Senin, 20 Desember 2021

RINGKASAN PERKULIAHAN MATAKULIAH FILSAFAT

 

Mengikuti perkuliahan filsafat yang diampu oleh prof. Marsigit menjadi pengalaman tersendiri bagi saya pribadi. Beliau menjelaskan tentang peranan filsafat dalam kaitanya dengan kehidupan seharai-hari kita. Dalam berfilsafat akan semakin mendekatkan diri dengan sang kholiq. Dalam perkuliahan filsafat ini beliau juga memberikan materi berkaitan dengan perkembangan pendidikan mulai dari jaman colonial atau industrial menjadi kearah yang semkain modern. Untuk ringkasan perkuliahan dari setiap pertemuan dapat kami sampaikan sebagai berikut:

 

Minggu

Ringkasan materi

1

Perkenalan, Mekanisme Perkuliahan  & Mengenal Filsafat

Pertemuan pertama pada perkulaiah filsafat ini, Prof. Marsigit memulai dengan menyampaikan mekanisme perkuliahan yang akan dilaksanakan selama satu semester. Proses perkuliahan yang dilakukan beliau dengan memanfaatkan aplikasi video conference atau zoom meeting sebagai sarana untuk melaksanakan perkuliahan. Selain itu beliau juga memanfaatkan WA sebagai sarana berkomunikasi dengan mahasiswa terkait dengan informasi-informasi perkuliahan, tugas-tugas dan lain sebagainya. Selama perkuliahan filsafat beliau akan terdapat tugas-tugas disetiap pertemuanya, yaitu merefleksi terkait dengan setiap pertemuan yang dilakukan. Beliau juga memanfaatkan facebook untuk menuliskan note of the day sebagai pendukung perkuliahan filsafat. Selama proses perkuliahan disarankan untuk membaca buku tentang filsafat seperti bukunya Emmanuel Kant dan beberapa referensi yang beliau tulis yang di buat di blog beliau (powermathematics.blogspot.co.id). Pada perkuliahan beliau memberikan tugas untuk melihat video pembelajaran yang beliau mat di youtube sebagai tugas pertma kemudian membuat CV dan lima pertanyaan sebagai tugas selanjutnya. Tugas-tugas ini kemudian dikirim dengan format pdf dikirim lewat WA.

Beliau mengawali materi filsafat tentang yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat metode pembelajaran Filsafat adalah mengubah dari yang mungkin ada menjadi ada. Unsur ada pada objek filsafat telah jelas bahwa segala sesuatu yang kita ketahui, yang kita telah lihat atau amati, serta yang kita pikirkan yang kemudian dapat kita jelaskan dan refleksikan secara jelas. Sedangkan unsur yang kedua dari objek filsafat yaitu yang mungkin ada, maksud dari unsur objek filsafat yang kedua ini adalah segala sesuatu yang belum terjadi, masih bersifat abstrak, belum kita ketahui dan belum pasti

 

 

2

Luruh Ego 1

Perkuliaahn yang kedua atau pertemaun yang kedua dimulai dengan pelaksanaan luruh ego. Luruh ego ini diterapkan memiliki maksud agar meluruhkan ego yang kita miliki. Bahwa masih erdapat kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada diri kita. Untuk hasil luruh ego yang pertama ini saya mendapatkan skor 0. Selian itu masih banyak mahasiswa yang mengalami hal yang sama yaitu mendapatkan skor 0. Pada penerapan luruh ego ini, beliau menyampaikan bahwa nilai 0 atau tidak bisa menjawab ini menandakan bahwa mahasiswa dating diperkuliahan dengan masih kondisi yang belum paham tentang filsafat. Beliau mengahargai dari hasil yang didapat dari luruh ego ini. Perkuliaahn kemudian dilanjutpada luruh ego ini kan dengan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan yang beliau sampaikan di luruh ego ini yang dikombinasi dengan tanya jawab dengan mahasiswa.

3

Luruh Ego 2

Pada pertemuan kedua perkuliahan masih dilakukan kegiatan luruh ego. Ini merupakan luruh ego yang kedua. Melalui mekanisme dan cara yang sama Prof Marsigit menerapakan kegiatan luruh egonya. Dalam luruh ego ini saya masih mendapatkan skor 0. Hal ini menandakan bahwa masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang terdapat pada diri saya terkait dengan matakuliah filsafat. Beliau memberikan penjelasan terkait dengan soal-soal luruh ego. Pada perkuliahan beliau melakukan tanya jawab dengan mahasiswa terkait dengan apa yang belum dipahami terkait dengan luruh ego ini. Prof. Marsigit masih mengapresiasi dan memberikan motivasi kepada mahasiswa dari semua hasil yang diperoleh oleh mahasiswa untuk senantiasa membaca referensi serta beberapa tulisan yang dibuat oleh beliau yang ada di blog beliau.

Untuk itu sebagai bentuk terapi kita terhadap ego yang ada pada diri kita, kita bisa membaca facebook dalam bentuk note of the day. Note of the day sebagai bentuk refleksi dalam kehidupan kita sehari-hari. Melalui note of the day ini banyak berisikan tentang nasehat-nasehat yang sangat bagus sebagai pemahaman bagi kita, dalam berinteraksi baik dengan keluarga, tetangga, teman kerja dan bahkan kepada Allah SWT.

4

Luruh Ego 3

Untuk perkuliahan ini Prof Marsigit masih menerapkan tes luruh ego. Hampir sama dengan model tes sebelumnya, luruh ego ini istilah-istilah yang ditanyakan semakin bervariasi dan memiliki tingkat kesukaran yang lebih dibandingkan dengan luruh-ego sebelumnya. Pada luruh ego kali ini saya mendapatkan skor 0 dan selalu menginstropeksi diri untuk selalu membaca referensi yang terkait dengan filsafat. Setelah melaksanakan luruh ego, seperti biasanya beliau menjelaskan tentang apa istilah-istilah yang digunakan dalam luruh ego. Kemudian beliau melanjutkan perkuliahan dengan melakukan tanya jawab dan diskusi dengan mahasiswa terhadap apa yang belum dipahami terkait dengan perkuliahan filsafat atau makan-makna lain dari hasil membaca blog dan note of the day.

5

Pada pertemuan ini Prof Marsigit ijin tidak dapat masuk kuliah dikarenakan kondisi Beliau yang kurang sehat. Pada pertemuan ini beliau memberikan tugas secara berkelompok untuk membahas mengenai pengalaman beradasarkan buku Emmanuel Kant.

6

Luruh Ego 4

Pada perkuliahan ini Prof. Marsigit masih memberikan akativitas luruh ego. Setelah melaksanakan luruh ego, seperti biasanya beliau melanjutkan menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam luruh ego dan dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab dengan mahasiswa. Pada  luruh ego ini saya masih mendapatkan nilai 0 dan masih banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai 0. Tentunya soal-soal yang digunakan pada luruh ego kali ini memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Inilah esensial dari program luruh ego yang senantiasa dilaksanakan diawal setiap perkuliahan sebagai bentuk luruhnya ego. Dapat dijelaskan bahwa berfilsafat itu berjuang melepaskan mitos untuk menuju logos. Fungsi luruh ego yaitu mengakui dan menyadari luruhnya ego kita dan mengadakan yang ada dan yang mungkin ada

7

Luruh Ego 5

Pada pertemuan kuliah ini Prof Marsigit masih melaksanakan program luruh ego. Luruh ego yang diterapkan ini ternyata masih banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai 0. Hal ini sebagai bentuk evaluasi pada pertemuan sesudahnya bahwa masih banyak mahasiswa yang ketika melaksanakan luruh ego-luruh ego yang dilaksanakan banyak pemahaman yang masih banyak belum dipahami oleh mahasiswa. Semua soal yang di gunakan oleh beliau berasal dari bukunya Immanuel Kant dengan judul the critique of pure reason. Untu itu, Prof Marsigit selalu memberikan nasehat untuk senantiasa membaca tentang berbagai referensi yang berkaitan dengan filsafat

8

Materi Filsafaf Pendidikan Tentang Syntesises On The Philosophical And  Theoretical Ground Of Mathematics Education

Perkuliahan ini menjelaskan tetang dasar atau landasan filosofis dan teoritis pendidikan atau pembelajran matematika. Beliau menjelaskan terdapat 18 kegiatan atau aktivitas landasan filosofis dan teoritis. Masing-masing aktivitas memiliki rincian keyword yang kemudian dapat dikembangkan ke dalam bidang yang lainya. Pada perkuliahan ini mahasiswa diberikan tugas untuk memilih satu aktivitas landasan filosofis dan teoritis untuk didiskusikan dan dikembangkan menyesuaikan bidangnya. Kemudian diskusi mahasiswa bisa mengacu pada pertanyan-pertanyaan sebagai berikut: Membahas implikasinya terhadap praktik pengajaran matematika?  Yang mana di antara mereka yang paling menguntungkan bagi Anda dan pengajaran Anda? Menjelaskan

9

Materi Filsafat Pendidikan

Perkuliahan menjelaskan tentang Politics and Idiliogy of Education. Prof. Marsigit membagi perkembangan masyarakat mulai dari industrial Trainer, Technological Pragmatism, Old Humanism, Progressive Eduacotor sampai dengan Public Educator. Masing-masing tahapan tersebut dipilah dalam beberapa aspek /landsan pendidikan mulai dari politik pendidikan sampai dengan orientasi kurikulum. Masing-masing memiliki landasan filosofis yang berbeda. Beliau memberikan contoh bagaimana realitas pendidikan di Indonesia yang sebagian besar masih bertahan pada tahapan Old Humanism, belum masuk pada tahapan progressive educator. Di akhir kuliah beliau juga sedikit membahas karya besar di bidang Filsafat Immanuel Kant yakni The Critique of Pure Reason yang menjadi bahasan utama disertasi Prof. Marsigit.

10

Materi Filsafat Tentang Etika dan Estetika

Perkuliahan ini membahas mengenai tema diluar dari pada perencanaan perkuliahan filsafat. Namun materi atau tema ini dapat dijadikan sebagai bahan pegangan bagi kita semua dalam berinteraksi dengan oranglain. Dalam berinteraksi dengan siapapun diperlukan diperlukan yang namanya etika dan estetika. Dalam mempraktikan etika dan estetika dalam kehidupan kita sehari-hari tidak mengenal yang namanya pangkat, gelar, kasta dan lain sebagainya. Namun seyogyanya ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih tua dari pada kita, kita harus menunjukan kesopanan yang baik sehingga orang yang lebih tua dari pada kita merasa dihormati dengan kesopanan yang kita lakukan. Kemudian diakhir pertengahan perkuliahan beliau memberikan contoh yang sangat luar biasa sekali tentang etika dan estetika. Hal ini bisa menjadi referensi bagi kita semua dalam berinteraksi dengan orang lain.

11

Menjelaskan Tugas Akhir

Perkuliahan ini menjelaskan tentang tugas akan dibuat oleh mahasiswa yang akan dikumpulkan diakhir semester. Beliau memberikan istilah pada tugas yang diberikan dengan sebutan tugas akhir. Tuagas akhir terdiri dari tugas yaitu tugas akhir 1 dan tugas akhir 2. Tugas akhir satu bertemakan tentang inovasi pendidikan dan pembelajaran sedangkan untuk tema tugas akhir dua bertemakan tentang penerapan filsafat dalam pendidikan dan pembelajaran, kemudian dideskripsikan sesuai dengan bidang masing-masing. Proses pengerjaanya diberikan waktu oleh Prof. Marsigit selama dua minggu. Hal ini diharapkan mahasiswa dapat memberikan yang terbaik terkait tugas yang dikerjakan

12

Proses Menyelesaikan  Tugas Akhir 1 dan Tugas Kahir 2

Pada pertemuan ini beliau menginstruksikan untuk memanfaatkan waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas akhir satu dan tugas akhir dua.

13

Proses MenyelesaikanTugas Akhir 1 dan Tugas Kahir 2

Pada pertemuan ini beliau menginstruksikan untuk memanfaatkan waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas akhir satu dan tugas akhir dua.

14

Review Tugas Akhir

Perkuliahan ini diisi dengan penjelasan beliau terkait dengan hasil tugas akhir mahasiswa yang telh dikumpulkan. Beliau mengambil secara acak beberapa tugas mahasiswa. Terdapat tugas yang belum sesuai dengan tema yang ditentukan. Beliau masih memberikan kesempatan waktu kepada mahasiswa untuk memperbaiki tugas akhirnya. Pada kesempatan ini beliau melanjutan  perkuliahan dengan menjelaskan tugas yang dimaksud dan arah yang diinginkan dari tugas akhir ini.

15

Review Tugas Akhir

Pertemuan ini Prof. Marsigit memberikan pengutaan dan penjelasan ulang terkait dengan tugas akhir satu dan dua. Beliau masih memberikan kesempatan waktu kepada mahasiswa untuk memperbaiki tugas akhirnya.

16

Finalisasi Tugas Akhir 1 dan Tugas Akhir 2

Pada perkuliahan ini di isi dengan pengecekan secara langsung tugas akhir yang dikerjakan oleh mahasiswa. Terdapat beberapa temuan bahwa tugas yang dibuat masih bersifat menyempit dan diinstruksikan untuk kembali ketema awal. Beliau menginstruksikan judul yang sudah dibuat untuk dijadikan sebagai sub judul sehingga tugas yang dihasilkan bisa mengandung makna yang luas. Beliau masih memberikan waktu untuk memperbaiki tugas akhir.

 

SINTETIK HUKUM ADALAH SEBAB AKIBAT

 

            Pada awal perkuliahan Prof. Marsigit selalu di iringi dengan doa, beliau sangat konsisten dengan hal itu. Kemudian kami melanjutkan dengan luruh ego yaitu ada 39 pertanyaan, dan saya hanya betul 4. Dari luruh ego tersebut didaptkan penjelasan dari beliau yang sangat luar biasa. Hal ini saya jelaskan sebagai berikut.

            Ketika kita bertanya maka hal tersebut menjadi permulaan atau dari kita berpikir. Berpikir itu intuisi, ada yang berpikir tapi tidak bertanya tetapi sebenarnya memikirkan apa yang sebenarnya pertanyaan akan ditanya. Berpikir itu sintetik dan akan menjadi antithesis. Hasil memikirkan maka akan menjadi konsep baru yang berawalan. Pikiran itu sendiri ada atas dan ada bawah. Pikiran atas adalah logika (konsisten dan valid) yang di bagi mejadi 2 yaitu analitik adan apriori, analitik itu konsisten dan benar, apriori itu paham dan belum mengetahui. Sedangkan pikiran bawah adalah pengalaman atau empiris.

            sintetik hukum adalah sebab akibat, immanual kant mengatakan logika itu llmu. Dan ilmu adalah logika (rasio) dan pengalaman. Hidup itu memikirkan kenyataan dan menerapkan pikiran. Metode scientific itu adalah menanya. Sementara hipotesis bukan bahasa indonesia dan tesis adalah pendapat sementara. Sadar dan realita itu adalah persepsi, sintetik dan apriori itu adalah ilmu, batas dan nihil itu adalah berakhir, asumsi dan konsep adalah aksioma, pengalaman dan konsen adalah asumsi, asumsi dan sepakat adalah permulaan, pengalaman dan konsep adalah intuisi, pengalaman dan priori adalah aposteriori.

Penampakan suatu objek bukanlah suatu objek. Objek tersebut ada hanya terbatas dari tangkapan panca indra manusia sedangkan benda yang asli berada di dunia noumena atau berada di luar batas dunia fenomenal manusia. Misalnya, buku yang kita lihat sebenarnya bukan buku yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah tanggkapan panca indra menusia dari apriori yang dimiliki. Terdapat benda yang asli dalam objek buku yang menusia lihat dan benda sebenarnya berada di dunia noumena yang tidak dapat dijangkau oleh indra dan pengetahuan manusia.

Peradaban pada zaman modern itu anti tesis dari zaman kegelapan. Zaman kegelapan merupakan zaman dimana gereja berkuasa artinya ketika zaman tersebut mereka menyatukan agama dan pemerintahan seingga mampu mengaturnya. Tidak boleh sembarangan orang untuk menyampaikan kebenaran dan kebenaran itu harus mendapatkan legalitas dari gereja. Suatu hari gereja memiliki teori kebenaran bahwa tatasurya itu peredarannya yang menjadi pusat adalah bumi yang bersifat geosentris. Pada abad 16 masuk kea bad 17 sudah mulai banyak ilmuan yang memiliki kebenaran bahwa pusatnya bukan bumi tapi matahari yang disebut heliosentris dimana ini kemudian disebut jaman modern. Kemudian munculah para tokoh ilmuan yang membuat tulisan tentang heliosentris dan munculah augus de comte yang menulis tentantang positivisme yang akhirnya mampu merubah dunia.

Pada pembelajaran yang dilaksanakan pada matakuliah filsafat, prof marsigit memberikan instruksi kepada mahasiswa bahwa dalam belajar filsafat tidak boleh dicatat dan dihafalkan. Hal ini dikarenakan sebaik-baik filsafat adalah enjelasanya. Untuk itu kita harus memperbanyak baca referensi yang berkaitan dengan filsafat terutama buku immanuel kant. Karena kita mengikuti perkuliahan prof marsigit kita juga harus membaca tulisan yang dihasilkanoleh prof marsigt baik di facebook yang dituangkan dalam bentuk note of the day dan blog yang dibuat oleh beliau.

PENTINGNYA ETIKA DAN ESTETIKA

Pada perkuliahan filsafat membahas tentang pentingnya etika dan estetika pada diri seseorang. Hidup pada lingkungan yang majemuk dan penuh dengan karakteristik manusia yang heterogen tentunya kita harus mampu membawa diri serta mampu menyesuaikan dengan lingkungan masyarakat dimana kita berada. Hal ini dikarenakan etika dan estetika yang terdapat didaerah satu dengan daerah yang lain tentunya tidak sama dan terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita. Maka dari itu perkuliahan filsafat pada kali ini membahas tentang pentingnya etika dan estetika dalam berinteraksi dengan sesama.

Perkuliahan filsafat yang disampaikan oleh prof. Marsigit memberikan pengalaman yang sangat luar biasa sekali terkait dengan pentingnya etika dan estetika dalam berinteraksi dengan sesama. Banyak sekali penjelasan yang beliau sampaikan terkait dengan materi etika dan estetika. Bahkan pada perkuliahan ini beliau juga mencotohkan sikap saling maaf memaafkan antar sesama. Pada contoh yang disampaikan oleh prof. Marsigit mengandung makna bahwa ketika kita melakukan kesalahan atau berbuat yang sekiranya merugikan orang lain yang diakibatkan karena etika, sikap, perbuatan yang kita lakukan kita harus berani untuk bertanggung jawab dengan melakukan permohonan maaf kepada orang tersebut. Pada konteks contoh yang dijelaskan oleh prof marsigit mengandung arti bahwa dalam persoalan etika dan estetika tidak mengenal yang namanya pangkat, gelar, jenis kelamin dan lain sebagainya. Artinya bahwa jika kita sudah berada disuatu lingkungn masyarakat kita harus beretika dan berestetika dengan sopan dan santun kepada orang yang lebih tua sehingga suasana saling hormat menghormati semakin lebih terjaga dengan baik.

Pada era yang semakin modern ini, banyak sekali kejadian atau kasus yang menggambarkan betapa miskinya etika dan estetika yang dimiliki oleh pemuda-pemuda diegara kita. Masuknya budaya barat yang semakin genjar masuk dinegara kita semakin besar pengaruhnya terhadap etika dan estetika pemuda-pemuda penerus bangsa. Tentunya kita harus bisa memfilter budaya-barat yang masuk dinegara kita sehingga tidak terbawa arus dan nantinya akan berdampak pada moral, etika dan estetika yang tidak baik pada diri anak-anak kita. Dalam hal ini faktor keluarga memiliki peranan penting dalam menanam serta menumbuh kembangkan etika dan estetika pada diri seseoarang. Melalui contoh-contoh kecil serta kebiasaan sikap yang positif dimulai dari keluarga secara tidak langsung akan tertanam pada anak kita.

Pada kesempatan perkuliahan kali ini, saya dapat menarik sebuah hikmah betapa pentingnya etika dan estetika pada diri seseoarang. Selain itu, kita juga di berikan sikap saling maaf memaafkan antar sesama ketika kita sedang berinteraksi dan bersosialisasi. Banyak sekali orang yang sebenarnya bersikap dan kemudian dengan sikap itu ada orang yang merasa dirugikan tapi orang tersebut tidak mampu dan tidak mau untuk meminta maaf kepada orang lain. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua dari apa yang sudah dijelaskan dan diuraikan secara jelas dan sangat luar biasa oleh prof marsigit bahwa dalam konteks etika dan estetika tidak mengenal yang namanya jabatan, pangakat, gelar dan lain sebagainya. Perihal etika dan estetika dalam agama juga sudah dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling maaf memaafkan jika kita melakukan kesalahan atau kekeliruan yang kemudian dapat merugikan orang lain. Melalui luruh ego serta note of the day yang disamaikan oleh prof marsigit memberikan pengalaman yang sangat luar biasa betapa masih banyakya kekurangan yang kita miliki selama kita hidup didunia serta ketika kita berinteraksi dengan sesama. Tidak ada satupun yang dapat kita banggakan dihadapan allah swt selain keimanan dan ketaqwaan serta amal kebaikan yang kita  kerjakan.

 

 


PENERAPAN FILSAFAT DAN IDEOLOGI DI DALAM INOVASI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN DI SEKOLAH

 

A.    PENDAHULUAN

Filasafat adalah pemikiran secara sistematis dan universal untuk mencapai hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Berpikir secara sistematis dan universal tersebut adalah berpikir secara sungguh-sungguh dan bertujun untuk mengetahui secara mendalam tentang segala sesuatu yang dipikirkan ini berarti ingin mencari hakikat kebenaran sesuatu. Oleh karena itu tujuan filsafat sesungguhnya adalah mencapai kebenaran yang hakiki. Tujuan mencari kebenaran ini merupakan keharusahan bagi para filsuf. Kebenaran ini akan mempengaruhi tindakan, keyakinan sehingga akan membentuk sikap seseorang. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan :

1.   Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.

2.   Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.

3.   Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu.

Ontologi mencakup banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk disini, misalnya Logika, Metafisika, Kosmologi, Teologi, Antropologi, Etika, Estetika, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum dan lain-lain.

Epistimologi hanya mencakup satu bidang saja yang disebut epistimologi yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi setiap cabang filsafat. Sedangkan Aksiologi hanya mencakup satu bidang filsafat yaitu aksiologi yang membicarakan guna pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi semua cabang filsafat. Inilah kerangka struktur filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat itu ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis berarti benar dan bila tidak logis berarti salah. Ada hal yang patut diingat. Kita tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktukan kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Bila logis dan tidak empiris itu adalah pengetahuan sains. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis dan tidaknya teori itu. Ukuran logis dan tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan teori itu.

Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.

Di dalam pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnostisisme. Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”. Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure, metode, dan validitas pengetahuan. Pengetahuan di dapatkan dari pengamatan.

Di dalam pengamatan indrawi tidak dapat di tetapkan apa yang subjektif dan apa yang objektif. Jika kesan–kesan subjektif di anggap sebagai kebenaran, hal itu mengakibatkan adanya gambaran–gambaran yang kacau di dalam imajinasi. Segala pengetahuan di mulai dengan gambaran–gambaran indrawi. Gambaran–gambaran itu kemudian di tingkatkan sampai kepada tingkatan–tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif. Di dalam pengetahuan rasional orang hanya mengambil kesimpulan–kesimpulan, tetapi di dalam pengetahuan intuitif orang memandang kepada idea–idea yang berkaitan dengan Allah. Disini orang di masukkan ke dalam keharusan ilahi yang kekal. Demikian menurut Baruch Spinoza sebagai salah seorang tokoh Resiesinalisme. Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia ( world view). Dalam hidup kita banyak menghadapi masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan lebih enak jika masalah itu terselesaikan. Ada banyak cara dalam menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya ia ingin mencari asal masalah. Universal artinya filsafat ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.

Filsafat jika ditinjau lebih mendalam lagi bukan sekedar ilmu logika yang lebih mengedepankan rasionalitas, karena filsafat merupakan pondasi awal dari segala macam disiplin keilmuan yang ada. Sedangkan ilmu merupakan suatu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat dari waktu ke waktu. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia menggunakan ilmu seperti agama, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan lain sebagainya.

Filsafat yang mengedepankan eksplorasi logika yang insyaf, radikal dan bebas ternyata tidak selamanya mampu memberikan solusi terbaik kepada manusia. Filsafat dari waktu ke waktu tidak pernah mengalami kemajuan (passif). filusuf hanya bisa berfikir tanpa bisa mengekspresikan hasil pemikirannya dalam bentuk yang lebih praktis. inilah yang membingungkan. Maka lahirlah Ilmu (sains) yang menjadi cabang atau pemekaran dari filsafat itu sendiri yang tidak hanya mengandalkan kekuatan logika semata, tetapi sudah berupaya menjabarkan dengan bukti2 empiris dan rasional melalui riset-riset atau uji coba yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun lagi-lagi hal itu tidak cukup untuk menjawab dan menyelesaikan problematika kehidupan karena kerapkali dijumpai teori (ilmu) yang tidak sesuai dengan realita, pun sebaliknya, realita tidak selamanya harus dibarengi dengan teori.  Oleh karena itu manusia terus mencari solusi guna menjawab tantangan-tantangan tersebut, yaitu dengan agama.

Agama lahir sebagai pedoman dan panduan bagi kehidupan manusia. Agama lahir tidak dengan rasio, riset, dan uji coba belaka melainkan lahir dari proses penciptaan dzat yang berada di luar jangkauan akal manusia dan penelitian pada objek-objek tertentu. Agama menjadi titik akhir dari suatu perjalanan jauh manusia dalam mencari kepuasan hidup yang tidak bisa didapatkan dalam filsafat dan sains (ilmu).

Permainan kata-kata atau kalimat berikut diharapkan dapat memberi gambaran selintas tentang filsafat (Marsigit, 2013):

“Filsafat adalah olah pikir refleksif. Obyek material filsafat adalah obyek kajiannya, sedangkan obyek formal filsafat adalah metodenya. Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Metode untuk mempelajari filsafat beraneka ragam, tetapi yang menonjol adalah hermeneutika. Alat yang digunakan untuk mempelajari filsafat adalah bahasa analog. Namun secara ontologis tidak ada batasan filsafat yang paling baik, karena definisi dan penjelasan filsafat tergantung kepada filsuf dan konteks budayanya. Tetapi disepakati bahwa dalam filsafat paling tidak terdapat 3 pilar utama yaitu ontology, epistemology dan aksiologi. Perbedaan filsafat adalah perbedaan pemikiran filsufnya. Perbedaan pemikiran filsuf adalah perbedaan obyek dan metodenya. Aliran filsafat adalah pengaruh pemikiran filsufnya. Dan karakteristik atau ciri filsafat adalah penjelasannya. Implementasi filsafat adalah di luar jangkauannya. Tidak setuju atau menolak filsafat adalah berfilsafat pula. Makro filsafat adalah dunianya. Mikro filsafat adalah subyek diri. Tiadalah sebenar-benar ada seorang filsuf, karena tidak ada seorang filsufpun yang mengaku sebagai filsuf. Karakter tertinggi dalam filsafat adalah karakter Socrates karena pengakuannya yang tidap dapat mengerti apapun. Struktur filsafat yang aku kehendaki adalah hirarkhi berdimensi: material, folmal, normatif dan spiritual. Filsafat dimulai dari pertanyaan dan diakhiri pula dengan pertanyaan. Kesimpulan pertanda belum berfilsafat. Awal dari filsafat adalah kesadaran, dan akhir dari filsafat adalah mitos. Adab berfilsafat adalah tata-cara berfilsafat; dan tata cara berfilsafat adalah filsafat itu sendiri. Kesimpulan berfilsafat adalah bahwa ternyata filsafat adalah diriku sendiri. Ternyata aku tidak dapat menemukan diriku sendiri, padahal aku tahu bahwa diriku adalah sifat-sifatku. Maka diriku bisa pikiranku bisa pula doaku. Kebenaran adalah diriku yang tertutup, sedangkan diriku yang terbuka adalah ilmuku. Ternyata aku menemukan bahwa diriku tidak sama dengan diriku, dikarenakan bujuk dan rayuan ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu adalah intuisiku, yaitu intuisi pikiran dan intuisi pengalamanku. Diriku tidak sama dengan diriku adalah kontradiksi karena itu adalah pengalaman menemukan diriku. Sedangkan diriku adalah diriku adalah identitas jika dia masih berada di dalam pikiranku, tetapi serta merta akan menjadi salah jika aku ucapkan atau aku tuliskan. Setinggi-tinggi tujuanku berfilsafat adalah sekedar menjadi saksi. Saksi adalah kuasa menyaksikan dan mengalami. Kuasa itu adalah diriku. Padahal diriku bisa apa saja (op maaf). Kemarin saya otoritarianisme sedangkan sekarang saya demokratis; kemarin saya Platonist sedang sekarang saya Aristotelianis; kemarin saya Pragmatis sedangkan sekarang saya Idealist, dst. Itulah bukti bahwa diriku adalah filsafat. Demikian juga engkau muridku adalah juga filsafat, bedanya mungkin engkau belum menyadarinya.

B.    LANDASAN FILOSOFI DALAM PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan berusaha menjelaskan banyak makna yang berbeda yang berhubungan dengan istilah-istilah yang banyak digunakan dalam lapangan pendidikan seperti kebebasan, penyesuaian, pertumbuhan, pengalaman, kebutuhan, dan pengetahuan. Penjernihan istilah-istilah akan sampai pada hal-hal yang bersifat hakiki, maka kajian filsafat tentang pendidikan akan ditelaah oleh cabang filsafat yang bernama metafisika atau ontologi. Ontologi menjadi salah satu landasan dalam filsafat pendidikan. Selain itu, kajian pendidikan secara filsafati memerlukan pula landasan epistemologis dan landasan aksiologis (Rukiyati: 2015).

1.                  Landasan Ontologi Pendidikan

Ontologi merupakan bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari metafisika, dan metafisika merupakan salah satu bab dari filsafat. Obyek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya.

Ditinjau dari segi ontologi, ilmu membatasi diri pada kajian yang bersifat empiris. Objek penelaah ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hal-hal yang sudah berada diluar jangkauan manusia tidak dibahas oleh ilmu karena tidak dapat dibuktikan secara metodologis dan empiris, sedangkan ilmu itu mempunyai ciri tersendiri yakni berorientasi pada dunia empiris (Amka: 2019).

Landasan ontologis atau sering juga disebut landasan metafisik merupakan landasan filsafat yang menunjuk pada keberadaan atau substansi sesuatu. Misalnya, pendidikan secara ilmiah ditujukan untuk mensistematisasikan konsep- konsep dan praktik pendidikan yang telah dikaji secara metodologis menjadi suatu bentuk pengetahuan tersendiri yang disebut Ilmu Pendidikan. Pengetahuan ilmiah mengenai pendidikan pada hakikatnya dilandasi oleh suatu pemikiran filsafati mengenai manusia sebagai subjek dan objek pendidikan, pandangan tentang alam semesta; tempat manusia hidup bersama, dan pandangan tentang Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam semesta tersebut (Rukiyati: 2015).

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Disini bermakna bahwa adanya pendidikan bermaksud untuk mencapai tujuan, maka dengan ini tujuan menjadi hal penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat membawa anak menuju kepada kedewasaan, dewasa baik dari segi jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna ontologi dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan dimana sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu (Mubin: 2020).

2.                  Landasan Epistemologi Pendidikan

Epistemologi adalah cabang filsafat yang disebut juga teori mengetahui dan pengetahuan. Epistemologi sangat penting bagi para pendidik. Akinpelu (Dalam Rukayati: 2015) mengatakan bahwa area kajian epistemologi ada relevansinya dengan pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Pencarian akan pengetahuan dan kebenaran adalah tugas utama baik dalam bidang filsafat/epistemologi maupun pendidikan. Sebagaimana dinyatakan oleh Dewey, hanya saja antara epistemologi dan pendidikan terdapat perbedaan dalam hal prosesnya. Pendidikan sebagai proses memusatkan perhatiannya pada penanaman pengetahuan oleh guru dan perolehannya oleh peserta didik, sedangkan epistemologi menggali lebih dalam sampai pada akarnya pengetahuan.

Guru-guru di dalam kelas memberikan berbagai jenis pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Akan baik bagi seorang guru mengetahui berbagai jenis pengetahuan yang diberikannya, apa sumber pengetahuan tersebut, dan bagaimana tingkat kepercayaan kita pada pengetahuan tersebut. Penting dan menjadi keharusan bagi guru untuk mengetahui jenis pengetahuan dalam disiplin ilmunya yang diberikan kepada murid-muridnya. Hal ini akan membantu guru untuk menyeleksi bahan ajar dan penekanannya pada materi tertentu dalam mengajar.

Epistemologi membahas konsep dasar dan sangat umum dari proses mengetahui, sehingga erat kaitannya dengan metode pengajaran dan pembelajaran. Banayak sekali kita dijumpai di lapangan bahwa terdapat guru atau pengajar yang memiliki prinsip dan keyakinan guru tersebut dalam menjalankan proses pembelajaranya disekolah masing-masing. Tentunya ini menjadi perhatian bahwa karakterstik atau kondisi baik tu satuan oendidikanya, siswanya, sarana prasaraa, letak geografis mnejadi dasar kenapa guru melaksanakan proses pembelajaran yang mereka yakini bahwa cara itu paling efektif untuk diterapkan.

Menurut (Rukayati: 2015) dapat diketahui bahwa dalam kegiatan pendidikan sangat erat dengan epistemologi karena pendidikan selalu berkaitan dengan pemberian pengetahuan oleh pendidik, dan penerimaannya, serta pengembangannya oleh peserta didik. Dalam setiap pengetahuan yang disampaikan oleh guru dengan berbagai disiplin ilmu masing-masing terdapat dasar epistemologinya sendiri-sendiri.

3.                  Landasan Aksiologis Pendidikan

Aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas teori-teori nilai dan berusaha menggambarkan apa yang dinamakan dengan kebaikan dan perilaku yang baik. Bagian dari aksiologi adalah etika dan estetika. Etika menunjuk pada kajian filsafati tentang nilai-nilai moral dan perilaku manusia. Estetika berkaitan dengan kajian nilai-nilai keindahan dan seni. Metafisika membahas tentang hakikat kenyataan terdalam, sedangkan aksiologi menunjuk pada preskripsi perilaku moral dan keindahan. Para pendidik selalu memperhatikan masalahmasalah yang berkaitan dengan pembentukan nilai-nilai dalam diri para subjek didik dan mendorong ke arah perilaku yang bernilai (Gutek dalam Rukayati: 2015).

Secara tidak langsung landasan aksiologis pendidikan tecermin di dalam perumusan tujuan pendidikan. Tatkala orang merancang pendidikan, maka ia harus memulainya dengan merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan pendidikan didasarkan oleh nilai-nilai yang diyakini yang berusaha untuk diwujudkan tindakan nyata. Hal itu dapat diartikan bahwa menurut Armstrong pendidikan harus dilandasi oleh nilai-nilai kehidupan yang bersifat holistik sehingga pendidikan yang ingin diwujudkan adalah pendidikan yang bersifat holistik pula.

Dalam konteks Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan tujuan pendidikan yang meliputi banyak aspek, baik individual maupun sosial, jasmaniah dan rohaniah. Tujuan pendidikan dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang bersifat holistik, yaitu nilainilai Pancasila. Di dalam pasal 3 UU Sisdiknas disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia 31 yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jadi, ada nilai-nilai kehidupan yang berdimensi horizontal dan vertikal yang terkandung di dalam tujuan pendidikan tersebut.

Menurut Marsigit (2010) secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakekat karakter, implementasi dan contoh-contohnya; menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa maupun secara universal. Jika karakter dipandang sebagai nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting. (Rukayati: 2015) bahwa landasan aksiologis ilmu pendidikan adalah konsep nilai yang diyakini yang dijadikan landasan atau dasar dalam teori dan praktik pendidikan.

 

C.    KEBERADAAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Indonesia merupakan nagara yang besar baik dari segi wilayah, penduduk, kekayaan alam. Semua kekayaan itu seharusnya dikelola dengan baik oleh seluruh putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Untuk membentuk putra-putri terbaik tersebut maka pendidikan merupakan suatu upaya dan proses untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita mulia negara Indonesia. Negara bertujuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa, dan masyarakat merasa berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, oleh sebab itu tarik menarik antar kewajiban dan hak tersebt seharusnya dapat dijadikan modal yang kuat. Oleh sebab itu pendidikan merupakn solusi dalam menjelaskan dan memposisikan antara hak masyarakat dan kewajiban negara dalam pendidikan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan tentunya banyak sekali kendala atau permasalahan yang dihadapi. Indonesia yang memiliki wilayah geografis yang yang sangat luas dan bahkan dibeberapa wilayah harus melewati jalur perairan untuk menuju lokasi daerah tersebut. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah dalam mengupayakan penyelenggaraan pendidikan secara merata dan fairness. Tentunya akan timbul permasalahan yang semakin pelik dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia mulai dari pemerataan kurikulum, pemerataan guru, pemerataan fasilitas, pemerataan akses, pemerataan referensi, dalan lain sebagainya. Disinilah dibutuhkan alternatif-alternatif solusi untuk menjawab semua permasalahan yang dihadapi baik secara teoritis maupun secara praktis. Salah satunyanya yaitu melalui pamahaman filsafat bagi seluruh penyelenggara pendidikan.

Pendidikan dilakukan oleh manusia melalui kegiatan pembelajaran. Dalam praktik pendidikan yang universal banyak ditemukan beragam komunitas dari manusia yang memberikan makna yang beragam dari pendidikan. Di Indonesia pendidikan di tekankan pada penguasaan landasan terbentuknya masyarakat meritorik, artinya memberikan waktu jam pelajaran yang luas dalam penguasaan mata pelajaran tertentu (Azmi: 2018).

Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih mendalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman atau fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Tenaga pengajar atau guru harus dapat memamahi tentang filsafatndi pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan.

Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut suatu bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat itu sendiri. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dn mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku yang didasarkan pada prinsip-prinsip filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin upaya pendidikan dan proses tersebut efektif, dibutuhkan landasan-landasan filosofis.

Filsafat mengajarkan manusia, untuk berpikir secara holistik dengan menggunakan berbagai sudut pandang, sebelum akhirnya membuat suatu keputusan, ini berarti tanggung jawab merupakan suatu tanggung jawab dalam berfilsafat. Filsafat membantu menjamin agar tujuan selalu menentukan pilihan-pilihan sarana, mempertajam  dan menjelaskan seni, dan menumbuhkan keterampilan. Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan dalam diri peserta didik kebebasan sehingga membentuk subjek moral yang bertanggung jawab. Ilmu pengetahuan yang memungkinkan untuk menjelasakan, mengontrol, dan memprediksi tetap mendasarkan diri pada ideal moral untuk mendidik para individu yang berkarakter, mandiri dan mampu mengendalikan dirinya.

Menurut Harisah (2018) menjelaskan bahwa keberadaan filsafat dalam menjalankan system pendidikan di Indonesia menjadi penting sekali, sebab menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, pendidikan dan pengalaman manusia.

 

Penerapan Filsafat di Sekolah

Filsafat termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu.

Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik). Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.

Sesuai yang tercantum dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Usaha di sini berarti kegiatan atau perbuatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Sadar adalah insyaf, yakin, tahu, dan mengerti. Sedangkan terencana adalah menyusun sistem dengan landasan tertentu untuk kemudian dilaksanakan.

Perencanaan pendidikan secara sengaja dan sungguh-sungguh ini tentunya dilakukan oleh insan pendidikan yang mempunyai kewenangan dan tanggung jawab menyeluruh terhadap keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah. Selain itu penerapan filsafat pendidikan di dalamnya merupakan faktor yang ikut menentukan dan membantu para pelaku pendidikan tersebut.

Menurut Amka (2019) menjelaskan bahwa filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat diterapkan dalam penentuan kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran guru atau pendidik juga anak didiknya. Adanya berbagai aliran dalam filsafat pendidikan juga menyebabkan berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan guru dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Semuanya tergantung pada mazhab apa yang diterapkan atau dianut oleh para pelakunya. Hanya saja, dalam hal ini mereka dituntut untuk memiliki kurikulum yang relevan dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan dengan perkembangan jaman dan menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal.

Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan pendidikan tidak hanya terpaku pada salah satu pihak semata, melainkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya masing-masing dengan baik.


D.    STRUKTUR INOVASI DALAM FILSAFAT

Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat, 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Muntohar, 2010 mengartikan bahwa spiritualitas adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan non-fisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung kepada Tuhan: atau sesuatu unsur yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita.

Spiritualitas merupakan puncak kesadaran ilahiah menurut Saifuddin Aman dalam Tren Spiritualitas Milenium Ketiga. Spiritualitas membuat kita mampu memberdayakan seluruh potensi yang diberikan Tuhan untuk melihat segala hal secara holistik sehingga kita mampu untuk menemukan hakikat (kesejatian) dari setiap fenomena yang kita alami. Dalam bahasa yang sedikit berbeda Syahirin Harahap dalam Membalikkan Jarum Hati mendeskipsikan mereka yang memiliki kesadaran atau kecerdasan spiritual sebagai orang-orang yang mampu mengarungi kehidupan dengan panduan hati nurani. Rohani, yang kuat karena bimbingan maksimal hati nurani tersebut, akan membuat orang lebih dinamis, kreatif, memiliki etos kerja tinggi, dan lebih peduli, serta lebih santun.

Menurut Marsigit (2007-2013) Memang secara ontologis agama dan filsafat berbeda. Agama seperti diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal dari Tuhan, sedangkan filsafat merupakan oleh pikir manusia. Agama diturunkan sebagai pedoman moral untuk manusia dengan cara memahami, menafsirkan dan mengamalkannya. Di sisi lain, filsafat merupakan olah pikir refleksif manusia sehingga memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan memahami dan menafsirkan butir-butir ajaran agama. Dengan demikian filsafat berfungsi sebagai supporting factor bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kualitas peribadatannya. Hirarkhi kemampuan manusia untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama tercermin dalam hypothetical-reflections  (Marsigit, 2007-2013) sbb:

“Setingg-tinggi ilmu dan pikiran (filsafat) tidaklah  mampu mengetahui segala seluk beluk hati (spiritual). Sehebat-hebat ucapan, tidaklah mampu mengucapkan semua yang dipikirkan. Sehebat-hebat tulisan, tidaklah mampu menulis semua ucapan. Sehebat-hebat perbuatan, tidaklah mampu melaksanakan semua tulisan. Maka janganlah kita mengandalkan hanya pikiran (filsafat) saja untuk memaknai spiritual (agama), melainkan bahwa gunakan dan jadikan hati kita masing-masing sebagai komandan dalam hidup kita. Sesungguhnya, di dalam hati itulah bernaung ilmu spiritualitas kita masing-masing.”

Kata filsafat yang dalam bahasa Arab ‘falsafah’ yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah ‘philosophy’, adalah berasal dari bahasa Yunani ‘philosophia’. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalamdalamnya. Seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582 – 496 SM).

Hakekat adalah suatu prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala sesuatu. Ada merupakan implikasi dasar. Jadi segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti dia adalah ada. Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan keberadaan. Jadi filsafat membahas lapisan yang terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalah-masalah yang paling dasar. Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu obek/gejala secara mendalam. Sedangkan pada ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejala-gejala. Membicarakan gejala untuk masuk ke hakekat itulah dalam filsafat. Untuk sampai ke hakekat harus melalui suatu metode-metode yang khas dari filsafat. Kalau digambarkan dalam suatu bagan perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan empiris adalah :


 

Secara definitif, ideologi banyak ragamnya. Ideologi menurut The Advence Learner’s Dictionnary adalah suatu sistim dari pada idea-idea atau hasil pemikiran yang telah dirumuskan untuk teori politik atau ekonomi. Ideologi menurut The Wbster’s New Collegiate Dictionary adalah : 1. cara hidup (tingkah laku) atau hasil pemikiran yang menunjukkan sifat-sifat tertentu dari pada seorang individu atau sesuatu kelas; 2. Pola pikiran mengenai pengembangan pergerakan atau kebudayaan (Sukarna, 1981). Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) secara umum mengartikan ideologi adalah sekumpulan keyakinan-keyakinan, kepercayaankepercayaan, gagasan-gagasan yang menyangkut serta mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam pelbagai bidang kehidupan. Bidang kehidupan itu secara garis besar ada lima hal yaitu bidang politik (termasuk di dalamnya bidang pertahanan/keamanan), sosial, ekonomi, kebudayaan, dan keagamaan. Namun berbagai hal variasi definisi ideologi itu, yang jelas ideologi adalah hasil dari suatu kegiatan pemikiran.

Di dalam kegiatan pemikiran itu selalu menggunakan ratio. Immanuel Kant (1724-1804) seorang filosof Jerman mengemukakan bahwa ratio manusia itu di dalam kegiatan pemikirannya terbagi dua yaitu : Reinen Vernunft atau pure reason atau pikiran murni, dan practische Vernunft atau practical reason atau pikiran praktis. Pure reason dalam kegiatannya bersifat metaphysis yaitu keluar jagat raya sehingga sampai kepada Lex Devina yaitu Tuhan yang menciptakan alam semesta dan manusia. Sedangkan practical reason dalam kegiatannya bertalian dengan experience atau pengalaman di mana pengalaman itu tidak terlepas dari panca indera manusia. Dengan menggunakan teori Immanuel Kant itu maka dalam ideologi sebagai hasil pemikiran manusia dalam bidang kehidupannnya, tidak akan dapat lepas terhadap kepercayaan adanya yang Maha Ghaib, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan terlepas dari pengalaman-pengalaman yang telah dialami manusia pada masa silam dan masa sekarang. Sebenarnya sesuatu ideologi itu walaupun berasal dari pada hasil pemikiran seseorang atau lebih, pada kenyataannya tidak terlepas dari pada kenyataan yang hidup dalam masyarakat, bahkan pemikir itu tadi tidak akan dapat hidup dalam masyarakat. Jadi sesuatu pemikiran itu menunjukkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Tetapi masyarakat itu sendiri dipengaruhi oleh hasil pemikiran itu sendiri.

Ideologi sebagai suatu rangkaian kesatuan cita-cita yang mendasar dan menyeluruh dan yang mengkait menjadi suatu sistem pemikiran yang logis, adalah bersumber pada filsafat. Filsafat yang scara harafiah mengandung arti kegandrungan mencari hikmah kebenaran dan arif kebijaksanaan dalam hidup dan kehidupan selalu berusaha memperoleh suatu pandangan menyeluruh bersatu dari pada hakekat alam semesta raya, dimana manusia itu hidup. Dalam kaitannya dengan filsafat, Roeslan Abdulgani (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) berpendapat bahwa ideologi dapat dikatakan sebagai hasil filsafat yang sudah datang kepada kesimpulan, yang seakan-akan sudah tegak dan mantap dalam sikap dan pendirian hidupnya, dan yang tidak lagi terbang diawang renungan. Dalam bidang ilmu pengetahuan orang berbicara masalah ‘pemahaman’ maka di dalamnya mengandung sejumlah pengertian tertentu, yaitu : pemahaman dengan menggunakan akal budhi; pemahaman dengan menggunakan akal pikiran; pemahaman dengan menggunakan alat-alat inderawi sebagai sasarannya. Apabila orang hendak merubah bentuk pengertian pemahaman itu, menurut Soejono Soemargono (1986) dalam Slamet Sutrisno (1986) tahapan berpikir secara esensial-kefilsafatan, tahapan berpikir secara eksistensial-positif, dan tahapan berpikir secara operasional pragmatic.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abbas Hamami M.,, 1976, Filsafat, Yayasan Pembinaan Fak. Filsafat UGM, Yogyakarta

Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Marsigit. 2013. Makalah : Pergulatan memperebutkan Filsafat, Ideologi dan Pardaigma. Yogyakarta

Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

FILSAFAT BILANGAN NOL

Oleh: Marsigit UNY
22 September 2017



Filsafat bilangan dapat ditelusuri dari pengalaman psikologis pemahaman objek matematika, diri kita masing masing sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.

Pemahaman atau pengertian awal matematika yang kita kenal sejak sedini mungkin, adalah pengertian intuitif matematika.

Pengertian atau konsep intuitif adalah lawan dari pengertian formal.

Pengertian intuitif ditandai dengan 5 sifat utama yaitu:

1. Tidak bisa diingat dimana kita mengetahui?

2. Tidak bisa diingat kapan kita mengetahui?

3. Tidak bisa diingat dari mana pengertian itu datang?

4. Tidak bisa diingat bagaimana kita bisa mengerti?

5. Tidak bisa diingat mengapa kita mengerti?

Contoh pengertian-pengertian intuitif, yaitu pengertian tentang:
besar, kecil, panjang, pendek, dekat, jauh, tinggi, rendah, senang, sedih, indah, sayang, cinta, sedikit, banyak, satu, dua, lima, sama, beda, gabung, pisah, nyaman, setia, bundar, lancip, miring, lurus, lebih, kurang, ... dst.

Anak kecil mengerti bilangan nol, satu, dua bukan dari definisi atau ilmu bilangan, tetapi dari hasil pengalamannya bergaul atau berinteraksi dengan orang tua, keluarga dan tetangga sekitar.

Kita mengerti bilangan satu, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telunjuk jari, kepala, hidung, matahari, Esanya Tuhan, dst.

Kita mengerti bilangan dua, bisa dari berbagai macam sebab, banyaknya:
telinga, kaki, tangan, mata, orang tua, dst.

Kita mengerti bilangan lima, kebanyakan melalui peragaan telapak tangan dengan kelima jarinya, berapa kali salat wajib dalam sehari, dst.

Kita mengerti bilangan nol, bisa dari pengertian: tidak ada, tidak punya, kosong, tidak melakukan apa apa, dst.

Maka kita mengerti bilangan cacah di bawah bilangan sepuluh sebagai pengertian intuitif, dan belum atau bukan dari definisi atau operasi bilangan.

Itulah sebabnya pengetahuan intuitif sangat penting sebagai pondasi pengetahuan matematika selanjutnya.

Pengetahuan intuitif itulah yang selama ini kita abaikan.

Sebenar benar pengetahuan intuitif diperoleh dari PENGALAMAN diri siswa dari interaksinya dengan lingkungan KONGKRIT nya.

Oleh karena itu, pembelajaran matematika di kelas bawah (1, 2 dan 3) seyogyanya menggali dan mengembangkan pengetahuan intuitif. Dan hindari pemahaman matematika melalui definisi.

END