Senin, 20 Desember 2021

PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

A.    PENDAHULUAN

Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. An innovation is an idea for accomplishing some recognition social and in a new way or for a means of accomplishing some social (Donald P. Ely 1982, Seminar on Educational Change). An innovation is any idea, practice, or mate artifact perceived to be new by the relevant unit of adopt. The innovation is the change object. A change is the altera in the structure of a system that requires or could be required relearning on the part of the actor (s) in response to a situation. The requirements of the situation often involve a res to a new requirement is an inventive process producing an invention. However, all innovations, since not everything an individual or formal or informal group adopt is perceived as new. (Zaltman, Duncan, 1977:12).

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada dua istilah yaitu invention dan discovery. Invention adalah merupakan penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya merupakan hasil karya manuasia. Sedangkan discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Proses dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah 1992:77).

Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang baru yaitu: Pertama "top-down model" yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Kedua "bottom-up model" yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Disamping kedua model yang umum tersebut di atas, ada hal lain yang muncul tatkala membicarakan inovasi pendidikan yaitu: a) kendala-kendala, termasuk resistensi dari pihak pelaksana inovasi seperti guru, siswa, masyarakat dan sebagainya, b). faktor-faktor seperti guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan dana c). lingkup sosial masyarakat.

Ada inovasi yang juga dilakukan oleh guru-guru, yang disebut dengan "Bottom-Up Innovation". Model yang kedua ini jarang dilakukan di Indonesia selama ini karena sitem pendidikan yang sentralistis. Pembahasan tentang model inovasi seperti model "Top-Down" dan "Bottom-Up" telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar. White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek yang bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi, karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya. Kennedy (1987:163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif).

Dalam makalah ini akan dijelaskan pengembangan evaluasi dalam inovasi Pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya di bandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Sesuai pendapat Grondlund (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secara sistematik untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk mengambil suatu keputusan. Evaluasi pemebelajaran dilakukan dengan menganut prinsip : menyeluruh, kontinu, berorientasi pada kompetensi, valid, objektif,/adil, terbuka, bermakna, mendidik, memotivasi, akuntabel. 

Tujuan dari evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini dilakukan oleh semua orang yang bersangkutan, bukan hanya guru melainkan juga siswa itu sendiri. Sehingga, dari hasil evaluasi, guru dapat mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menguasai pelajaran, serta mengetahui dimana kesulitan siswa dalam proses pembelajaran agar dapat dijadikan sebagai bahan perbaiakan dan pengembangan program pembelajaran.

Model-model Evaluasi Pada tahun 1949, Tyler pernah mengemukakan model evaluasi black box. Model ini banyak digunakan oleh orang-orang yang melakukan kegiatan evaluasi. Studi tentang evaluasi belum begitu menarik perhatian orang banyak, karena kurang memiliki nilai praktis. Baru sekitar tahun 1960-an studi evaluasi mulai berdiri sendiri menjadi salah satu program studi di perguruan tinggi, tidak hanya di jenjang sarjana (S.1) dan magister (S.2) tetapi juga pada jenjang doktor (S.3). Sekitar tahun 1972, model evaluasi mulai berkembang. Taylor dan Cowley, misalnya, berhasil mengumpulkan berbagai pemikiran tentang model evaluasi dan menerbitkannya dalam suatu buku. The summative function of evaluation is used for accountability, information, selection, or continuation. So evaluation should help the development of implementation, the need for a program, program improvement, accountability, selection, motivation, increase knowledge and support from those involved.(Danial et al., 2019). Model evaluasi yang dikembangkan lebih banyak menggunakan pendekatan positivisme yang berakar pada teori psikometrik. Dalam model tersebut, pengukuran dan tes masih sangat dominan, sekalipun tidak lagi diidentikkan dengan evaluasi. Penggunaan disain eksperimen seperti yang dikemukakan Campbell dan Stanley (1963) menjadi ciri utama dari model evaluasi. Berkembangnya model evaluasi pada tahun 70-an tersebut diawali dengan adanya pandangan alternatif dari para expert. Pandangan alternatif yang dilandasi sebuah paradigma fenomenologi banyak menampilkan model evaluasi. Dari sekian banyak model-model evaluasi yang dikemukakan, tes dan pengukuran tidak lagi menempati posisi yang menentukan. Penggunaannya hanya untuk tujuan-tujuan tertentu saja, bukan lagi menjadi suatu keharusan.

Ada beberapa masalah yang perlu ditangani secara serius dalam evaluasi pembelajaran. Pertama, pengembangan sistem ujian yang tidak berjalan dengan baik. Ujian sekedar menjadi kegiatan musiman, tidak berkesinambungan, dan tanpa perencanaan yang sistematis. Kedua, nilai yang diperoleh dari seorang guru tidak dapat dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dari guru lain. Ketiga, kualitas soal masih meragukan karena dibuat tergesa-gesa dan tidak diuji dulu mutunya.

Berkaitan dengan evaluasi terdapat dua pertanyaan penting, yaitu apa yang harus di evaluasi? Bagaimana mengevaluasi? Langkah pertama dalam melakukan evaluasi adalah menentukan materi yang akan diujikan. Materi yang diujikan hendaknya merupakan materi yang sangat penting. Penentuan materi yang penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut. 1. Urgensi, yaitu materi yang secara teoritik mutlak harus dikuasai siswa. 2. Kontinuitas, yaitu materi yang merupakan pendalaman dari materi sebelumnya. 3. Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk memahami materi lain. 4. Keterpakaian, yaitu materi yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

 

B.    BIOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI  UNTUK INOVASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

Biologi mempelajari struktur fisik dan fungsi alat-alat tubuh manusia serta mempelajari lingkungan sekitar. Biologi merupakan bagian dari pembelajaran IPA yang ilmunya berkembang dan dipahami melalui langkah-langkah ilmiah yang diterapkan dalam pelaksanaan praktikum. Biologi mempelajari makhluk hidup pada tingkatan organisasi kehidupan, mempelajari interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dan gejala-gejala yang terjadi pada alam.

Dalam mempelajari biologi dibangun atas dasar tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan yaitu aspek proses, sikap dan produk. Hakikatnya yaitu berkaitan dengan cara memahami alam secara sistematis, sehingga bukan terbatas penguasaan pengetahuan berupa fakta, konsep, atau prinsip tetapi lebih sebagai proses penemuan. Biologi memiliki karakteristik khusus sebagai rumpun ilmu sains, karakteristik biologi diantaranya terletak pada objek yang dipelajari yaitu makhluk hidup, tema atau persoalan-persoalan objek biologi yang terjadi di alam dan metode untuk menyelesaikan masalah pada objek biologi melalui metode ilmiah (Trianto, 2012). Objek kajian dalam biologi berupa benda konkrit dan dapat ditangkap oleh panca indra, dikembangkan berdasarkan pengalaman yang nyata dan memiliki langkah-langkah yang sistematis (Bagod, 2015).

Tuntutan revisi kurikulum 2013 menekankan dalam melaksanakan proses pembelajaran harus mengintegrasikan dengan HOTS (Higher Order Thingking Skill) salah satunya ketika melakukan proses evaluasi pembelajaran. Peran HOTS sangat di butuhkan dalam memecahkan lingkungan karena membutuhkan ketajaman kekuatan analitis (Ilmi, dkk: 2019). Dalam penyusunan soal-soal HOTS, stimulus ysng digunakan adalah potensi lokal. Potensi lokal di Indonesia adalah daerah konservasi, mangrove dimana daerah tersebut semakin tergerus oleh perusahaan sawit, pembabatan hewan liar, dan kebakaran lahan. Perlu adanya langkah konkrit untuk mempertahankan keberadaan potensi lokal di daerah. Salah satunya dengan penanaman karakter konservasi siswa sejak dini melalui soal HOTS. Karakter konservasi yang dapat ditanamkan pada siswa yaitu religious, toleransi, kesopanan, tanggung jawab, dan patriotism (Khustiati, et all:2017). Sehingga perlu dilakukan sebuah inovasi dalam pembuatan soal yang mengintegrasikan soal HOTS dan sikap konservasi siswa. Pengembangan soal HOTS berbasis potensi lokal yang dapat menjadi salah satu alternative dalam meningkatkan karakter konservasi siswa.

HOTS merupakan kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Ranah dari HOTS, yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi elemen sebuah konteks tertentu, evaluasi yang merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta atau informasi dan mengkreasi yang merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan. Soal HOTS dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan dalam berpikir tingkat tinggi (Kristanti dan Setiawan: 2020).

Penyusunan soal-soal HOTS, umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari berbagai isu salah satunya yaitu isu yang diangkat dari potensi lokal yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu (Kristanto dan Setiawan: 2020). Keberadaan potensi lokal dapat dimanfaat dalam proses pembelajaran salah satunya sebagai objek sasaran ketika guru membuat instrument evaluasi. Banyak sekali potensi lokal yang terdapat di Indonesia yang dapat dikaitkan dengan mata pelajaran Biologi (Kristiani, dkk. 2016). Berdasarkan data dinas lingkungan hidup dan kehutanan, Indonesia memiliki daerah konservasi seluas 27,4 juta Ha yang tersebar di berbagai Provinsi. Seiring berjalannya waktu, luas wilayah konservasi di Indonesia semakin tergerus oleh aktivitas manusia.

Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap potensi lokal mengalami penurunan seiring semakin berkembangnya era globalisasi. Dalam menjaga ekosistem wilayah konservasi yang kaya akan keunikan dan keanekaragaman hayati, perlu adanya langkah konkrit untuk mempertahankan keberadaan potensi lokal di daerah sehingga tetap terjaga kelesatriannya. Penanaman karakter sejak dini pada diri siswa menjadi upaya untuk menjaga dan melestarikan potesi lokal. Salah satunya dengan penanaman karakter konservasi melalui pemberian soal ketika guru melaksanakan evaluasi.

Berdasarkan uraian di atas sangat urgen untuk dilakukan Pengembangan Instrumen Soal HOTS Berbasis Kearifan Lokal Pada Mata pelajaran Biologi di SMA Sebagai Upaya Meningkatkan Karakter  konservasi Siswa di Indonesia. Untuk mengatasi krisis tersebut, diperlukan upaya pemulihan kembali nilai-nilai yang telah diajarkan oleh para tokoh pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan berbasis konservasi dan lebih menekankan pada pendidikan karakter sebagai usaha membangun bangsa (nation character building). Sikap konservasi diartikan sebagai suatu upaya atau tindakan nyata untuk menyelamatkan, melindungi dan melestarikan lingkungan sekitar secara bijaksana. Sikap konservasi adalah penting untuk mencapai upaya konservasi yang harus ditumbuhkembangkan sejak dini. Ada 11 nilai-nilai karakter konservasi, yaitu :

1.     Religius

Religius adalah menyakini, menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, serta menghargai perbedaan agama

2. Jujur

Jujur adalah berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma kebenaran, berani membela kebenaran, menepati janji dan berani mencela kebohongan dan kecurangan.

3. Cerdas

Cerdas dapat dinilai dengan cara bagaimana seseorang itu dapat berpikir dan menemukan   kebenaran secara logis, serta memecahkan masalah secara tepat dan akurat.

4. Adil

Adil adalah sikap atau perilaku sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta tidak sewenang-wenang.

5. Tanggung jawab

Meliputi selalu bekerja sesuai dengan hak dan kewajibannya, dapat mengemban kepercayaan dari orang lain, serta berani mengakui kekurangan dirinya sendiri mengakui kelebihan orang lain.

6. Peduli

Peduli adalah sikap atau perilaku yang peka terhadap lingkungan.

7. Toleran

Toleran dapat diwujudkan dengan mengakui perbedaan agama atau kepercayaan, mengakui perbedaan ras dan sebagainya, serta menjaga perasaan orang lain.

8. Demokratis

Demokratis adalah sikap atau perilaku mengakui persamaan dan mampu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

9. Cinta tanah air

Cinta tanah air adalah sikap atau perilaku berani membela kepentingan bangsa dan negara serta berjiwa patriot.

10. Tangguh

Tangguh adalah sikap atau perilaku pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan.

11. Santun

Santun adalah sikap atau perilaku rendah hati dalam pergaulan serta berbicara dengan bahasa yang baik.

 

C.    INOVASI DALAM PENDIIDKAN DAN PEMBELAJARAN

Dengan masih tingginya kasus Covid-19, pembelajaran masih dilaksanakan secara jarak jauh. Karena itu perlu inovasi dan terobosan baru untuk menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Meningkatnya kasus Covid-19 varian baru akhir-akhir ini telah membuat kebijakan pembukaan sekolah harus kembali ditunda. Padahal, tanpa kondisi pandemi, capaian pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih belum optimal seperti yang terlihat pada skor Programme for International Student Assessment (PISA) oleh OECD pada tahun 2018. Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara untuk kompetensi membaca, peringkat 72 dari 78 negara untuk Matematika, dan peringkat 70 dari 78 negara untuk Sains dengan nilai yang cenderung stagnan dalam 10 hingga 15 tahun terakhir.

Ditutupnya sekolah selama lebih dari satu tahun berpotensi menciptakan kehilangan pembelajaran (learning loss) dimana ketika sekolah ditutup selama tiga bulan, anak-anak diprediksi kehilangan pembelajaran yang setara dengan lebih dari satu tahun (Kaffenberger, 2020). Pada 23 Juli lalu kita merayakan Hari Anak Nasional dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh anak di era pandemi untuk kedua kalinya. Dilema terjadi pada berbagai sektor tumbuh kembang anak, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Di satu sisi, kualitas pendidikan terancam semakin menurun dan mengancam hak anak akan akses terhadap pendidikan dan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Namun, di sisi lain kesehatan siswa, guru dan setiap orang merupakan prioritas yang harus dijaga saat ini.

Situasi ini tidak dapat dihindari dan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), nampaknya masih menjadi opsi win-win solution untuk saat ini. Terlepas dari berbagai tantangan dalam melaksanakan PJJ, dibutuhkan strategi dan upaya dalam mengelola proses PJJ agar dapat mendukung siswa belajar secara optimal sekaligus melindungi mereka dari bahaya paparan Covid-19.

Selain itu, dibutuhkan pemahaman berbagai pihak bahwa PJJ sejatinya bukan hanya menjadi alternatif agar siswa dapat tetap belajar walaupun bangunan fisik sekolah ditutup. PJJ juga harus  menghadirkan sebuah proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa, guru dan orangtua serta relevan dengan kebutuhan akan pendidikan di era pandemi seperti saat ini. Secara umum, tulisan ini membahas tentang pentingnya inovasi terhadap pelaksanaan dan efektivitas PJJ dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pada tataran yang lebih praktis, tulisan ini menyoroti peran kreativitas, aktivitas, komunikasi, dan kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan praktik-praktik inovatif bagi pendidikan di era pandemi.

Tataran strategis dan praktis

Secara umum, inovasi dapat dipahami sebagai keberhasilan dalam memperkenalkan suatu hal atau sebuah metode baru (Brewer and Tierney, 2012). Di bidang pendidikan, inovasi ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai pembaharuan dalam teori pedagogi, pendekatan metodologis, teknik mengajar, alat pembelajaran, proses pembelajaran maupun struktur institusional (Serdyukov, 2017).

Inovasi dapat dilakukan pada tataran strategis yang dibuat oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan dan program di tingkat makro yang diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Pendekatan seperti ini dikenal sebagai top-down innovation. Berbeda dengan top-down innovation yang dimulai dari gagasan kebijakan di level strategis, bottom-up innovation menjadi alternatif lain untuk menghadirkan inovasi dimulai dari tataran yang lebih praktis pada level grassroot, misalnya inovasi yang diinisiasi oleh guru, kepala sekolah, orangtua, bahkan anak.

Pada dasarnya, inovasi secara top-down maupun bottom-up bersifat sama baiknya bagi upaya mengoptimalkan pelaksanaan dan kualitas pendidikan. Dalam konteks Indonesia yang beragam secara geografis, ekonomi, dan budaya serta di tengah kondisi pandemi yang memerlukan immediate action (aksi cepat), bottom-up innovation memiliki peran yang penting dalam mengakomodir berbagai konteks kekhususan yang diperlukan dalam mengelola proses pembelajaran yang optimal bagi siswa di era pandemi.

Guru dan kepala sekolah serta orangtua atau pengasuh merupakan pihak paling dekat dengan anak sebagai peserta ajar dan berperan penting dalam mendukung terjadinya berbagai praktik inovatif dalam PJJ. Di sisi lain, inovasi top down melalui kebijakan publik dan replikasi program dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan dan skalabilitas dampak dari berbagai praktik inovasi yang muncul di level grassroot (akar rumput).

Kreativitas, aktivitas, dan komunikasi

Inovasi dalam pendidikan seringkali dikaitkan dengan penggunaan teknologi dan internet untuk mengakses materi maupun melakukan interaksi pembelajaran, seperti melalui situs web (website), Learning Management System (sistem manajemen pembelajaran), mobile application (aplikasi seluler), hingga media sosial. Namun pada kenyataannya, seringkali praktik inovatif dalam pendidikan menjadi terbatas hanya pada media teknologi dan kanal digital. Di beberapa konteks ketika perangkat teknologi dan jaringan tidak memadai serta kapasitas guru dan orangtua terbatas dalam mengoptimalkan teknologi digital, praktik inovasi seolah harus terhenti. Padahal, merujuk pada hakikatnya, inovasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi melalui berbagai pembaharuan.

Oleh sebab itu, inovasi dalam pendidikan perlu dipahami dan dilakukan bukan hanya pada tatanan cara melalui penggunaan teknologi dan digitalisasi, namun perlu dimulai dari tatanan pola pikir dan perilaku. Inovasi perlu dilihat sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan kemampuan dalam melihat dan melakuan sesuatu dari perspektif yang berbeda, kritis, kreatif, menarik, dan praktis. Dalam hal ini, kreativitas menjadi faktor yang penting untuk dimiliki oleh guru dan kepala sekolah serta orangtua atau pengasuh dalam membangkitkan antusiasme dan efektivitas proses belajar mengajar melalui berbagai cara, dimulai dari apa yang tersedia di sekitar siswa.

Kreativitas dapat dikembangkan dari pola pikir yang tidak berfokus pada tantangan, melainkan pada berbagai peluang yang dapat dilakukan, sekecil apapun itu. Dengan kreativitas, guru dan orangtua dapat membantu anak dalam menciptakan sistem belajar yang dapat mendukung untuk meningkatkan konsentasi dan mengelola distraksi, misalnya dengan menciptakan jadwal belajar yang teratur, pengaturan ruangan yang mendukung, serta melakukan berbagai icebreakers dan permainan sederhana ketika anak mulai lelah dan bosan belajar.

Kreativitas juga memampukan guru dan orangtua bukan hanya dalam melihat potensi apa yang tersedia, melainkan juga bagaimana memaksimalkan penggunaan dan manfaat dari berbagai potensi tersebut. Kreativitas memotivasi guru dan orangtua untuk menghadirkan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan berbagai aktivitas seperti melakukan permainan, eksperimen sains, observasi sosial, menonton video, bermain peran, bernyanyi bersama, dan lain sebagainya baik lewat interaksi digital oleh guru maupun interaksi secara langsung oleh orangtua di rumah. Dengan kreativitas, guru dan orangtua juga dapat memaksimalkan penggunaan perangkat teknologi digital yang tersedia dalam mengakses berbagai konten pembelajaran, memilah sesuai dengan kebutuhan anak, dan menyampaikannya dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.       

Selain itu, inovasi diperlukan untuk menghadirkan relasi yang lebih sinergis antara guru, orangtua atau pengasuh dengan para siswa dalam proses PJJ. Hal ini dapat dimulai dari upaya tenaga pendidik dan orangtua dalam melihat pembelajaran dari perspektif siswa serta memfasilitasi proses pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Sebelum memulai proses PJJ yang bertujuan untuk mempelajari berbagai materi, para pendidik dan orangtua dapat terlebih dahulu membangun interaksi dan relasi yang menyenangkan dengan peserta ajar. Komunikasi dua arah mengenai pentingnya untuk tetap belajar meskipun dengan cara yang baru di tengah kondisi pandemi yang menantang diperlukan untuk membangun motivasi siswa untuk memahami dan mengalami proses pembelajaran secara menyenangkan dan bermakna.

Dialog dengan bahasa yang dapat dipahami dengan mudah oleh anak dan keterbukaan akan ekspektasi dari pengajar, orangtua, dan siswa tentang bagaimana PJJ akan dilakukan menjadi sebuah pendekatan yang inovatif. Ini sekaligus menjadi langkah awal untuk mendukung berbagai bentuk inovasi lainnya bagi untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.

Kolaborasi dan sinergi lintas aktor

Walaupun inovasi bottom up terlihat praktis dan strategis untuk memulai pendekatan inovatif dalam praktik pembelajaran di era pandemi pada konteks Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa praktik inovasi juga perlu ditinjau dari sudut pandang keberlanjutan dan skalabilitas dampak melalui pendekatan top down.

Untuk menyeimbangkan inovasi dari kedua pendekatan tersebut, dibutuhkan sinergi berbagai pihak untuk membangun kesadaran dan kapasitas publik untuk menghadirkan berbagai inovasi, top-down dan bottom-up, pada pendidikan di era pandemi. Sinergi itu mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik lainnya, organisasi dan yayasan non-profit untuk pembangunan, lembaga swasta, peneliti, orangtua, masyarakat, media, dan siswa.

Kerja sama lintas aktor ini sangat dibutuhkan dalam menghadirkan inovasi secara efektif dan struktural melalui integrasi antara kebijakan, program, dan riset. Dengan semangat inovasi yang kolaboratif kita dapat mengatasi dampak pandemi di bidang pendidikan secara lebih efektif dan berkelanjutan dengan menempatkan anak sebagai pusat dari proses ini.

Pada akhirnya, diperlukan perspektif baru dalam melihat pendidikan seperti apa yang sejatinya benar-benar dibutuhkan oleh siswa di era pandemi ini. Diperlukan kesadaran tentang pentingnya melakukan berbagai terobosan baru, bukan hanya pada sistem pendidikan, tetapi juga pada proses pembelajaran sehari-hari yang dijalani oleh siswa bersama guru dan orangtua. Dalam menghadirkan inovasi pendidikan, kita perlu untuk mengingat pentingnya untuk memperhatikan konteks dan kebutuhan yang berbeda-beda di setiap wilayah, sekolah, bahkan individual.

Situasi yang berbeda di era pandemi Covid-19 ini membawa kita memiliki sudut pandang yang berbeda dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Tujuannya bukan semata untuk mendorong anak mencapai lebih banyak hal, tetapi untuk bertahan di tengah situasi yang tidak mudah dan lebih menikmati proses pendidikan yang sesungguhnya untuk hasil yang bermakna bagi anak-anak Indonesia. Selamat Hari Anak Nasional, Anak Terlindungi, Indonesia Maju.

 

                                        DAFTAR PUSTAKA

 

Gerald Zaltman and Robert Duncan. 1977. Strategies for Planned Change. A Wiley Interscience Publication.

Gerald Zaltman, Rober Duncan, Johny Holbek. 1973. Innovation and Organization. A Wiley-Interscience Publication.

Huberman. (1973). Solving Educational Problems. New York: Praegar Publisher.

Miles, M. B. (1964). Innovation in Education. New York: Bureau of Publication.

Everett M. Rogers. 1983. Diffusion of Innovations. London: The Free Press.

Wojowasito, S. 1972. Kamus Bahasa Indonesia. Bandung: Shinta Dharma Bandung

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar