A.
PENDAHULUAN
Filasafat adalah pemikiran secara sistematis dan universal
untuk mencapai hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Berpikir secara
sistematis dan universal tersebut adalah berpikir secara sungguh-sungguh dan
bertujun untuk mengetahui secara mendalam tentang segala sesuatu yang
dipikirkan ini berarti ingin mencari hakikat kebenaran sesuatu. Oleh karena itu
tujuan filsafat sesungguhnya adalah mencapai kebenaran yang hakiki. Tujuan
mencari kebenaran ini merupakan keharusahan bagi para filsuf. Kebenaran ini akan
mempengaruhi tindakan, keyakinan sehingga akan membentuk sikap seseorang.
Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan
aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan :
1.
Ontologi
membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat
segala sesuatu.
2.
Epistimologi
membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.
3.
Aksiologi
membicarakan guna pengetahuan itu.
Ontologi mencakup banyak
sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk disini, misalnya Logika,
Metafisika, Kosmologi, Teologi, Antropologi, Etika, Estetika, Filsafat
Pendidikan, Filsafat Hukum dan lain-lain.
Epistimologi hanya
mencakup satu bidang saja yang disebut epistimologi yang membicarakan cara
memperoleh pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi setiap cabang filsafat.
Sedangkan Aksiologi hanya mencakup satu bidang filsafat yaitu aksiologi yang
membicarakan guna pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi semua cabang filsafat.
Inilah kerangka struktur filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang
logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat
itu ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis berarti benar dan bila
tidak logis berarti salah. Ada hal yang patut diingat. Kita tidak boleh menuntut
bukti empiris untuk membuktukan kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat ialah
pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Bila logis dan tidak empiris itu
adalah pengetahuan sains. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis dan
tidaknya teori itu. Ukuran logis dan tidaknya tersebut akan terlihat pada
argumen yang menghasilkan kesimpulan teori itu.
Ontologi filsafat
membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya.
Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini
ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu.
Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian.
Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini.
Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika
filsafat.
Di dalam pemahaman
ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnostisisme. Epistimologi filsafat
membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara
memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat.
Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of
knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”.
Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih
rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang
mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure,
metode, dan validitas pengetahuan. Pengetahuan di dapatkan dari pengamatan.
Di dalam pengamatan
indrawi tidak dapat di tetapkan apa yang subjektif dan apa yang objektif. Jika
kesan–kesan subjektif di anggap sebagai kebenaran, hal itu mengakibatkan adanya
gambaran–gambaran yang kacau di dalam imajinasi. Segala pengetahuan di mulai
dengan gambaran–gambaran indrawi. Gambaran–gambaran itu kemudian di tingkatkan
sampai kepada tingkatan–tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional
dan pengetahuan intuitif. Di dalam pengetahuan rasional orang hanya mengambil
kesimpulan–kesimpulan, tetapi di dalam pengetahuan intuitif orang memandang
kepada idea–idea yang berkaitan dengan Allah. Disini orang di masukkan ke dalam
keharusan ilahi yang kekal. Demikian menurut Baruch Spinoza sebagai salah
seorang tokoh Resiesinalisme. Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai
methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan
masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia ( world view). Dalam hidup
kita banyak menghadapi masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan lebih
enak jika masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan
masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Sesuai dengan sifatnya,
filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian
filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal
artinya filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar
nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.
Filsafat
jika ditinjau lebih mendalam lagi bukan sekedar ilmu logika yang lebih
mengedepankan rasionalitas, karena filsafat merupakan pondasi awal dari segala
macam disiplin keilmuan yang ada. Sedangkan ilmu merupakan suatu cabang
pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat dari waktu ke waktu. Hampir
seluruh aspek kehidupan manusia menggunakan ilmu seperti agama, ekonomi,
sosial, budaya, teknologi, dan lain sebagainya.
Filsafat
yang mengedepankan eksplorasi logika yang insyaf, radikal dan bebas ternyata
tidak selamanya mampu memberikan solusi terbaik kepada manusia. Filsafat dari
waktu ke waktu tidak pernah mengalami kemajuan (passif). filusuf hanya bisa
berfikir tanpa bisa mengekspresikan hasil pemikirannya dalam bentuk yang lebih
praktis. inilah yang membingungkan. Maka lahirlah Ilmu (sains) yang menjadi
cabang atau pemekaran dari filsafat itu sendiri yang tidak hanya mengandalkan
kekuatan logika semata, tetapi sudah berupaya menjabarkan dengan bukti2 empiris
dan rasional melalui riset-riset atau uji coba yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Namun lagi-lagi hal itu tidak cukup untuk menjawab dan
menyelesaikan problematika kehidupan karena kerapkali dijumpai teori (ilmu)
yang tidak sesuai dengan realita, pun sebaliknya, realita tidak selamanya harus
dibarengi dengan teori. Oleh karena itu manusia terus mencari solusi guna
menjawab tantangan-tantangan tersebut, yaitu dengan agama.
Agama lahir sebagai pedoman dan panduan bagi kehidupan manusia. Agama lahir tidak dengan rasio, riset, dan uji coba belaka melainkan lahir dari proses penciptaan dzat yang berada di luar jangkauan akal manusia dan penelitian pada objek-objek tertentu. Agama menjadi titik akhir dari suatu perjalanan jauh manusia dalam mencari kepuasan hidup yang tidak bisa didapatkan dalam filsafat dan sains (ilmu).
Permainan
kata-kata atau kalimat berikut diharapkan dapat memberi gambaran selintas
tentang filsafat (Marsigit, 2013):
“Filsafat adalah olah pikir refleksif. Obyek material filsafat adalah obyek kajiannya, sedangkan obyek formal filsafat adalah metodenya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Metode untuk mempelajari filsafat beraneka ragam, tetapi yang menonjol adalah hermeneutika. Alat yang digunakan untuk mempelajari filsafat adalah bahasa analog. Namun secara ontologis tidak ada batasan filsafat yang paling baik, karena definisi dan penjelasan filsafat tergantung kepada filsuf dan konteks budayanya. Tetapi disepakati bahwa dalam filsafat paling tidak terdapat 3 pilar utama yaitu ontology, epistemology dan aksiologi. Perbedaan filsafat adalah perbedaan pemikiran filsufnya. Perbedaan pemikiran filsuf adalah perbedaan obyek dan metodenya. Aliran filsafat adalah pengaruh pemikiran filsufnya. Dan karakteristik atau ciri filsafat adalah penjelasannya. Implementasi filsafat adalah di luar jangkauannya. Tidak setuju atau menolak filsafat adalah berfilsafat pula. Makro filsafat adalah dunianya. Mikro filsafat adalah subyek diri. Tiadalah sebenar-benar ada seorang filsuf, karena tidak ada seorang filsufpun yang mengaku sebagai filsuf. Karakter tertinggi dalam filsafat adalah karakter Socrates karena pengakuannya yang tidap dapat mengerti apapun. Struktur filsafat yang aku kehendaki adalah hirarkhi berdimensi: material, folmal, normatif dan spiritual. Filsafat dimulai dari pertanyaan dan diakhiri pula dengan pertanyaan. Kesimpulan pertanda belum berfilsafat. Awal dari filsafat adalah kesadaran, dan akhir dari filsafat adalah mitos. Adab berfilsafat adalah tata-cara berfilsafat; dan tata cara berfilsafat adalah filsafat itu sendiri. Kesimpulan berfilsafat adalah bahwa ternyata filsafat adalah diriku sendiri. Ternyata aku tidak dapat menemukan diriku sendiri, padahal aku tahu bahwa diriku adalah sifat-sifatku. Maka diriku bisa pikiranku bisa pula doaku. Kebenaran adalah diriku yang tertutup, sedangkan diriku yang terbuka adalah ilmuku. Ternyata aku menemukan bahwa diriku tidak sama dengan diriku, dikarenakan bujuk dan rayuan ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu adalah intuisiku, yaitu intuisi pikiran dan intuisi pengalamanku. Diriku tidak sama dengan diriku adalah kontradiksi karena itu adalah pengalaman menemukan diriku. Sedangkan diriku adalah diriku adalah identitas jika dia masih berada di dalam pikiranku, tetapi serta merta akan menjadi salah jika aku ucapkan atau aku tuliskan. Setinggi-tinggi tujuanku berfilsafat adalah sekedar menjadi saksi. Saksi adalah kuasa menyaksikan dan mengalami. Kuasa itu adalah diriku. Padahal diriku bisa apa saja (op maaf). Kemarin saya otoritarianisme sedangkan sekarang saya demokratis; kemarin saya Platonist sedang sekarang saya Aristotelianis; kemarin saya Pragmatis sedangkan sekarang saya Idealist, dst. Itulah bukti bahwa diriku adalah filsafat. Demikian juga engkau muridku adalah juga filsafat, bedanya mungkin engkau belum menyadarinya.
B.
LANDASAN
FILOSOFI DALAM PENDIDIKAN
Filsafat
pendidikan berusaha menjelaskan banyak makna yang berbeda yang berhubungan
dengan istilah-istilah yang banyak digunakan dalam lapangan pendidikan seperti
kebebasan, penyesuaian, pertumbuhan, pengalaman, kebutuhan, dan pengetahuan.
Penjernihan istilah-istilah akan sampai pada hal-hal yang bersifat hakiki, maka
kajian filsafat tentang pendidikan akan ditelaah oleh cabang filsafat yang
bernama metafisika atau ontologi. Ontologi menjadi salah satu landasan dalam
filsafat pendidikan. Selain itu, kajian pendidikan secara filsafati memerlukan
pula landasan epistemologis dan landasan aksiologis (Rukiyati: 2015).
1.
Landasan Ontologi Pendidikan
Ontologi merupakan
bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari metafisika, dan
metafisika merupakan salah satu bab dari filsafat. Obyek telaah ontologi adalah
yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang
yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap
kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.
Ditinjau dari segi
ontologi, ilmu membatasi diri pada kajian yang bersifat empiris. Objek penelaah
ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera
manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hal-hal yang sudah berada
diluar jangkauan manusia tidak dibahas oleh ilmu karena tidak dapat dibuktikan
secara metodologis dan empiris, sedangkan ilmu itu mempunyai ciri tersendiri
yakni berorientasi pada dunia empiris (Amka: 2019).
Landasan ontologis
atau sering juga disebut landasan metafisik merupakan landasan filsafat yang
menunjuk pada keberadaan atau substansi sesuatu. Misalnya, pendidikan secara
ilmiah ditujukan untuk mensistematisasikan konsep- konsep dan praktik
pendidikan yang telah dikaji secara metodologis menjadi suatu bentuk
pengetahuan tersendiri yang disebut Ilmu Pendidikan. Pengetahuan ilmiah
mengenai pendidikan pada hakikatnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati
mengenai manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, pandangan tentang alam
semesta; tempat manusia hidup bersama, dan pandangan tentang Tuhan sebagai
pencipta manusia dan alam semesta tersebut (Rukiyati: 2015).
Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Disini bermakna bahwa adanya
pendidikan bermaksud untuk mencapai tujuan, maka dengan ini tujuan menjadi hal
penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa
pendidikan dapat membawa anak menuju kepada kedewasaan, dewasa baik dari segi
jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna ontologi
dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu
pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari
mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu.
Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan dimana sisi yang
mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi hubungan ontologi dengan
pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana
disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu (Mubin: 2020).
2.
Landasan Epistemologi Pendidikan
Epistemologi
adalah cabang filsafat yang disebut juga teori mengetahui dan pengetahuan.
Epistemologi sangat penting bagi para pendidik. Akinpelu (Dalam Rukayati: 2015)
mengatakan bahwa area kajian epistemologi ada relevansinya dengan pendidikan,
khususnya untuk kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pencarian akan
pengetahuan dan kebenaran adalah tugas utama baik dalam bidang
filsafat/epistemologi maupun pendidikan. Sebagaimana dinyatakan oleh Dewey,
hanya saja antara epistemologi dan pendidikan terdapat perbedaan dalam hal
prosesnya. Pendidikan sebagai proses memusatkan perhatiannya pada penanaman
pengetahuan oleh guru dan perolehannya oleh peserta didik, sedangkan
epistemologi menggali lebih dalam sampai pada akarnya pengetahuan.
Guru-guru di dalam
kelas memberikan berbagai jenis pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmunya
masing-masing. Akan baik bagi seorang guru mengetahui berbagai jenis
pengetahuan yang diberikannya, apa sumber pengetahuan tersebut, dan bagaimana
tingkat kepercayaan kita pada pengetahuan tersebut. Penting dan menjadi
keharusan bagi guru untuk mengetahui jenis pengetahuan dalam disiplin ilmunya
yang diberikan kepada murid-muridnya. Hal ini akan membantu guru untuk
menyeleksi bahan ajar dan penekanannya pada materi tertentu dalam mengajar.
Epistemologi
membahas konsep dasar dan sangat umum dari proses mengetahui, sehingga erat
kaitannya dengan metode pengajaran dan pembelajaran. Banayak sekali kita
dijumpai di lapangan bahwa terdapat guru atau pengajar yang memiliki prinsip
dan keyakinan guru tersebut dalam menjalankan proses pembelajaranya disekolah
masing-masing. Tentunya ini menjadi perhatian bahwa karakterstik atau kondisi
baik tu satuan oendidikanya, siswanya, sarana prasaraa, letak geografis mnejadi
dasar kenapa guru melaksanakan proses pembelajaran yang mereka yakini bahwa
cara itu paling efektif untuk diterapkan.
Menurut (Rukayati:
2015) dapat diketahui bahwa dalam kegiatan pendidikan sangat erat dengan
epistemologi karena pendidikan selalu berkaitan dengan pemberian pengetahuan
oleh pendidik, dan penerimaannya, serta pengembangannya oleh peserta didik.
Dalam setiap pengetahuan yang disampaikan oleh guru dengan berbagai disiplin
ilmu masing-masing terdapat dasar epistemologinya sendiri-sendiri.
3.
Landasan Aksiologis Pendidikan
Aksiologi
merupakan cabang filsafat yang membahas teori-teori nilai dan berusaha
menggambarkan apa yang dinamakan dengan kebaikan dan perilaku yang baik. Bagian
dari aksiologi adalah etika dan estetika. Etika menunjuk pada kajian filsafati
tentang nilai-nilai moral dan perilaku manusia. Estetika berkaitan dengan kajian
nilai-nilai keindahan dan seni. Metafisika membahas tentang hakikat kenyataan
terdalam, sedangkan aksiologi menunjuk pada preskripsi perilaku moral dan
keindahan. Para pendidik selalu memperhatikan masalahmasalah yang berkaitan
dengan pembentukan nilai-nilai dalam diri para subjek didik dan mendorong ke
arah perilaku yang bernilai (Gutek dalam Rukayati: 2015).
Secara tidak
langsung landasan aksiologis pendidikan tecermin di dalam perumusan tujuan
pendidikan. Tatkala orang merancang pendidikan, maka ia harus memulainya dengan
merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan pendidikan didasarkan oleh
nilai-nilai yang diyakini yang berusaha untuk diwujudkan tindakan nyata. Hal
itu dapat diartikan bahwa menurut Armstrong pendidikan harus dilandasi oleh
nilai-nilai kehidupan yang bersifat holistik sehingga pendidikan yang ingin
diwujudkan adalah pendidikan yang bersifat holistik pula.
Dalam konteks
Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
mengamanatkan tujuan pendidikan yang meliputi banyak aspek, baik individual
maupun sosial, jasmaniah dan rohaniah. Tujuan pendidikan dilandasi oleh
nilai-nilai filosofis yang bersifat holistik, yaitu nilainilai Pancasila. Di
dalam pasal 3 UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia 31 yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Jadi, ada nilai-nilai kehidupan yang berdimensi horizontal dan vertikal yang
terkandung di dalam tujuan pendidikan tersebut.
Menurut Marsigit
(2010) secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakekat
karakter, implementasi dan contoh-contohnya; menjelaskan sumber-sumber
pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan
dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi,
kelompok, berbangsa maupun secara universal. Jika karakter dipandang sebagai
nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang
dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting. (Rukayati: 2015)
bahwa landasan aksiologis ilmu pendidikan adalah konsep nilai yang diyakini yang
dijadikan landasan atau dasar dalam teori dan praktik pendidikan.
C.
KEBERADAAN
FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Indonesia merupakan nagara yang besar baik
dari segi wilayah, penduduk, kekayaan alam. Semua kekayaan itu seharusnya
dikelola dengan baik oleh seluruh putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Untuk
membentuk putra-putri terbaik tersebut maka pendidikan merupakan suatu upaya
dan proses untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita mulia negara Indonesia. Negara
bertujuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa, dan masyarakat merasa berhak
untuk mendapatkan pendidikan yang layak, oleh sebab itu tarik menarik antar
kewajiban dan hak tersebt seharusnya dapat dijadikan modal yang kuat. Oleh
sebab itu pendidikan merupakn solusi dalam menjelaskan dan memposisikan antara
hak masyarakat dan kewajiban negara dalam pendidikan.
Dalam
penyelenggaraan pendidikan tentunya banyak sekali kendala atau permasalahan
yang dihadapi. Indonesia yang memiliki wilayah geografis yang yang sangat luas
dan bahkan dibeberapa wilayah harus melewati jalur perairan untuk menuju lokasi
daerah tersebut. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah dalam
mengupayakan penyelenggaraan pendidikan secara merata dan fairness. Tentunya
akan timbul permasalahan yang semakin pelik dalam pelaksanaan pendidikan di
Indonesia mulai dari pemerataan kurikulum, pemerataan guru, pemerataan
fasilitas, pemerataan akses, pemerataan referensi, dalan lain sebagainya.
Disinilah dibutuhkan alternatif-alternatif solusi untuk menjawab semua
permasalahan yang dihadapi baik secara teoritis maupun secara praktis. Salah
satunyanya yaitu melalui pamahaman filsafat bagi seluruh penyelenggara
pendidikan.
Pendidikan
dilakukan oleh manusia melalui kegiatan pembelajaran. Dalam praktik pendidikan
yang universal banyak ditemukan beragam komunitas dari manusia yang memberikan
makna yang beragam dari pendidikan. Di Indonesia pendidikan di tekankan pada
penguasaan landasan terbentuknya masyarakat meritorik, artinya memberikan waktu
jam pelajaran yang luas dalam penguasaan mata pelajaran tertentu (Azmi: 2018).
Pendidikan
membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut
pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang
lebih luas, lebih mendalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi
pengalaman atau fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau
oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai
pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Tenaga pengajar
atau guru harus dapat memamahi tentang filsafatndi pendidikan, karena tujuan
pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan
individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan.
Filsafat
yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas
dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk
aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan
filsafat yang dianut suatu bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara
atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat itu
sendiri. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dn
mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku yang didasarkan pada
prinsip-prinsip filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik
dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin upaya pendidikan dan proses tersebut
efektif, dibutuhkan landasan-landasan filosofis.
Filsafat
mengajarkan manusia, untuk berpikir secara holistik dengan menggunakan berbagai
sudut pandang, sebelum akhirnya membuat suatu keputusan, ini berarti tanggung
jawab merupakan suatu tanggung jawab dalam berfilsafat. Filsafat membantu
menjamin agar tujuan selalu menentukan pilihan-pilihan sarana, mempertajam dan menjelaskan seni, dan menumbuhkan
keterampilan. Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan dalam diri peserta
didik kebebasan sehingga membentuk subjek moral yang bertanggung jawab. Ilmu
pengetahuan yang memungkinkan untuk menjelasakan, mengontrol, dan memprediksi
tetap mendasarkan diri pada ideal moral untuk mendidik para individu yang
berkarakter, mandiri dan mampu mengendalikan dirinya.
Menurut
Harisah (2018) menjelaskan bahwa keberadaan filsafat dalam menjalankan system
pendidikan di Indonesia menjadi penting sekali, sebab menjadi dasar, arah dan
pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran
teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses
pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan
tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat,
pendidikan dan pengalaman manusia.
Penerapan
Filsafat di Sekolah
Filsafat termasuk
juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan
arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau
paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu
filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk
dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data
kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu.
Analisa filsafat
berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan
tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori
pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan
(paedagogik). Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan
yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut
pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan
nyata. Artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan
yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan
sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam
masyarakat.
Sesuai yang
tercantum dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Usaha di
sini berarti kegiatan atau perbuatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau
badan untuk mencapai suatu maksud. Sadar adalah insyaf, yakin, tahu, dan
mengerti. Sedangkan terencana adalah menyusun sistem dengan landasan tertentu
untuk kemudian dilaksanakan.
Perencanaan pendidikan
secara sengaja dan sungguh-sungguh ini tentunya dilakukan oleh insan pendidikan
yang mempunyai kewenangan dan tanggung jawab menyeluruh terhadap keberhasilan
pelaksanaan proses pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah. Selain itu
penerapan filsafat pendidikan di dalamnya merupakan faktor yang ikut menentukan
dan membantu para pelaku pendidikan tersebut.
Menurut Amka
(2019) menjelaskan bahwa filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat
diterapkan dalam penentuan kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran
guru atau pendidik juga anak didiknya. Adanya berbagai aliran dalam filsafat
pendidikan juga menyebabkan berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta
kedudukan guru dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Semuanya
tergantung pada mazhab apa yang diterapkan atau dianut oleh para pelakunya.
Hanya saja, dalam hal ini mereka dituntut untuk memiliki kurikulum yang relevan
dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan dengan perkembangan jaman dan
menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal.
Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan pendidikan tidak hanya terpaku pada salah satu pihak semata, melainkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya masing-masing dengan baik.
D.
STRUKTUR INOVASI DALAM FILSAFAT
Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat, 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Muntohar, 2010 mengartikan
bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral
dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan.
Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non-fisik yang lebih
besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita
langsung kepada Tuhan: atau sesuatu unsur yang kita namakan sebagai sumber
keberadaan kita.
Spiritualitas
merupakan puncak kesadaran ilahiah menurut Saifuddin Aman dalam Tren
Spiritualitas Milenium Ketiga. Spiritualitas membuat kita mampu memberdayakan
seluruh potensi yang diberikan Tuhan untuk melihat segala hal secara holistik
sehingga kita mampu untuk menemukan hakikat (kesejatian) dari setiap fenomena
yang kita alami. Dalam bahasa yang sedikit berbeda Syahirin Harahap dalam
Membalikkan Jarum Hati mendeskipsikan mereka yang memiliki kesadaran atau
kecerdasan spiritual sebagai orang-orang yang mampu mengarungi kehidupan dengan
panduan hati nurani. Rohani, yang kuat karena bimbingan maksimal hati nurani
tersebut, akan membuat orang lebih dinamis, kreatif, memiliki etos kerja
tinggi, dan lebih peduli, serta lebih santun.
Menurut Marsigit
(2007-2013) Memang secara ontologis agama dan filsafat berbeda. Agama seperti
diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal dari Tuhan, sedangkan filsafat
merupakan oleh pikir manusia. Agama diturunkan sebagai pedoman moral untuk
manusia dengan cara memahami, menafsirkan dan mengamalkannya. Di sisi lain,
filsafat merupakan olah pikir refleksif manusia sehingga memungkinkan untuk
mengembangkan kemampuan memahami dan menafsirkan butir-butir ajaran agama.
Dengan demikian filsafat berfungsi sebagai supporting
factor bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kualitas peribadatannya.
Hirarkhi kemampuan manusia untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran
agama tercermin dalam hypothetical-reflections
(Marsigit, 2007-2013) sbb:
“Setingg-tinggi ilmu dan
pikiran (filsafat) tidaklah mampu
mengetahui segala seluk beluk hati (spiritual). Sehebat-hebat ucapan, tidaklah
mampu mengucapkan semua yang dipikirkan. Sehebat-hebat tulisan, tidaklah mampu menulis
semua ucapan. Sehebat-hebat perbuatan, tidaklah mampu melaksanakan semua
tulisan. Maka janganlah kita mengandalkan hanya pikiran (filsafat) saja untuk
memaknai spiritual (agama), melainkan bahwa gunakan dan jadikan hati kita
masing-masing sebagai komandan dalam hidup kita. Sesungguhnya, di dalam hati
itulah bernaung ilmu spiritualitas kita masing-masing.”
Kata filsafat yang
dalam bahasa Arab ‘falsafah’ yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
‘philosophy’, adalah berasal dari bahasa Yunani ‘philosophia’. Kata philosophia
terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti
kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta
kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalamdalamnya. Seorang filsuf
adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan
oleh Pythagoras (582 – 496 SM).
Hakekat adalah
suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu. Filsafat adalah usaha
untuk mengetahui segala sesuatu. Ada merupakan implikasi dasar. Jadi segala
sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti dia adalah ada. Filsafat
mempunyai tujuan untuk membicarakan keberadaan. Jadi filsafat membahas lapisan
yang terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalah-masalah yang paling
dasar. Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu obek/gejala secara
mendalam. Sedangkan pada ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejala-gejala.
Membicarakan gejala untuk masuk ke hakekat itulah dalam filsafat. Untuk sampai
ke hakekat harus melalui suatu metode-metode yang khas dari filsafat. Kalau
digambarkan dalam suatu bagan perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan
empiris adalah :
Secara
definitif, ideologi banyak ragamnya. Ideologi menurut The Advence Learner’s
Dictionnary adalah suatu sistim dari pada idea-idea atau hasil pemikiran yang
telah dirumuskan untuk teori politik atau ekonomi. Ideologi menurut The
Wbster’s New Collegiate Dictionary adalah : 1. cara hidup (tingkah laku) atau
hasil pemikiran yang menunjukkan sifat-sifat tertentu dari pada seorang
individu atau sesuatu kelas; 2. Pola pikiran mengenai pengembangan pergerakan
atau kebudayaan (Sukarna, 1981). Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet
Sutrisno (1986) secara umum mengartikan ideologi adalah sekumpulan
keyakinan-keyakinan, kepercayaankepercayaan, gagasan-gagasan yang menyangkut
serta mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam pelbagai bidang
kehidupan. Bidang kehidupan itu secara garis besar ada lima hal yaitu bidang
politik (termasuk di dalamnya bidang pertahanan/keamanan), sosial, ekonomi,
kebudayaan, dan keagamaan. Namun berbagai hal variasi definisi ideologi itu,
yang jelas ideologi adalah hasil dari suatu kegiatan pemikiran.
Di
dalam kegiatan pemikiran itu selalu menggunakan ratio. Immanuel Kant
(1724-1804) seorang filosof Jerman mengemukakan bahwa ratio manusia itu di
dalam kegiatan pemikirannya terbagi dua yaitu : Reinen Vernunft atau pure
reason atau pikiran murni, dan practische Vernunft atau practical reason atau pikiran
praktis. Pure reason dalam kegiatannya bersifat metaphysis yaitu keluar jagat
raya sehingga sampai kepada Lex Devina yaitu Tuhan yang menciptakan alam
semesta dan manusia. Sedangkan practical reason dalam kegiatannya bertalian
dengan experience atau pengalaman di mana pengalaman itu tidak terlepas dari
panca indera manusia. Dengan menggunakan teori Immanuel Kant itu maka dalam
ideologi sebagai hasil pemikiran manusia dalam bidang kehidupannnya, tidak akan
dapat lepas terhadap kepercayaan adanya yang Maha Ghaib, yaitu Tuhan yang Maha
Esa dan terlepas dari pengalaman-pengalaman yang telah dialami manusia pada
masa silam dan masa sekarang. Sebenarnya sesuatu ideologi itu walaupun berasal
dari pada hasil pemikiran seseorang atau lebih, pada kenyataannya tidak
terlepas dari pada kenyataan yang hidup dalam masyarakat, bahkan pemikir itu
tadi tidak akan dapat hidup dalam masyarakat. Jadi sesuatu pemikiran itu
menunjukkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi masyarakat itu
sendiri dipengaruhi oleh hasil pemikiran itu sendiri.
Ideologi
sebagai suatu rangkaian kesatuan cita-cita yang mendasar dan menyeluruh dan
yang mengkait menjadi suatu sistem pemikiran yang logis, adalah bersumber pada
filsafat. Filsafat yang scara harafiah mengandung arti kegandrungan mencari
hikmah kebenaran dan arif kebijaksanaan dalam hidup dan kehidupan selalu
berusaha memperoleh suatu pandangan menyeluruh bersatu dari pada hakekat alam
semesta raya, dimana manusia itu hidup. Dalam kaitannya dengan filsafat,
Roeslan Abdulgani (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) berpendapat bahwa
ideologi dapat dikatakan sebagai hasil filsafat yang sudah datang kepada
kesimpulan, yang seakan-akan sudah tegak dan mantap dalam sikap dan pendirian
hidupnya, dan yang tidak lagi terbang diawang renungan. Dalam bidang ilmu
pengetahuan orang berbicara masalah ‘pemahaman’ maka di dalamnya mengandung
sejumlah pengertian tertentu, yaitu : pemahaman dengan menggunakan akal budhi;
pemahaman dengan menggunakan akal pikiran; pemahaman dengan menggunakan
alat-alat inderawi sebagai sasarannya. Apabila orang hendak merubah bentuk
pengertian pemahaman itu, menurut Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet
Sutrisno (1986) tahapan berpikir secara esensial-kefilsafatan, tahapan berpikir
secara eksistensial-positif, dan tahapan berpikir secara operasional pragmatic.
DAFTAR
PUSTAKA
Abbas Hamami M.,, 1976, Filsafat, Yayasan Pembinaan
Fak. Filsafat UGM, Yogyakarta
Bakhtiar, Amsal.
2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Marsigit. 2013. Makalah : Pergulatan
memperebutkan Filsafat, Ideologi dan Pardaigma. Yogyakarta
Sudarsono. 2008. Ilmu
Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.
Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat
Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
LAMPIRAN
FILSAFAT BILANGAN NOL
Oleh: Marsigit UNY
22 September 2017
Filsafat bilangan dapat ditelusuri dari pengalaman psikologis pemahaman objek
matematika, diri kita masing masing sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.
Pemahaman atau pengertian awal matematika yang kita kenal sejak sedini mungkin,
adalah pengertian intuitif matematika.
Pengertian atau konsep intuitif adalah lawan dari pengertian formal.
Pengertian intuitif ditandai dengan 5 sifat utama yaitu:
1. Tidak bisa diingat dimana kita mengetahui?
2. Tidak bisa diingat kapan kita mengetahui?
3. Tidak bisa diingat dari mana pengertian itu datang?
4. Tidak bisa diingat bagaimana kita bisa mengerti?
5. Tidak bisa diingat mengapa kita mengerti?
Contoh pengertian-pengertian intuitif, yaitu pengertian tentang:
besar, kecil, panjang, pendek, dekat, jauh, tinggi, rendah, senang, sedih,
indah, sayang, cinta, sedikit, banyak, satu, dua, lima, sama, beda, gabung,
pisah, nyaman, setia, bundar, lancip, miring, lurus, lebih, kurang, ... dst.
Anak kecil mengerti bilangan nol, satu, dua bukan dari definisi atau ilmu
bilangan, tetapi dari hasil pengalamannya bergaul atau berinteraksi dengan
orang tua, keluarga dan tetangga sekitar.
Kita mengerti bilangan satu, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telunjuk jari, kepala, hidung, matahari, Esanya Tuhan, dst.
Kita mengerti bilangan dua, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telinga, kaki, tangan, mata, orang tua, dst.
Kita mengerti bilangan lima, kebanyakan melalui peragaan telapak tangan dengan
kelima jarinya, berapa kali salat wajib dalam sehari, dst.
Kita mengerti bilangan nol, bisa dari pengertian: tidak ada, tidak punya,
kosong, tidak melakukan apa apa, dst.
Maka kita mengerti bilangan cacah di bawah bilangan sepuluh sebagai pengertian
intuitif, dan belum atau bukan dari definisi atau operasi bilangan.
Itulah sebabnya pengetahuan intuitif sangat penting sebagai pondasi pengetahuan
matematika selanjutnya.
Pengetahuan intuitif itulah yang selama ini kita abaikan.
Sebenar benar pengetahuan intuitif diperoleh dari PENGALAMAN diri siswa dari
interaksinya dengan lingkungan KONGKRIT nya.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika di kelas bawah (1, 2 dan 3) seyogyanya
menggali dan mengembangkan pengetahuan intuitif. Dan hindari pemahaman
matematika melalui definisi.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar