Senin, 20 Desember 2021

PENGEMBANGAN EVALUASI UNTUK INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

A.    PENDAHULUAN

Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invention maupun diskoveri. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. An innovation is an idea for accomplishing some recognition social and in a new way or for a means of accomplishing some social (Donald P. Ely 1982, Seminar on Educational Change). An innovation is any idea, practice, or mate artifact perceived to be new by the relevant unit of adopt. The innovation is the change object. A change is the altera in the structure of a system that requires or could be required relearning on the part of the actor (s) in response to a situation. The requirements of the situation often involve a res to a new requirement is an inventive process producing an invention. However, all innovations, since not everything an individual or formal or informal group adopt is perceived as new. (Zaltman, Duncan, 1977:12).

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada dua istilah yaitu invention dan discovery. Invention adalah merupakan penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya merupakan hasil karya manuasia. Sedangkan discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Proses dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah 1992:77).

Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang baru yaitu: Pertama "top-down model" yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Kedua "bottom-up model" yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Disamping kedua model yang umum tersebut di atas, ada hal lain yang muncul tatkala membicarakan inovasi pendidikan yaitu: a) kendala-kendala, termasuk resistensi dari pihak pelaksana inovasi seperti guru, siswa, masyarakat dan sebagainya, b). faktor-faktor seperti guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan dana c). lingkup sosial masyarakat.

Ada inovasi yang juga dilakukan oleh guru-guru, yang disebut dengan "Bottom-Up Innovation". Model yang kedua ini jarang dilakukan di Indonesia selama ini karena sitem pendidikan yang sentralistis. Pembahasan tentang model inovasi seperti model "Top-Down" dan "Bottom-Up" telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar. White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek yang bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi, karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya. Kennedy (1987:163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif).

Dalam makalah ini akan dijelaskan pengembangan evaluasi dalam inovasi Pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya di bandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Sesuai pendapat Grondlund (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secara sistematik untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk mengambil suatu keputusan. Evaluasi pemebelajaran dilakukan dengan menganut prinsip : menyeluruh, kontinu, berorientasi pada kompetensi, valid, objektif,/adil, terbuka, bermakna, mendidik, memotivasi, akuntabel. 

Tujuan dari evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini dilakukan oleh semua orang yang bersangkutan, bukan hanya guru melainkan juga siswa itu sendiri. Sehingga, dari hasil evaluasi, guru dapat mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menguasai pelajaran, serta mengetahui dimana kesulitan siswa dalam proses pembelajaran agar dapat dijadikan sebagai bahan perbaiakan dan pengembangan program pembelajaran.

Model-model Evaluasi Pada tahun 1949, Tyler pernah mengemukakan model evaluasi black box. Model ini banyak digunakan oleh orang-orang yang melakukan kegiatan evaluasi. Studi tentang evaluasi belum begitu menarik perhatian orang banyak, karena kurang memiliki nilai praktis. Baru sekitar tahun 1960-an studi evaluasi mulai berdiri sendiri menjadi salah satu program studi di perguruan tinggi, tidak hanya di jenjang sarjana (S.1) dan magister (S.2) tetapi juga pada jenjang doktor (S.3). Sekitar tahun 1972, model evaluasi mulai berkembang. Taylor dan Cowley, misalnya, berhasil mengumpulkan berbagai pemikiran tentang model evaluasi dan menerbitkannya dalam suatu buku. The summative function of evaluation is used for accountability, information, selection, or continuation. So evaluation should help the development of implementation, the need for a program, program improvement, accountability, selection, motivation, increase knowledge and support from those involved.(Danial et al., 2019). Model evaluasi yang dikembangkan lebih banyak menggunakan pendekatan positivisme yang berakar pada teori psikometrik. Dalam model tersebut, pengukuran dan tes masih sangat dominan, sekalipun tidak lagi diidentikkan dengan evaluasi. Penggunaan disain eksperimen seperti yang dikemukakan Campbell dan Stanley (1963) menjadi ciri utama dari model evaluasi. Berkembangnya model evaluasi pada tahun 70-an tersebut diawali dengan adanya pandangan alternatif dari para expert. Pandangan alternatif yang dilandasi sebuah paradigma fenomenologi banyak menampilkan model evaluasi. Dari sekian banyak model-model evaluasi yang dikemukakan, tes dan pengukuran tidak lagi menempati posisi yang menentukan. Penggunaannya hanya untuk tujuan-tujuan tertentu saja, bukan lagi menjadi suatu keharusan.

Ada beberapa masalah yang perlu ditangani secara serius dalam evaluasi pembelajaran. Pertama, pengembangan sistem ujian yang tidak berjalan dengan baik. Ujian sekedar menjadi kegiatan musiman, tidak berkesinambungan, dan tanpa perencanaan yang sistematis. Kedua, nilai yang diperoleh dari seorang guru tidak dapat dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dari guru lain. Ketiga, kualitas soal masih meragukan karena dibuat tergesa-gesa dan tidak diuji dulu mutunya.

Berkaitan dengan evaluasi terdapat dua pertanyaan penting, yaitu apa yang harus di evaluasi? Bagaimana mengevaluasi? Langkah pertama dalam melakukan evaluasi adalah menentukan materi yang akan diujikan. Materi yang diujikan hendaknya merupakan materi yang sangat penting. Penentuan materi yang penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut. 1. Urgensi, yaitu materi yang secara teoritik mutlak harus dikuasai siswa. 2. Kontinuitas, yaitu materi yang merupakan pendalaman dari materi sebelumnya. 3. Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk memahami materi lain. 4. Keterpakaian, yaitu materi yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

 

B.    BIOLOGI DALAM PENGEMBANGAN EVALUASI  UNTUK INOVASI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

Biologi mempelajari struktur fisik dan fungsi alat-alat tubuh manusia serta mempelajari lingkungan sekitar. Biologi merupakan bagian dari pembelajaran IPA yang ilmunya berkembang dan dipahami melalui langkah-langkah ilmiah yang diterapkan dalam pelaksanaan praktikum. Biologi mempelajari makhluk hidup pada tingkatan organisasi kehidupan, mempelajari interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dan gejala-gejala yang terjadi pada alam.

Dalam mempelajari biologi dibangun atas dasar tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan yaitu aspek proses, sikap dan produk. Hakikatnya yaitu berkaitan dengan cara memahami alam secara sistematis, sehingga bukan terbatas penguasaan pengetahuan berupa fakta, konsep, atau prinsip tetapi lebih sebagai proses penemuan. Biologi memiliki karakteristik khusus sebagai rumpun ilmu sains, karakteristik biologi diantaranya terletak pada objek yang dipelajari yaitu makhluk hidup, tema atau persoalan-persoalan objek biologi yang terjadi di alam dan metode untuk menyelesaikan masalah pada objek biologi melalui metode ilmiah (Trianto, 2012). Objek kajian dalam biologi berupa benda konkrit dan dapat ditangkap oleh panca indra, dikembangkan berdasarkan pengalaman yang nyata dan memiliki langkah-langkah yang sistematis (Bagod, 2015).

Tuntutan revisi kurikulum 2013 menekankan dalam melaksanakan proses pembelajaran harus mengintegrasikan dengan HOTS (Higher Order Thingking Skill) salah satunya ketika melakukan proses evaluasi pembelajaran. Peran HOTS sangat di butuhkan dalam memecahkan lingkungan karena membutuhkan ketajaman kekuatan analitis (Ilmi, dkk: 2019). Dalam penyusunan soal-soal HOTS, stimulus ysng digunakan adalah potensi lokal. Potensi lokal di Indonesia adalah daerah konservasi, mangrove dimana daerah tersebut semakin tergerus oleh perusahaan sawit, pembabatan hewan liar, dan kebakaran lahan. Perlu adanya langkah konkrit untuk mempertahankan keberadaan potensi lokal di daerah. Salah satunya dengan penanaman karakter konservasi siswa sejak dini melalui soal HOTS. Karakter konservasi yang dapat ditanamkan pada siswa yaitu religious, toleransi, kesopanan, tanggung jawab, dan patriotism (Khustiati, et all:2017). Sehingga perlu dilakukan sebuah inovasi dalam pembuatan soal yang mengintegrasikan soal HOTS dan sikap konservasi siswa. Pengembangan soal HOTS berbasis potensi lokal yang dapat menjadi salah satu alternative dalam meningkatkan karakter konservasi siswa.

HOTS merupakan kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Ranah dari HOTS, yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi elemen sebuah konteks tertentu, evaluasi yang merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta atau informasi dan mengkreasi yang merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan. Soal HOTS dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan dalam berpikir tingkat tinggi (Kristanti dan Setiawan: 2020).

Penyusunan soal-soal HOTS, umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari berbagai isu salah satunya yaitu isu yang diangkat dari potensi lokal yang berkaitan dengan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu (Kristanto dan Setiawan: 2020). Keberadaan potensi lokal dapat dimanfaat dalam proses pembelajaran salah satunya sebagai objek sasaran ketika guru membuat instrument evaluasi. Banyak sekali potensi lokal yang terdapat di Indonesia yang dapat dikaitkan dengan mata pelajaran Biologi (Kristiani, dkk. 2016). Berdasarkan data dinas lingkungan hidup dan kehutanan, Indonesia memiliki daerah konservasi seluas 27,4 juta Ha yang tersebar di berbagai Provinsi. Seiring berjalannya waktu, luas wilayah konservasi di Indonesia semakin tergerus oleh aktivitas manusia.

Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap potensi lokal mengalami penurunan seiring semakin berkembangnya era globalisasi. Dalam menjaga ekosistem wilayah konservasi yang kaya akan keunikan dan keanekaragaman hayati, perlu adanya langkah konkrit untuk mempertahankan keberadaan potensi lokal di daerah sehingga tetap terjaga kelesatriannya. Penanaman karakter sejak dini pada diri siswa menjadi upaya untuk menjaga dan melestarikan potesi lokal. Salah satunya dengan penanaman karakter konservasi melalui pemberian soal ketika guru melaksanakan evaluasi.

Berdasarkan uraian di atas sangat urgen untuk dilakukan Pengembangan Instrumen Soal HOTS Berbasis Kearifan Lokal Pada Mata pelajaran Biologi di SMA Sebagai Upaya Meningkatkan Karakter  konservasi Siswa di Indonesia. Untuk mengatasi krisis tersebut, diperlukan upaya pemulihan kembali nilai-nilai yang telah diajarkan oleh para tokoh pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan berbasis konservasi dan lebih menekankan pada pendidikan karakter sebagai usaha membangun bangsa (nation character building). Sikap konservasi diartikan sebagai suatu upaya atau tindakan nyata untuk menyelamatkan, melindungi dan melestarikan lingkungan sekitar secara bijaksana. Sikap konservasi adalah penting untuk mencapai upaya konservasi yang harus ditumbuhkembangkan sejak dini. Ada 11 nilai-nilai karakter konservasi, yaitu :

1.     Religius

Religius adalah menyakini, menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, serta menghargai perbedaan agama

2. Jujur

Jujur adalah berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma kebenaran, berani membela kebenaran, menepati janji dan berani mencela kebohongan dan kecurangan.

3. Cerdas

Cerdas dapat dinilai dengan cara bagaimana seseorang itu dapat berpikir dan menemukan   kebenaran secara logis, serta memecahkan masalah secara tepat dan akurat.

4. Adil

Adil adalah sikap atau perilaku sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta tidak sewenang-wenang.

5. Tanggung jawab

Meliputi selalu bekerja sesuai dengan hak dan kewajibannya, dapat mengemban kepercayaan dari orang lain, serta berani mengakui kekurangan dirinya sendiri mengakui kelebihan orang lain.

6. Peduli

Peduli adalah sikap atau perilaku yang peka terhadap lingkungan.

7. Toleran

Toleran dapat diwujudkan dengan mengakui perbedaan agama atau kepercayaan, mengakui perbedaan ras dan sebagainya, serta menjaga perasaan orang lain.

8. Demokratis

Demokratis adalah sikap atau perilaku mengakui persamaan dan mampu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

9. Cinta tanah air

Cinta tanah air adalah sikap atau perilaku berani membela kepentingan bangsa dan negara serta berjiwa patriot.

10. Tangguh

Tangguh adalah sikap atau perilaku pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan.

11. Santun

Santun adalah sikap atau perilaku rendah hati dalam pergaulan serta berbicara dengan bahasa yang baik.

 

C.    INOVASI DALAM PENDIIDKAN DAN PEMBELAJARAN

Dengan masih tingginya kasus Covid-19, pembelajaran masih dilaksanakan secara jarak jauh. Karena itu perlu inovasi dan terobosan baru untuk menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Meningkatnya kasus Covid-19 varian baru akhir-akhir ini telah membuat kebijakan pembukaan sekolah harus kembali ditunda. Padahal, tanpa kondisi pandemi, capaian pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih belum optimal seperti yang terlihat pada skor Programme for International Student Assessment (PISA) oleh OECD pada tahun 2018. Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara untuk kompetensi membaca, peringkat 72 dari 78 negara untuk Matematika, dan peringkat 70 dari 78 negara untuk Sains dengan nilai yang cenderung stagnan dalam 10 hingga 15 tahun terakhir.

Ditutupnya sekolah selama lebih dari satu tahun berpotensi menciptakan kehilangan pembelajaran (learning loss) dimana ketika sekolah ditutup selama tiga bulan, anak-anak diprediksi kehilangan pembelajaran yang setara dengan lebih dari satu tahun (Kaffenberger, 2020). Pada 23 Juli lalu kita merayakan Hari Anak Nasional dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh anak di era pandemi untuk kedua kalinya. Dilema terjadi pada berbagai sektor tumbuh kembang anak, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Di satu sisi, kualitas pendidikan terancam semakin menurun dan mengancam hak anak akan akses terhadap pendidikan dan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Namun, di sisi lain kesehatan siswa, guru dan setiap orang merupakan prioritas yang harus dijaga saat ini.

Situasi ini tidak dapat dihindari dan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), nampaknya masih menjadi opsi win-win solution untuk saat ini. Terlepas dari berbagai tantangan dalam melaksanakan PJJ, dibutuhkan strategi dan upaya dalam mengelola proses PJJ agar dapat mendukung siswa belajar secara optimal sekaligus melindungi mereka dari bahaya paparan Covid-19.

Selain itu, dibutuhkan pemahaman berbagai pihak bahwa PJJ sejatinya bukan hanya menjadi alternatif agar siswa dapat tetap belajar walaupun bangunan fisik sekolah ditutup. PJJ juga harus  menghadirkan sebuah proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa, guru dan orangtua serta relevan dengan kebutuhan akan pendidikan di era pandemi seperti saat ini. Secara umum, tulisan ini membahas tentang pentingnya inovasi terhadap pelaksanaan dan efektivitas PJJ dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pada tataran yang lebih praktis, tulisan ini menyoroti peran kreativitas, aktivitas, komunikasi, dan kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan praktik-praktik inovatif bagi pendidikan di era pandemi.

Tataran strategis dan praktis

Secara umum, inovasi dapat dipahami sebagai keberhasilan dalam memperkenalkan suatu hal atau sebuah metode baru (Brewer and Tierney, 2012). Di bidang pendidikan, inovasi ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai pembaharuan dalam teori pedagogi, pendekatan metodologis, teknik mengajar, alat pembelajaran, proses pembelajaran maupun struktur institusional (Serdyukov, 2017).

Inovasi dapat dilakukan pada tataran strategis yang dibuat oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan dan program di tingkat makro yang diaplikasikan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Pendekatan seperti ini dikenal sebagai top-down innovation. Berbeda dengan top-down innovation yang dimulai dari gagasan kebijakan di level strategis, bottom-up innovation menjadi alternatif lain untuk menghadirkan inovasi dimulai dari tataran yang lebih praktis pada level grassroot, misalnya inovasi yang diinisiasi oleh guru, kepala sekolah, orangtua, bahkan anak.

Pada dasarnya, inovasi secara top-down maupun bottom-up bersifat sama baiknya bagi upaya mengoptimalkan pelaksanaan dan kualitas pendidikan. Dalam konteks Indonesia yang beragam secara geografis, ekonomi, dan budaya serta di tengah kondisi pandemi yang memerlukan immediate action (aksi cepat), bottom-up innovation memiliki peran yang penting dalam mengakomodir berbagai konteks kekhususan yang diperlukan dalam mengelola proses pembelajaran yang optimal bagi siswa di era pandemi.

Guru dan kepala sekolah serta orangtua atau pengasuh merupakan pihak paling dekat dengan anak sebagai peserta ajar dan berperan penting dalam mendukung terjadinya berbagai praktik inovatif dalam PJJ. Di sisi lain, inovasi top down melalui kebijakan publik dan replikasi program dibutuhkan untuk mendukung keberlanjutan dan skalabilitas dampak dari berbagai praktik inovasi yang muncul di level grassroot (akar rumput).

Kreativitas, aktivitas, dan komunikasi

Inovasi dalam pendidikan seringkali dikaitkan dengan penggunaan teknologi dan internet untuk mengakses materi maupun melakukan interaksi pembelajaran, seperti melalui situs web (website), Learning Management System (sistem manajemen pembelajaran), mobile application (aplikasi seluler), hingga media sosial. Namun pada kenyataannya, seringkali praktik inovatif dalam pendidikan menjadi terbatas hanya pada media teknologi dan kanal digital. Di beberapa konteks ketika perangkat teknologi dan jaringan tidak memadai serta kapasitas guru dan orangtua terbatas dalam mengoptimalkan teknologi digital, praktik inovasi seolah harus terhenti. Padahal, merujuk pada hakikatnya, inovasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi melalui berbagai pembaharuan.

Oleh sebab itu, inovasi dalam pendidikan perlu dipahami dan dilakukan bukan hanya pada tatanan cara melalui penggunaan teknologi dan digitalisasi, namun perlu dimulai dari tatanan pola pikir dan perilaku. Inovasi perlu dilihat sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan kemampuan dalam melihat dan melakuan sesuatu dari perspektif yang berbeda, kritis, kreatif, menarik, dan praktis. Dalam hal ini, kreativitas menjadi faktor yang penting untuk dimiliki oleh guru dan kepala sekolah serta orangtua atau pengasuh dalam membangkitkan antusiasme dan efektivitas proses belajar mengajar melalui berbagai cara, dimulai dari apa yang tersedia di sekitar siswa.

Kreativitas dapat dikembangkan dari pola pikir yang tidak berfokus pada tantangan, melainkan pada berbagai peluang yang dapat dilakukan, sekecil apapun itu. Dengan kreativitas, guru dan orangtua dapat membantu anak dalam menciptakan sistem belajar yang dapat mendukung untuk meningkatkan konsentasi dan mengelola distraksi, misalnya dengan menciptakan jadwal belajar yang teratur, pengaturan ruangan yang mendukung, serta melakukan berbagai icebreakers dan permainan sederhana ketika anak mulai lelah dan bosan belajar.

Kreativitas juga memampukan guru dan orangtua bukan hanya dalam melihat potensi apa yang tersedia, melainkan juga bagaimana memaksimalkan penggunaan dan manfaat dari berbagai potensi tersebut. Kreativitas memotivasi guru dan orangtua untuk menghadirkan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan berbagai aktivitas seperti melakukan permainan, eksperimen sains, observasi sosial, menonton video, bermain peran, bernyanyi bersama, dan lain sebagainya baik lewat interaksi digital oleh guru maupun interaksi secara langsung oleh orangtua di rumah. Dengan kreativitas, guru dan orangtua juga dapat memaksimalkan penggunaan perangkat teknologi digital yang tersedia dalam mengakses berbagai konten pembelajaran, memilah sesuai dengan kebutuhan anak, dan menyampaikannya dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.       

Selain itu, inovasi diperlukan untuk menghadirkan relasi yang lebih sinergis antara guru, orangtua atau pengasuh dengan para siswa dalam proses PJJ. Hal ini dapat dimulai dari upaya tenaga pendidik dan orangtua dalam melihat pembelajaran dari perspektif siswa serta memfasilitasi proses pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Sebelum memulai proses PJJ yang bertujuan untuk mempelajari berbagai materi, para pendidik dan orangtua dapat terlebih dahulu membangun interaksi dan relasi yang menyenangkan dengan peserta ajar. Komunikasi dua arah mengenai pentingnya untuk tetap belajar meskipun dengan cara yang baru di tengah kondisi pandemi yang menantang diperlukan untuk membangun motivasi siswa untuk memahami dan mengalami proses pembelajaran secara menyenangkan dan bermakna.

Dialog dengan bahasa yang dapat dipahami dengan mudah oleh anak dan keterbukaan akan ekspektasi dari pengajar, orangtua, dan siswa tentang bagaimana PJJ akan dilakukan menjadi sebuah pendekatan yang inovatif. Ini sekaligus menjadi langkah awal untuk mendukung berbagai bentuk inovasi lainnya bagi untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.

Kolaborasi dan sinergi lintas aktor

Walaupun inovasi bottom up terlihat praktis dan strategis untuk memulai pendekatan inovatif dalam praktik pembelajaran di era pandemi pada konteks Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa praktik inovasi juga perlu ditinjau dari sudut pandang keberlanjutan dan skalabilitas dampak melalui pendekatan top down.

Untuk menyeimbangkan inovasi dari kedua pendekatan tersebut, dibutuhkan sinergi berbagai pihak untuk membangun kesadaran dan kapasitas publik untuk menghadirkan berbagai inovasi, top-down dan bottom-up, pada pendidikan di era pandemi. Sinergi itu mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik lainnya, organisasi dan yayasan non-profit untuk pembangunan, lembaga swasta, peneliti, orangtua, masyarakat, media, dan siswa.

Kerja sama lintas aktor ini sangat dibutuhkan dalam menghadirkan inovasi secara efektif dan struktural melalui integrasi antara kebijakan, program, dan riset. Dengan semangat inovasi yang kolaboratif kita dapat mengatasi dampak pandemi di bidang pendidikan secara lebih efektif dan berkelanjutan dengan menempatkan anak sebagai pusat dari proses ini.

Pada akhirnya, diperlukan perspektif baru dalam melihat pendidikan seperti apa yang sejatinya benar-benar dibutuhkan oleh siswa di era pandemi ini. Diperlukan kesadaran tentang pentingnya melakukan berbagai terobosan baru, bukan hanya pada sistem pendidikan, tetapi juga pada proses pembelajaran sehari-hari yang dijalani oleh siswa bersama guru dan orangtua. Dalam menghadirkan inovasi pendidikan, kita perlu untuk mengingat pentingnya untuk memperhatikan konteks dan kebutuhan yang berbeda-beda di setiap wilayah, sekolah, bahkan individual.

Situasi yang berbeda di era pandemi Covid-19 ini membawa kita memiliki sudut pandang yang berbeda dan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Tujuannya bukan semata untuk mendorong anak mencapai lebih banyak hal, tetapi untuk bertahan di tengah situasi yang tidak mudah dan lebih menikmati proses pendidikan yang sesungguhnya untuk hasil yang bermakna bagi anak-anak Indonesia. Selamat Hari Anak Nasional, Anak Terlindungi, Indonesia Maju.

 

                                        DAFTAR PUSTAKA

 

Gerald Zaltman and Robert Duncan. 1977. Strategies for Planned Change. A Wiley Interscience Publication.

Gerald Zaltman, Rober Duncan, Johny Holbek. 1973. Innovation and Organization. A Wiley-Interscience Publication.

Huberman. (1973). Solving Educational Problems. New York: Praegar Publisher.

Miles, M. B. (1964). Innovation in Education. New York: Bureau of Publication.

Everett M. Rogers. 1983. Diffusion of Innovations. London: The Free Press.

Wojowasito, S. 1972. Kamus Bahasa Indonesia. Bandung: Shinta Dharma Bandung

 

Senin, 06 Desember 2021

LAPORAN PERKULIAHAN PERTEMUAN PERTAMA MATA KULIAH FILSAFAT

 

Hal pertama yang membuat saya kagum ketika kuliah bersama prof. Marsigit adalah beliau selalu memulai perkuliahan dengan berdoa. Kemudian selalu menanyakan siapa yang tidak hadir, hal tersebut menunjukkan rasa perhatian beliau terhadap keikutsertaan mahahsiswanya. Beliau juga di awal perkuiahan menjelaskan sistem perkuliahan dengan kontrak kuliah kehadiran, tugas, serta pemahaman terkait filsafat.

Hari ini kuliah filsafat dengan dimulai luruh ego, bentuk dari bahasa adalah analitik dan substan dari bahasa sematik. Komponen kualitatif afirmasi, afirmatif. Pikiran bawaan sejak kecil atau lahir adalah kualitas, kuantitas, hubungan, modality. Modality disini masih belum bisa ditemukan dalam kamus besar bahasa indonesia. Note of the day sebuah spontanitas yang dilakukan oleh prof. Marsigit.

Ada tingkatan berfikir, filsafat lebih baik diulangi berkali kali ditempat berbeda. Berpikir modern seperti apa, awalnya dari struktur dunia sekarang ini paling bawah adalah arkaetik yaitu manusia batu. Olah pikir manusia batu jangan cari di hutan tapi justru di kota besar lebih banyak.  Manusia batu yang dites luruh ego adalah yang selalu dapat “0” tetapi tetap tidak mau membaca dan mencari ilmunya, seharusnya meningkat dengan komitmen, konsisten, dan konsekuen membaca, itu adalah sebenar-benar manusia batu.

Kemudian meningkat diatasnya arkaetik adalah tribal. Di perkotaan banyak tribal. Yaitu jika kita punya pikiran/pendapat tapi mengisolasi diri, menjauhkan dan tidak mau bersentuhan, tidak mau berdiskusi dan tidak mau membuka diri seakan-akan pikiran seperti itu adalah tribal.

Selanjutnya diatasnya adalah tradisional, contoh nya walupun sudah s3 terancam juga untuk tradisional yaitu ketika membaca landasan teori, tidak menutup kemungkinan meniru contoh-contoh dari disertasi yang sudah ada, sayangnya yang ditiru refrensinya sudah lama. Referensi lama teori nya ya sudah lama semua. Tapi karena pikiran nya mengalir dan memikirkan banyak perkara jadi tidak sadara kalua tulisannya itu adalah tradisional. Tradisional itu sudah ganti zaman. Kalau dulu zamannya orde baru sebelumnya masih ada bekas lurah, bekas camat, bekas  kepala desa, bekas, presiden sekarang sudah di ganti menjadi mantan. Jika kita menulis masih menggunakan bekas berrati kita termasuk tradisional/konvensional. Kata mantan aja masih di perhalus dengan rector ke-8, rector ke-9, rector -10. Contoh lagi adalah prof. Marsigit dengan di sebut direktur senior. Jadi bahasa itu berkembang, kalau tetap berarti tradisional.

Setelah tradisional kemudian menjadi feudal. Feudal ini agak punya gaya keluar, gaya eksploitasi dan gaya determinasi keluar. Karena mempunyai pengetahuan dan pengalaman tapi untuk menguasai orang lain dengan pamrin untuk mencari keuntungan, ini yang disebut berjiwa feudal. Karakteristiknya seperti zaman belanda dulu, zaman penjajah walaupun penjajjah zaman dahulu niatnya bukan untuk menjajjah tetapi untuk berdagang. Karena sifat bangsa indonesia pada saat itu mempunyai sifat terjajah, bayangkan di pantura orangnya miskin, kemudian kedatangan orang dengan naik kapal dengan kerajaa bangsa eropa dengan topi lancip membawa sepatu bud.jadi melihat sepeperti itu apapun jadi diberikan. Penjajahan itu adalah pikiranmu sendiri yang terjajah, karena pikiran kita terjajah sehingga kita di jajah.  Seperti guru,pagi berangkat ke sekolah berdoa, senang,rapi, semnagat,  tapi ketika sampai kelas malah marah-marah, karena siswa nya perlu dimarahi.

Mengenai zaman modern,  orang awam dikiranya zaman modern adalah pada saat ini kalua filsafat bukan atau salah. Kalua filsafat zaman modern itu 3 abad yang lalu, atau bahkan 4 abad yang lalu, atau bahkan 5 abad yang lalu sewaktu peradaban 16 dan 17 . Kalau sekarang namanya post modern atau zaman kontemporer. Pertanyaann peradapan.zaman  modern itu adalah antithesis dari zaman kegelapan, zaman kegelapan itu abad ke 12 dan 13. Kalau islam abad ke-5, kalau yunani 2000 sebelum masehi belum ada agama maka dia mengenal dewa hemain, maka dikenal lah metode hermenika. Zaman gelap adalah zaman dimana gereja berkuasa, gereja itu menyatukan agama dan pemerintahan yang berkuasa sehingga mampu dan bisa mengatur dan membuat ketentuan pada saat itu. Pada zaman itu tidak boleh sembarang orang menyampaikan kebenaran, karena kebenaran itu direkomendasikan oleh gereja walaupun yang memberi kebenaran apakah itu presiden, apakah itu menteri, orang biasa, peneliti pokoknya kebenaran itu harus direkomendasikan oleh gereja. Suatu ketika gereja itu punya teori menyampaikan teori sebagai suatu kebenaran. Teorinya ialah bahwa tata surya itu yang menjadi peredaran pusatnya adalah bumi yaitu bersifat geosentris. Menurut mereka atau menurut gereja ini bumi sebagai pusat bulan, bintang, planet mars, termasuk matahari mengelilingi bumi.

Dalam kurun waktu mulai abad ke -16 masuk abad ke 17 sudah mulai ada orang-orang yang bersifat kritis mengadakan penelitian dan pengamatan. Hasil penelitian sudah ditengarai atau ditemukan pusatnya bukan bumi tapi pusatnya adalah matahari yaitu heleosentris. Jadi bumi, bulan, dan semua bintang-bintang, planet dan sebagainya semuanya memiliki matahari. Puncaknya adalah revolusi kovernicus, karena dia membuat buku yang isinya tentang tata surya, sebelumnya ada korban galileo galili di tangkap, dibakar dan di bunuh  gara-gara dia mengungkapkan kebenaran yang bertentangan dengan kebenaran gereja pada saat itu. Tapi covernicus selamat karena bukunya diterbitkan setelah dia meninggal dunia. Terus setelah itu menjadi masalah besar bagi pihak gereja dan akhirnya setelah itu muncullah filsuf-filsuf baru yang menyuarakan kebenaran. Lahirlah immanuel kant, scrates,  itulah zaman modern. Nah sampai sekarang buku-buku ipa, sains, pengetahuan yang beredar sesuai teori sekarang semuanya bersifat heliosentrik. Bumi itu berkeliling mengelilingi matahari, dan planet-planet yang lain, mars, venus, saturnus semuanya mengelilingi matahari. Jika ada orang gereja maka yang dipertanyakan apakah mereka menganut geosentris atau heliosentris, karena pengetahuan juga banyak orang-orang gereja. Perang dunia 1 dan 2 pun tidak akan mampu mengubah sejarahnya filsafat, tapi cukup dengan tulisan august the compte dia menulis buku, dia telah mengubah dunia. Itulah yang dinakaman kekuatan sebuah tulisan dengan dibanding kekuatan senjata. Jadi, prof. Marsigit memberikan suatu pandangan tentang hal ini, tentang metafisik. Dibalik marsigit itu ada mars nama planet, si melihat git gerbang. Itu berrati kualitas 1 dan 2, terus dari tampilan wajah ya seperti itu, kalau kita terapkan melihat fenomena kita bangun tidur saja sudah melihat kalau matahari sudah mengililingi bumi. Kalau malam juga bulan-bulan sudah bergerak mengelilingi bumi. Misalnya orang itu mengambil kualitas pertama tujuan nya untuk agama. Tergantung kualitasnya yang kita harapkan, itulah yang dinamakan metafisik.

 

 

 


PENGALAMAN BERSADARKAN KANT

 

Pada pertemuan awal dengan Prof. Marsigit, saya mulai terkagum dengan pemaknaan yang mendalam dari setiap kalimat yang beliau sampaikan sekaligus menunjukkan kapasitas intelektual beliau yang memahami filsafat. Beliau sudah melakukan perubahan model pembelajaran dari model kelas konvensional yaitu dosen selalu menampilkan power point dan menjelaskan, menjadi kelas yang beliau mulai dengan “luruh ego” yaitu menjawab pertanyaan yang beliau berikan kemudian direfleksikan. Beliau juga merekomendasikan buku-buku yang bisa di baca atau di pakai sebagai pemula dalam berfilsafat seperti bukunya Immauel Kant. Banyak hal yang berbeda dari Prof. Marsigit lakukan, mulai dari tes, dan system penilaian terbuka, gaya bicara (komunikasi), metode pembelajaran dan lain-lain yang menurut saya menjadikan pembelajaran filsafat unik dan inovatif.

Selama ini, saya belajar filsafat hanya terfokus pada aliran rasionalisme dan empirisme yang kemudian melahirkan metode ilmiah. Melalui kuliah filsafat Prof. Marsigit, saya menemukan banyak aliran filsafat lain yang sangat penting dalam membangun ilmu pengetahuan. Filsafat beliau memiliki karakteristik tersendiri sehingga seringkali terlontar kata “Marsigitisme”, tetapi sebagaimana yang sering beliau sampaikan bahwa sebenar benar filsafat adalah penjelasanmu, tapi tidak sekedar penjelasanmu, tapi harus merujuk/merefer pemikiran para filsuf. Saya melihat bahwa referensi Marsigitisme adalah pengembangan dari pemikiran Immanuel Kant. Filsafat adalah olah piker, jadi Ketika kita berpikir maka kita telah berfilsafat kata Prof. Marsigit sebuah kalimat menurut saya sangat inspiratif dan mendalam. Beliau selalu mengajarkan berdoa sebelum dan berakhir kuliah. Pengalaman saya selama kuliah filsafat jika dikaitkan dengan Immanuel Kant adalah berkaitan dengan konsep estetika dan intuisi, fenomena dan Neoumne.

1.     Estetika dan Intuisi

Pada bab pertama Critique of Pure Reason, terdapat pembahasan tentang estetika. Masyarakat awam biasa menggunakan istilah ini sebagai ungkapan apresiatif terhadap keindahan dan seni. Kant menggunakan istilah ini bukan dengan pengertian tersebut. Dalam Critique of Pure Reason, istilah estetika mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi.

Kant juga memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Kant mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari pengalaman tanpa melalui konseptualisasi. Intuisi yang dimaksudkan oleh Kant di sini hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu, tanpa konseptualisasi terhadap data tersebut.

2.     Revolusi Copernicus dalam Filsafat Kantian

Salah satu konsekuensi hadirnya Critique of Pure Reason, menurut Immanuel Kant adalah Revolusi ala Copernicus dalam dunia filsafat. Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke – 16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup. Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

3.     Sifat Dasar Pengetahuan

 Immanuel Kant menganalisis tentang pengetahuan dengan didasarkan pada pemahaman umum. Misalnya, jika kita melihat bir, ya kita melihat bir (itu saja). Tidak ada keraguan tentang hal itu. Dengan demikian Kant meyakini bahwa untuk mendalilkan teori skeptis, seperti tidak ada dunia di luar diri, merupakan jurang maut yang mendiskreditkan filsafat. Melalui Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi kondisi – kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant berpendapat bahwa akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh : gagasan pikiran setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling berkaitan. Hal ini bagi Kant tidak perlu dibuktikan secara empiris karena pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas dalam diri sendiri adalah benar. Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:

 - Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’.

 - Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”.

- Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

 - Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’.

4.     Pernyataan A Priori Sintetik

Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

5.     Fenomena dan Noumena

Kata ‘Fenomena’ merujuk pada dunia sebagaimana tampak pada kita dari perspektif personal. Bagi Kant, dunia nyata hanya merupakan dunia fenomena yang kita tangkap dan konseptualkan. Kita kemudian dapat memperluas perspektif kita ke pandangan umum manusia, dari sudut pandang ini kemudian kita memiliki gagasan objektif. Dunia fenomena berbeda dengan dunia noumena, yang mana merupakan dunia pada dirinya sendiri. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia noumena. Hal ini selamanya tidak dapat diketahui, karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita tentang dunia. Konsekuensi pemikiran Immanuel Kant tentang dunia fenomena dan noumena adalah : Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya melihat sesuatu, maka sesuatu tersebut ada, karena dapat disentuh dan diorganisasikan dalam pikiran. Hal ini merupakan sebuah fenomena bukan noumena. Kant mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri berada melampaui pengamatan kita. Misalkan kita mengamati fosil ammonite, maka noumena fosil tersebut akan memberikan fenomena pada kita tentang fosil ammonite. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa fosil ammonite ini merupakan fosil ammonite dalam dirinya sendiri. Konsep ‘fosil ammonite’ terbatas pada dunia fenomena. Membicarakan segala sesuatu di luar pengalaman kita, merupakan omong kosong, karena perspektif kita tidak akan pernah mengetahui das Ding an sich. Melalui konsep ini, Kant berpendapat bahwa dunia kita terbatas pada batas kemampuan memahami dan mengkonseptualisasikan sesuatu. Hal ini dapat dirangkum melalui pernyataan, “Saya tidak pernah sadar minum alkohol, sampai saya sadar akan kata – kata”

A.    DEDUKASI TRANSDENTAL

Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis, sebagaimana berikut ini:

1. Hanya jika A maka B,

2. B telah kita alami maka,

3. A

Kant menggunakan silogisme ini untuk menyimpulkan kondisi yang diperlukan untuk mengetahui. Premis 2 menunjukkan apa yang telah kita alami, premis 1 adalah kondisi yang memungkinkan kita memiliki pengalaman itu, Karena keduanya adalah benar, elemen transendental A pada langkah 3 harus mengikuti. Kant menggunakan metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan, atau kondisi pra – mengetahui.

Contoh penerapan metode deduksi transendental Kant adalah keharusan kesatuan diri sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Mari kita ambil contoh tentang pengalaman sementara kita dalam menikmati minuman beralkohol tuak. Silogismenya berbentuk:

1. Hanya jika terdapat kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak,

2. Saya pernah menikmati tuak, maka

3. Terdapat kesatuan diri saya sepanjang waktu.

 

B.    PENGETAHUAN MURNI DAN PENGETAHUAN EMPIRIS

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.

Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain:

- Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran.

Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.

Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.


HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN PEP

 

Filsafat adalah hidup, dan hidup adalah berpikir. Jadi ketika kita berpikir maka kita telah berfilsafat. Apa hubungan filsafat dengan pep, hubungannya adalah filsafat pep seperti lorong-lorong bangunan, lorong-lorong itu ada lorong besar, lorong kecil, dan ada lorong di sekat-sekat itulah filsafat pendidikan. Filsafat pep itu seperti di lorong-lorong kecil. Unsur dasar filsafat adalah spiritualitas yaitu memperkokoh iman kepada  tuhan yang maha esa karena unsur dasar filsafat adalah spiritualitas, dan filsafat dibawah spiritualitas. Artinya tidak ada yang mampu menyaingi keabsolutan kehidupan sekalipun itu hasil pemikiran manusia. Karena absolut hanya milik allah swt.

Pikiran manusia adalah dunia  dan dunia sifat nya relatif. Filsafat olah pikir, seseorang belum dikatakan berfilsafat jika tidak tahu besar itu kecil, panjang itu pendek, perlu itu tidak perlu. Hidup ini kontradiksi. Artinya manusia harus bijaksana dan mampu mengelola kontradiksi, perpecahan, perbedaan. Kesaktian itu ada 2 yaitu sakti hitam dan sakti putih. Filsafat itu pikir, kerja, rasa. Filsafat sulit di bantah. Ada 3 pilar hakekat, metode. Belajar filsafat berarti membangun olah pikir. Artinya ketika kita berfikir maka kita sudah membangun pkiran – pikiran kita dalam kehidupan. Kedudukan filsafat itu pasti ada yang disebut bagian umum yaitu filsafat umum sebagai sumber utama. Artinya jika dibagian umum memberikan informasi a maka sampai ke muaranya informasi tersebut tetap akan mengandung tentang a. Segala sesuatu itu pasti mengandung tiga komponen yaitu hakekat, metode dan manfaat. Jadi yang ada dan yang mungkin ada adalah manfaat buat manusia. Segala ada yang mungkin ada adalah metode. Itulah struktur pengetahuan yang paling dasar dan paling luas atau tinggi dari pikiran manusia terhadap manusia yang dikehendakinya. Makanya peran kita adalah yaitu dijalankan yaitu hakekat dijalankan dan manfaat dijalankan sesuai dengan orbit atau kemampuan atau disekelilingnya masing-masing. Jadi sebenar benar ilmu adalah ilmu yang dijalankan dan perjalanan yang dipikirkan.

Program luruh ego yang diterapkan di matakuliah fisafat memiliki peranan sangat urgen bagi kita dalam rangka mengkoreksi atau mengevaluasi terhadap kekurangan dan kelemahan yang kita miliki. Menrut saya program ini sangat penting dan urgen bagi kita semua, dalam rangka meluruhkan ego kita. Masih banyak keangkuhan dan kesombongan yang kita lakukan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Untuk itu melalui luruh ego suatu program yang senantiasa untuk perlu kita ikuti dan pahami secara mendalam sehingga tidak hanya sekedar pertanyaan dari prof. Marsigit dan kita menjawab soal tersebut tetapi mari kita dalami secara mendalam hakekakt dari luruh ego tersebut.

Ketika kita berfikir berarti ada sebuah pertanyaan, artinya ketika kita hidup tidak ada pertanyaan berarti kita tidak berfikir karena hidup dimulai dari bertanya. Tapi bertanya itu adalah permulaan dari kehidupan. Ada juga pikiran itu yang tidak dimulai dengan pertanyaan yaitu pikiran intuitif. Sintetik anatara sintesis dan anti tesis, hasil pemikiranya berupa konsep baru atau pemahaman baru.

Menurut immanuel kant menjelaskan bahwa pikiran manusia itu terbagi menjadi dua yaitu atas (logika) dan bahwa (pengalaman/empiris). Logika ada dua komponen analitik (konsisten dan valid) dan apriori (paham walupun tidak mengalami karena logikanya yang konsisten). Pikiran yang dibawah adalah pengalaman. Komponen pengalaman yaitu sintetik (hukum sebab akibat) dan aposteriori adalah mengerti setelah mengalami dengan menggunakan panca indera). Sebagai contoh anak kecil yang memahai sesutau, ketika anak belum melihat sesuatu yang diamati maka belum emmiliki pemahaman terhadap objek yang diamati. Menurut teori immanuel kant menjelaskan sebenar benar ilmu adalak perkawinan antara logika dan pengalaman.