


D.    STRUKTUR INOVASI DALAM FILSAFAT

Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat, 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Muntohar, 2010 mengartikan bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non-fisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung kepada Tuhan: atau sesuatu unsur yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita.

Spiritualitas merupakan puncak kesadaran ilahiah menurut Saifuddin Aman dalam Tren Spiritualitas Milenium Ketiga. Spiritualitas membuat kita mampu memberdayakan seluruh potensi yang diberikan Tuhan untuk melihat segala hal secara holistik sehingga kita mampu untuk menemukan hakikat (kesejatian) dari setiap fenomena yang kita alami. Dalam bahasa yang sedikit berbeda Syahirin Harahap dalam Membalikkan Jarum Hati mendeskipsikan mereka yang memiliki kesadaran atau kecerdasan spiritual sebagai orang-orang yang mampu mengarungi kehidupan dengan panduan hati nurani. Rohani, yang kuat karena bimbingan maksimal hati nurani tersebut, akan membuat orang lebih dinamis, kreatif, memiliki etos kerja tinggi, dan lebih peduli, serta lebih santun.

Menurut Marsigit (2007-2013) Memang secara ontologis agama dan filsafat berbeda. Agama seperti diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal dari Tuhan, sedangkan filsafat merupakan oleh pikir manusia. Agama diturunkan sebagai pedoman moral untuk manusia dengan cara memahami, menafsirkan dan mengamalkannya. Di sisi lain, filsafat merupakan olah pikir refleksif manusia sehingga memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan memahami dan menafsirkan butir-butir ajaran agama. Dengan demikian filsafat berfungsi sebagai supporting factor bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kualitas peribadatannya. Hirarkhi kemampuan manusia untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama tercermin dalam hypothetical-reflections  (Marsigit, 2007-2013) sbb:

“Setingg-tinggi ilmu dan pikiran (filsafat) tidaklah  mampu mengetahui segala seluk beluk hati (spiritual). Sehebat-hebat ucapan, tidaklah mampu mengucapkan semua yang dipikirkan. Sehebat-hebat tulisan, tidaklah mampu menulis semua ucapan. Sehebat-hebat perbuatan, tidaklah mampu melaksanakan semua tulisan. Maka janganlah kita mengandalkan hanya pikiran (filsafat) saja untuk memaknai spiritual (agama), melainkan bahwa gunakan dan jadikan hati kita masing-masing sebagai komandan dalam hidup kita. Sesungguhnya, di dalam hati itulah bernaung ilmu spiritualitas kita masing-masing.”

Kata filsafat yang dalam bahasa Arab ‘falsafah’ yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah ‘philosophy’, adalah berasal dari bahasa Yunani ‘philosophia’. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalamdalamnya. Seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582 – 496 SM).

Hakekat adalah suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala sesuatu. Ada merupakan implikasi dasar. Jadi segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti dia adalah ada. Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan keberadaan. Jadi filsafat membahas lapisan yang terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalah-masalah yang paling dasar. Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu obek/gejala secara mendalam. Sedangkan pada ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejala-gejala. Membicarakan gejala untuk masuk ke hakekat itulah dalam filsafat. Untuk sampai ke hakekat harus melalui suatu metode-metode yang khas dari filsafat. Kalau digambarkan dalam suatu bagan perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan empiris adalah :


 

Secara definitif, ideologi banyak ragamnya. Ideologi menurut The Advence Learner’s Dictionnary adalah suatu sistim dari pada idea-idea atau hasil pemikiran yang telah dirumuskan untuk teori politik atau ekonomi. Ideologi menurut The Wbster’s New Collegiate Dictionary adalah : 1. cara hidup (tingkah laku) atau hasil pemikiran yang menunjukkan sifat-sifat tertentu dari pada seorang individu atau sesuatu kelas; 2. Pola pikiran mengenai pengembangan pergerakan atau kebudayaan (Sukarna, 1981). Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) secara umum mengartikan ideologi adalah sekumpulan keyakinan-keyakinan, kepercayaankepercayaan, gagasan-gagasan yang menyangkut serta mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam pelbagai bidang kehidupan. Bidang kehidupan itu secara garis besar ada lima hal yaitu bidang politik (termasuk di dalamnya bidang pertahanan/keamanan), sosial, ekonomi, kebudayaan, dan keagamaan. Namun berbagai hal variasi definisi ideologi itu, yang jelas ideologi adalah hasil dari suatu kegiatan pemikiran.

Di dalam kegiatan pemikiran itu selalu menggunakan ratio. Immanuel Kant (1724-1804) seorang filosof Jerman mengemukakan bahwa ratio manusia itu di dalam kegiatan pemikirannya terbagi dua yaitu : Reinen Vernunft atau pure reason atau pikiran murni, dan practische Vernunft atau practical reason atau pikiran praktis. Pure reason dalam kegiatannya bersifat metaphysis yaitu keluar jagat raya sehingga sampai kepada Lex Devina yaitu Tuhan yang menciptakan alam semesta dan manusia. Sedangkan practical reason dalam kegiatannya bertalian dengan experience atau pengalaman di mana pengalaman itu tidak terlepas dari panca indera manusia. Dengan menggunakan teori Immanuel Kant itu maka dalam ideologi sebagai hasil pemikiran manusia dalam bidang kehidupannnya, tidak akan dapat lepas terhadap kepercayaan adanya yang Maha Ghaib, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan terlepas dari pengalaman-pengalaman yang telah dialami manusia pada masa silam dan masa sekarang. Sebenarnya sesuatu ideologi itu walaupun berasal dari pada hasil pemikiran seseorang atau lebih, pada kenyataannya tidak terlepas dari pada kenyataan yang hidup dalam masyarakat, bahkan pemikir itu tadi tidak akan dapat hidup dalam masyarakat. Jadi sesuatu pemikiran itu menunjukkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi masyarakat itu sendiri dipengaruhi oleh hasil pemikiran itu sendiri.

Ideologi sebagai suatu rangkaian kesatuan cita-cita yang mendasar dan menyeluruh dan yang mengkait menjadi suatu sistem pemikiran yang logis, adalah bersumber pada filsafat. Filsafat yang scara harafiah mengandung arti kegandrungan mencari hikmah kebenaran dan arif kebijaksanaan dalam hidup dan kehidupan selalu berusaha memperoleh suatu pandangan menyeluruh bersatu dari pada hakekat alam semesta raya, dimana manusia itu hidup. Dalam kaitannya dengan filsafat, Roeslan Abdulgani (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) berpendapat bahwa ideologi dapat dikatakan sebagai hasil filsafat yang sudah datang kepada kesimpulan, yang seakan-akan sudah tegak dan mantap dalam sikap dan pendirian hidupnya, dan yang tidak lagi terbang diawang renungan. Dalam bidang ilmu pengetahuan orang berbicara masalah ‘pemahaman’ maka di dalamnya mengandung sejumlah pengertian tertentu, yaitu : pemahaman dengan menggunakan akal budhi; pemahaman dengan menggunakan akal pikiran; pemahaman dengan menggunakan alat-alat inderawi sebagai sasarannya. Apabila orang hendak merubah bentuk pengertian pemahaman itu, menurut Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) tahapan berpikir secara esensial-kefilsafatan, tahapan berpikir secara eksistensial-positif, dan tahapan berpikir secara operasional pragmatic.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abbas Hamami M.,, 1976, Filsafat, Yayasan Pembinaan Fak. Filsafat UGM, Yogyakarta

Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Marsigit. 2013. Makalah : Pergulatan memperebutkan Filsafat, Ideologi dan Pardaigma. Yogyakarta

Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

FILSAFAT BILANGAN NOL

Oleh: Marsigit UNY
22 September 2017



Filsafat bilangan dapat ditelusuri dari pengalaman psikologis pemahaman objek matematika, diri kita masing masing sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.

Pemahaman atau pengertian awal matematika yang kita kenal sejak sedini mungkin, adalah pengertian intuitif matematika.

Pengertian atau konsep intuitif adalah lawan dari pengertian formal.

Pengertian intuitif ditandai dengan 5 sifat utama yaitu:

1. Tidak bisa diingat dimana kita mengetahui?

2. Tidak bisa diingat kapan kita mengetahui?

3. Tidak bisa diingat dari mana pengertian itu datang?

4. Tidak bisa diingat bagaimana kita bisa mengerti?

5. Tidak bisa diingat mengapa kita mengerti?

Contoh pengertian-pengertian intuitif, yaitu pengertian tentang:
besar, kecil, panjang, pendek, dekat, jauh, tinggi, rendah, senang, sedih, indah, sayang, cinta, sedikit, banyak, satu, dua, lima, sama, beda, gabung, pisah, nyaman, setia, bundar, lancip, miring, lurus, lebih, kurang, ... dst.

Anak kecil mengerti bilangan nol, satu, dua bukan dari definisi atau ilmu bilangan, tetapi dari hasil pengalamannya bergaul atau berinteraksi dengan orang tua, keluarga dan tetangga sekitar.

Kita mengerti bilangan satu, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telunjuk jari, kepala, hidung, matahari, Esanya Tuhan, dst.

Kita mengerti bilangan dua, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telinga, kaki, tangan, mata, orang tua, dst.

Kita mengerti bilangan lima, kebanyakan melalui peragaan telapak tangan dengan kelima jarinya, berapa kali salat wajib dalam sehari, dst.

Kita mengerti bilangan nol, bisa dari pengertian: tidak ada, tidak punya, kosong, tidak melakukan apa apa, dst.

Maka kita mengerti bilangan cacah di bawah bilangan sepuluh sebagai pengertian intuitif, dan belum atau bukan dari definisi atau operasi bilangan.

Itulah sebabnya pengetahuan intuitif sangat penting sebagai pondasi pengetahuan matematika selanjutnya.

Pengetahuan intuitif itulah yang selama ini kita abaikan.

Sebenar benar pengetahuan intuitif diperoleh dari PENGALAMAN diri siswa dari interaksinya dengan lingkungan KONGKRIT nya.

Oleh karena itu, pembelajaran matematika di kelas bawah (1, 2 dan 3) seyogyanya menggali dan mengembangkan pengetahuan intuitif. Dan hindari pemahaman matematika melalui definisi.

END

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar