Rabu, 22 September 2021

Philosophy, Psychology, Spiritual, Math Education, Lesson Study, Indonesia: Prof Dr Marsigit MA

 SUMBER 

*POSITIVISME*

Oleh: Marsigit, UNY



*Semar*:
E...gus..Aguste Compte? Apa yg melatarbelakangi engkau bikin Positivisme?

*Compte*:
Karena saya melihat ada Agama, pada jaman pertengahan atau jaman gelap, telah disalah gunakan.

*Semar*:
Disalah gunakan bagaimana?

*Compte*:
Dengan dalih Agama tertentu, maka pada jaman itu, orang tidak boleh berpikir merdeka.

*Semar*:
O begitu, lantas?

*Compte*:
Padahal, orang diseluruh dunia itu selalu menghadapi kenyataan yaitu Membangun Dunia. Bagaimana bisa orang membangun dunia, kalau tidak boleh berpikir merdeka. Maka saya buat terapi dengan cara memarginalkan semua Agama.

*Semar*:
Bagaimana tetapinya?

*Compte*:
Saya membuat buku berjudul Positivisme, yang di dalamnya mengandung kritikan bahkan serangan saya kepada semua Agama. Saya katakan: _Agama itu tidak logis, maka Agama tidak dapat dipakai untuk membangun Dunia_.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzim. Kamu sudah melampaui batas.

*Compte*:
Lho saya tidak ingin menjadi orang munafik. Agama ya diperlukan tetapi tidak utama untuk metode membangun Dunia.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzimu. Lha menurut kamu, untuk membangun Dunia bagaimana metodenya?

*Compte*:
Menurut saya, untuk membangun Dunia kita perlu merubah paradigma. Paradigma baru saya sebut Paradigma Positive yaitu 3 tingkatan dari atas ke bawah secara hirarkhi: 1. Metode Positive, 2. Filsafat, 3. baru Agama.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzimu. Itu bertentangan dengan dunia Timur, dunia Indonesia, tanah Jawa.

*Compte*:
Lha kalau di Indonesia atau Jawa seperti apa?

*Semar*:
Indonesia yang berlandaskan Pancasila, memandang Struktur Dunia itu berhirarkhi darì atas ke bawah: 1. Spiritual, 2. Filsafat, 3. Ilmu Badang, 4. Hukum dan tata cara, 5. Kenyataan. Jadi di Indonesia atau Jawa, Spiritualitas itu mendasari sekaligus menjadi tujuan hidup.

*Compte*:
Bagaimana orang Indonesia atau Jawa, mengelola dan menghadapi kenyataan sekarang?

*Semar*:
Em... agak bingung saya. E..keadaan sekarang macam macam. Orang Indonesia itu lebih 350 juta, jadi macam macam.

*Compte*:
Apakah ada orang Indonesia yang lupa beribadah, dikarenakan dolanan HP?

*Semar*:
Em... ada nggak ya? Saya sendiri pernah lupa sholat karena main Game. Kayaknya ada. E maksud saya ... mungkin agak banyak. Mungkin.

*Compte*:
Kalau begitu jangan salahkan saya. HP itu adalah hasil membangun Dunia. Lupa sholat itu sudah memarginalkan Agama. Jadi orang yang lupa sholat karena dolanan HP itu adalah pengikut saya. Padahal sekarang semakin banyak jumlahnya. Maka apalah arti Aguste Compte seperti saya, karena saya sudah mati pada tahun 1857. Tetapi ajaranku semakin banyak pengikutnya, karena nyata.

*Semar*:
E...hue hue... Gareng, Petruk, lan Bagong, ayo pada sholat berjamangah. Ayo pada diakeh akehke lhe ngaji, maca Kitab Suci. Dolanan HP ya kena ning eling papan lan wektune. Aja padha ninggalke sholat. Ayo pada melu simbah kyai istigosah, dulkodiran, kalimah toyibah, dhikir, wirid lsp. Nek ora, mengko mundhak keselong karo ajarane Aguste Compte. Nau dzubilah mindzalik.

*END*

Rabu, 15 September 2021

"Romantisme"

 SUMBER

Oleh: Marsigit UNY



*Limbuk*: Cinta itu apa yung?

*Cangik*: Cinta itu plus minus sayang plus minus kuasa.

*Limbuk*: Aneh definisimu?

*Cangik*: Itu bukan definisi. Itu analisis.

*Limbuk*: Lha sayang?

*Cangik*: Sayang itu rasa memiliki plus minus kuasa.

*Limbuk*: Lha kuasa?

*Cangik*: Kuasa itu plus minus mampu menjatuhkan sifat.

*Limbuk*: Lha sifat?

*Cangik*: Sifat itu plus minus kenyataan.

*Limbuk*: Lha memiliki?

*Cangik*: Memiliki itu plus minus memenuhi peperluanmu.

*Limbuk*: Lha kalau begitu?

*Cangik*: Dikatakan kamu memiliki sesuatu jika sesuatu itu dapat plus minus memenuhi keperluanmu.

*Limbuk*: Menjatuhkan sifat?

*Cangik*: Menjatuhkan sifat itu adalah plus minus menemukan kenyataan berdasar pikiran, perasan, penginderaan dan pengalamanmu.

*Cangik*:
Kamu dapat menemukan benda benda dengan penglihatanmu, pendengaranmu dst.

*Cangik*:
Jadi kuasa itu plus minus mampu menemukan dan menentukan kenyataan.

*Limbuk*: Lha kok dikatakan, sayang itu rasa memiliki plus minus kuasa?
*Cangik*: Rasa memiliki plus itu sayang. Rasa memiliki minus itu benci.

*Cangik*:
Jadi sayang itu merentang antara benci dan sayang.

*Cangik*:
Maka benci adalah sayang minus kuasa.

*Cangik*:
Jika kamu ingin memenuhi keperluanmu tetapi tidak kuasa memiliki maka sayangmu dapat berubah jadi bencimu.

*Cangik*:
Maka rasa sayang belum tentu baik jika itu men
gandung unsur kuasa.

*Cangik*:
Sayang plus kuasa bisa berubah menjadi menguasai.

*Cangik*:
Sangat sayang berarti sayang plus sangat kuasa, berarti mengekploitasi.

*Cangik*:
Sangat sayang minus kuasa bisa berubah menjadi sangat benci.

*Limbuk*: Lha cinta?

*Cangik*: Cinta itu plus minus sayang plus minus kuasa.

*Cangik*:
Cinta plus sayang itu cinta. Cinta minus sayang itu benci.

*Cangik*:
Jadi cinta itu merentang antara benci sampai cinta.

*Cangik*:
Cinta plus kuasa itu romantis. Romantis tanpa cinta itu kejam.

*Cangik*:
Cinta minus kuasa bisa berubah menjadi benci. Jadi benci itu cinta minus kuasa.

*Cangik*:
Cinta minus kuasa itu juga romantis. Romantis minus kuasa bisa menjadi benci.

*Cangik*:
Jadi romantis itu merentang antara benci dan cinta.

*Cangik*:
Romantis juga merentang antara benci dan sayang.

*Cangik*: Maka sebenar benar romantis adalah cinta plus minus sayang plus minus kuasa.

*Limbuk*: Lha kalau bertengkar?

*Cangik*: Bertengkar itu romantis berebut cinta, plus minus berebut sayang, plus minus berebut kuasa, ringan.

*Limbuk*: Lha perang?

*Cangik*: Perang itu romantis berebut cinta, plus minus berebut sayang, plus minus berebut kuasa, berat.

*Limbuk*: Lha perdamaian?

*Cangik*: Perdamaian itu romantis, saling memberi cinta, plus minus saling memberi sayang, plus minus saling memberi kuasa, ringan.

*Limbuk*: Cinta berat, dua sejoli?

*Cangik*: Cinta berat dua sejoli itu, itu romantis saling memberi cinta, plus minus saling memberi sayang, plus minus saling memberi kuasa, berat.

*Limbuk*: Lha romantisme?

*Cangik*: Sebenar benar hidup itu merentang antara perang dan damai ; antara bertengkar dan cinta berat. Maka sebenar benar hidup itu romantis. Dunia ini adalah romantisme. Maka ramantisme itu adalah dunia.

*END*