Senin, 06 Desember 2021

Hakikat Pengalaman Berdasarkan Immanuel Kant “Critique Of Pure Reason”

 

Pada pertemuan awal dengan Prof. Marsigit, saya mulai terkagum dengan pemaknaan yang mendalam dari setiap kalimat yang beliau sampaikan sekaligus menunjukkan kapasitas intelektual beliau yang memahami filsafat. Beliau sudah melakukan perubahan model pembelajaran dari model kelas konvensional yaitu dosen selalu menampilkan power point dan menjelaskan, menjadi kelas yang beliau mulai dengan “luruh ego” yaitu menjawab pertanyaan yang beliau berikan kemudian direfleksikan. Beliau juga merekomendasikan buku-buku yang bisa di baca atau di pakai sebagai pemula dalam berfilsafat seperti bukunya Immauel Kant. Banyak hal yang berbeda dari Prof. Marsigit lakukan, mulai dari tes, dan system penilaian terbuka, gaya bicara (komunikasi), metode pembelajaran dan lain-lain yang menurut saya menjadikan pembelajaran filsafat unik dan inovatif.

Selama ini, saya belajar filsafat hanya terfokus pada aliran rasionalisme dan empirisme yang kemudian melahirkan metode ilmiah. Melalui kuliah filsafat Prof. Marsigit, saya menemukan banyak aliran filsafat lain yang sangat penting dalam membangun ilmu pengetahuan. Filsafat beliau memiliki karakteristik tersendiri sehingga seringkali terlontar kata “Marsigitisme”, tetapi sebagaimana yang sering beliau sampaikan bahwa sebenar benar filsafat adalah penjelasanmu, tapi tidak sekedar penjelasanmu, tapi harus merujuk/merefer pemikiran para filsuf. Saya melihat bahwa referensi Marsigitisme adalah pengembangan dari pemikiran Immanuel Kant. Filsafat adalah olah piker, jadi Ketika kita berpikir maka kita telah berfilsafat kata Prof. Marsigit sebuah kalimat menurut saya sangat inspiratif dan mendalam. Beliau selalu mengajarkan berdoa sebelum dan berakhir kuliah. Pengalaman saya selama kuliah filsafat jika dikaitkan dengan Immanuel Kant adalah berkaitan dengan konsep estetika dan intuisi, fenomena dan Neoumne.

1.     Estetika dan Intuisi

Pada bab pertama Critique of Pure Reason, terdapat pembahasan tentang estetika. Masyarakat awam biasa menggunakan istilah ini sebagai ungkapan apresiatif terhadap keindahan dan seni. Kant menggunakan istilah ini bukan dengan pengertian tersebut. Dalam Critique of Pure Reason, istilah estetika mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi.

Kant juga memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Kant mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari pengalaman tanpa melalui konseptualisasi. Intuisi yang dimaksudkan oleh Kant di sini hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu, tanpa konseptualisasi terhadap data tersebut.

2.     Revolusi Copernicus dalam Filsafat Kantian

        Salah satu konsekuensi hadirnya Critique of Pure Reason, menurut Immanuel Kant adalah Revolusi ala Copernicus dalam dunia filsafat. Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke – 16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup. Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

3.     Sifat Dasar Pengetahuan

     Immanuel Kant menganalisis tentang pengetahuan dengan didasarkan pada pemahaman umum. Misalnya, jika kita melihat bir, ya kita melihat bir (itu saja). Tidak ada keraguan tentang hal itu. Dengan demikian Kant meyakini bahwa untuk mendalilkan teori skeptis, seperti tidak ada dunia di luar diri, merupakan jurang maut yang mendiskreditkan filsafat. Melalui Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi kondisi – kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant berpendapat bahwa akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh : gagasan pikiran setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling berkaitan. Hal ini bagi Kant tidak perlu dibuktikan secara empiris karena pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas dalam diri sendiri adalah benar. Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:

 - Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’.

 - Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”.

- Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

 - Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’.

4.     Pernyataan A Priori Sintetik

Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

5.     Fenomena dan Noumena

Kata ‘Fenomena’ merujuk pada dunia sebagaimana tampak pada kita dari perspektif personal. Bagi Kant, dunia nyata hanya merupakan dunia fenomena yang kita tangkap dan konseptualkan. Kita kemudian dapat memperluas perspektif kita ke pandangan umum manusia, dari sudut pandang ini kemudian kita memiliki gagasan objektif. Dunia fenomena berbeda dengan dunia noumena, yang mana merupakan dunia pada dirinya sendiri. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia noumena. Hal ini selamanya tidak dapat diketahui, karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita tentang dunia. Konsekuensi pemikiran Immanuel Kant tentang dunia fenomena dan noumena adalah : Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya melihat sesuatu, maka sesuatu tersebut ada, karena dapat disentuh dan diorganisasikan dalam pikiran. Hal ini merupakan sebuah fenomena bukan noumena. Kant mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri berada melampaui pengamatan kita. Misalkan kita mengamati fosil ammonite, maka noumena fosil tersebut akan memberikan fenomena pada kita tentang fosil ammonite. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa fosil ammonite ini merupakan fosil ammonite dalam dirinya sendiri. Konsep ‘fosil ammonite’ terbatas pada dunia fenomena. Membicarakan segala sesuatu di luar pengalaman kita, merupakan omong kosong, karena perspektif kita tidak akan pernah mengetahui das Ding an sich. Melalui konsep ini, Kant berpendapat bahwa dunia kita terbatas pada batas kemampuan memahami dan mengkonseptualisasikan sesuatu. Hal ini dapat dirangkum melalui pernyataan, “Saya tidak pernah sadar minum alkohol, sampai saya sadar akan kata – kata”

A.    DEDUKASI TRANSDENTAL

Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis, sebagaimana berikut ini:

1. Hanya jika A maka B,

2. B telah kita alami maka,

3. A

Kant menggunakan silogisme ini untuk menyimpulkan kondisi yang diperlukan untuk mengetahui. Premis 2 menunjukkan apa yang telah kita alami, premis 1 adalah kondisi yang memungkinkan kita memiliki pengalaman itu, Karena keduanya adalah benar, elemen transendental A pada langkah 3 harus mengikuti. Kant menggunakan metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan, atau kondisi pra – mengetahui.

Contoh penerapan metode deduksi transendental Kant adalah keharusan kesatuan diri sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Mari kita ambil contoh tentang pengalaman sementara kita dalam menikmati minuman beralkohol tuak. Silogismenya berbentuk:

1. Hanya jika terdapat kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak,

2. Saya pernah menikmati tuak, maka

3. Terdapat kesatuan diri saya sepanjang waktu.

B.    PENGETAHUAN MURNI DAN PENGETAHUAN EMPIRIS

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.

Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain:Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.

Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar