Pada pertemuan awal dengan Prof. Marsigit, saya mulai
terkagum dengan pemaknaan yang mendalam dari setiap kalimat yang beliau
sampaikan sekaligus menunjukkan kapasitas intelektual beliau yang memahami
filsafat. Beliau sudah melakukan perubahan model pembelajaran dari model kelas
konvensional yaitu dosen selalu menampilkan power point dan menjelaskan,
menjadi kelas yang beliau mulai dengan “luruh ego” yaitu menjawab pertanyaan
yang beliau berikan kemudian direfleksikan. Beliau juga merekomendasikan
buku-buku yang bisa di baca atau di pakai sebagai pemula dalam berfilsafat
seperti bukunya Immauel Kant. Banyak hal yang berbeda dari Prof. Marsigit
lakukan, mulai dari tes, dan system penilaian terbuka, gaya bicara
(komunikasi), metode pembelajaran dan lain-lain yang menurut saya menjadikan
pembelajaran filsafat unik dan inovatif.
Selama ini, saya belajar filsafat hanya terfokus pada
aliran rasionalisme dan empirisme yang kemudian melahirkan metode ilmiah.
Melalui kuliah filsafat Prof. Marsigit, saya menemukan banyak aliran filsafat
lain yang sangat penting dalam membangun ilmu pengetahuan. Filsafat beliau memiliki karakteristik
tersendiri sehingga seringkali terlontar kata “Marsigitisme”, tetapi
sebagaimana yang sering beliau sampaikan bahwa sebenar benar filsafat adalah
penjelasanmu, tapi tidak sekedar penjelasanmu, tapi harus merujuk/merefer pemikiran
para filsuf. Saya melihat bahwa referensi Marsigitisme adalah pengembangan dari
pemikiran Immanuel Kant. Filsafat adalah olah piker, jadi Ketika kita berpikir
maka kita telah berfilsafat kata Prof. Marsigit sebuah kalimat menurut saya
sangat inspiratif dan mendalam. Beliau selalu mengajarkan berdoa sebelum dan
berakhir kuliah. Pengalaman saya selama kuliah filsafat jika dikaitkan dengan
Immanuel Kant adalah berkaitan dengan konsep estetika dan intuisi, fenomena dan
Neoumne.
1. Estetika
dan Intuisi
Pada
bab pertama Critique of Pure Reason, terdapat pembahasan tentang
estetika. Masyarakat awam biasa menggunakan istilah ini sebagai ungkapan
apresiatif terhadap keindahan dan seni. Kant menggunakan istilah ini bukan
dengan pengertian tersebut. Dalam Critique of Pure Reason, istilah
estetika mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui
indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek
intuitif dan aspek konseptual. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai
‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat
konseptualisasi.
Kant
juga memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Kant
mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari
pengalaman tanpa melalui konseptualisasi. Intuisi yang dimaksudkan oleh Kant di
sini hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu, tanpa konseptualisasi
terhadap data tersebut.
2.
Revolusi
Copernicus dalam Filsafat Kantian
Salah
satu konsekuensi hadirnya Critique of Pure Reason, menurut Immanuel Kant adalah
Revolusi ala Copernicus dalam dunia filsafat. Nicolaus Copernicus merupakan
seorang ilmuwan abad ke – 16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang
menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh
tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model
heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala
itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh
otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup. Kant menganggap akal budi–lah yang
memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami
merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.
3.
Sifat Dasar Pengetahuan
Immanuel Kant menganalisis tentang pengetahuan
dengan didasarkan pada pemahaman umum. Misalnya, jika kita melihat bir, ya kita
melihat bir (itu saja). Tidak ada keraguan tentang hal itu. Dengan demikian
Kant meyakini bahwa untuk mendalilkan teori skeptis, seperti tidak ada dunia di
luar diri, merupakan jurang maut yang mendiskreditkan filsafat. Melalui
Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi kondisi – kondisi penentu
kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis,
sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant berpendapat bahwa akal budi
kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh : gagasan pikiran setiap
manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling
berkaitan. Hal ini bagi Kant tidak perlu dibuktikan secara empiris karena
pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas dalam diri sendiri adalah
benar. Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:
- Suatu pernyataan bersifat analitik, jika
predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu
bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek
‘bola’.
- Suatu pernyataan bersifat tidak analitik,
jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek.
Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan
sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”.
-
Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan
sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.
- Suatu pernyataan disebut benar secara a
posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi
pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan
bukti empiris.
Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti
bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang
didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati
bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’
yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek
‘bola’.
4.
Pernyataan A Priori Sintetik
Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik
ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian
filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik.
Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer
di dunia filsafat. David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan
yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut
ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini
kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan
Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi
Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan
sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A
priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan
menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant,
yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant
menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori
sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.
5.
Fenomena dan Noumena
Kata ‘Fenomena’ merujuk pada dunia sebagaimana tampak pada kita dari perspektif personal. Bagi Kant, dunia nyata hanya merupakan dunia fenomena yang kita tangkap dan konseptualkan. Kita kemudian dapat memperluas perspektif kita ke pandangan umum manusia, dari sudut pandang ini kemudian kita memiliki gagasan objektif. Dunia fenomena berbeda dengan dunia noumena, yang mana merupakan dunia pada dirinya sendiri. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia noumena. Hal ini selamanya tidak dapat diketahui, karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita tentang dunia. Konsekuensi pemikiran Immanuel Kant tentang dunia fenomena dan noumena adalah : Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya melihat sesuatu, maka sesuatu tersebut ada, karena dapat disentuh dan diorganisasikan dalam pikiran. Hal ini merupakan sebuah fenomena bukan noumena. Kant mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri berada melampaui pengamatan kita. Misalkan kita mengamati fosil ammonite, maka noumena fosil tersebut akan memberikan fenomena pada kita tentang fosil ammonite. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa fosil ammonite ini merupakan fosil ammonite dalam dirinya sendiri. Konsep ‘fosil ammonite’ terbatas pada dunia fenomena. Membicarakan segala sesuatu di luar pengalaman kita, merupakan omong kosong, karena perspektif kita tidak akan pernah mengetahui das Ding an sich. Melalui konsep ini, Kant berpendapat bahwa dunia kita terbatas pada batas kemampuan memahami dan mengkonseptualisasikan sesuatu. Hal ini dapat dirangkum melalui pernyataan, “Saya tidak pernah sadar minum alkohol, sampai saya sadar akan kata – kata”
A. DEDUKASI TRANSDENTAL
Kata
‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman.
Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis,
sebagaimana berikut ini:
1.
Hanya jika A maka B,
2.
B telah kita alami maka,
3.
A
Kant menggunakan silogisme ini untuk menyimpulkan
kondisi yang diperlukan untuk mengetahui. Premis 2 menunjukkan apa yang telah
kita alami, premis 1 adalah kondisi yang memungkinkan kita memiliki pengalaman
itu, Karena keduanya adalah benar, elemen transendental A pada langkah 3 harus
mengikuti. Kant menggunakan metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan,
atau kondisi pra – mengetahui.
Contoh
penerapan metode deduksi transendental Kant adalah keharusan kesatuan diri
sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang
mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Mari
kita ambil contoh tentang pengalaman sementara kita dalam menikmati minuman
beralkohol tuak. Silogismenya berbentuk:
1.
Hanya jika terdapat kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati
tuak,
2.
Saya pernah menikmati tuak, maka
3. Terdapat kesatuan diri saya sepanjang waktu.
B. PENGETAHUAN
MURNI DAN PENGETAHUAN EMPIRIS
Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.
Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain:Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.
Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar