Pada perkuliahan filsafat membahas tentang pentingnya etika dan estetika pada diri seseorang. Hidup pada lingkungan yang majemuk dan penuh dengan karakteristik manusia yang heterogen tentunya kita harus mampu membawa diri serta mampu menyesuaikan dengan lingkungan masyarakat dimana kita berada. Hal ini dikarenakan etika dan estetika yang terdapat didaerah satu dengan daerah yang lain tentunya tidak sama dan terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita. Maka dari itu perkuliahan filsafat pada kali ini membahas tentang pentingnya etika dan estetika dalam berinteraksi dengan sesama.
Perkuliahan
filsafat yang disampaikan oleh prof. Marsigit memberikan pengalaman yang sangat
luar biasa sekali terkait dengan pentingnya etika dan estetika dalam
berinteraksi dengan sesama. Banyak sekali penjelasan yang beliau sampaikan
terkait dengan materi etika dan estetika. Bahkan pada perkuliahan ini beliau
juga mencotohkan sikap saling maaf memaafkan antar sesama. Pada contoh yang
disampaikan oleh Prof. Marsigit mengandung makna bahwa ketika kita melakukan
kesalahan atau berbuat yang sekiranya merugikan orang lain yang diakibatkan karena
etika, sikap, perbuatan yang kita lakukan kita harus berani untuk bertanggung
jawab dengan melakukan permohonan maaf kepada orang tersebut. Pada konteks
contoh yang dijelaskan oleh Prof Marsigit mengandung arti bahwa dalam persoalan
etika dan estetika tidak mengenal yang namanya pangkat, gelar, jenis kelamin
dan lain sebagainya. Artinya bahwa jika kita sudah berada disuatu lingkungn
masyarakat kita harus beretika dan berestetika dengan sopan dan santun kepada
orang yang lebih tua sehingga suasana saling hormat menghormati semakin lebih
terjaga dengan baik.
Pada
era yang semakin modern ini, banyak sekali kejadian atau kasus yang
menggambarkan betapa miskinya etika dan estetika yang dimiliki oleh
pemuda-pemuda diegara kita. Masuknya budaya barat yang semakin genjar masuk
dinegara kita semakin besar pengaruhnya terhadap etika dan estetika
pemuda-pemuda penerus bangsa. Tentunya kita harus bisa memfilter budaya-barat
yang masuk dinegara kita sehingga tidak terbawa arus dan nantinya akan
berdampak pada moral, etika dan estetika yang tidak baik pada diri anak-anak
kita. Dalam hal ini faktor keluarga memiliki peranan penting dalam menanam
serta menumbuh kembangkan etika dan estetika pada diri seseoarang. Melalui
contoh-contoh kecil serta kebiasaan sikap yang positif dimulai dari keluarga
secara tidak langsung akan tertanam pada anak kita.
Pada
kesempatan perkuliahan kali ini, saya dapat menarik sebuah hikmah betapa
pentingnya etika dan estetika pada diri seseoarang. Selain itu, kita juga di
berikan sikap saling maaf memaafkan antar sesama ketika kita sedang
berinteraksi dan bersosialisasi. Banyak sekali orang yang sebenarnya bersikap
dan kemudian dengan sikap itu ada orang yang merasa dirugikan tapi orang
tersebut tidak mampu dan tidak mau untuk meminta maaf kepada orang lain. Hal
ini menjadi pelajaran bagi kita semua dari apa yang sudah dijelaskan dan
diuraikan secara jelas dan sangat luar biasa oleh Prof Marsigit bahwa dalam
konteks etika dan estetika tidak mengenal yang namanya jabatan, pangakat, gelar
dan lain sebagainya. Perihal etika dan estetika dalam agama juga sudah
dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling maaf memaafkan jika kita
melakukan kesalahan atau kekeliruan yang kemudian dapat merugikan orang lain.
Melalui luruh ego serta note of the day yang disamaikan oleh prof marsigit
memberikan pengalaman yang sangat luar biasa betapa masih banyakya kekurangan
yang kita miliki selama kita hidup didunia serta ketika kita berinteraksi
dengan sesama. Tidak ada satupun yang dapat kita banggakan dihadapan allah swt selain
keimanan dan ketaqwaan serta amal kebaikan yang kita kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar