Senin, 06 Desember 2021

ARKAETIK, TRIBAL,TRADISIONAL, FEUDAL DAN MODERN

 

Hal pertama yang membuat saya kagum ketika kuliah bersama prof. Marsigit adalah beliau selalu memulai perkuliahan dengan berdoa. Kemudian selalu menanyakan siapa yang tidak hadir, hal tersebut menunjukkan rasa perhatian beliau terhadap keikutsertaan mahahsiswanya. Beliau juga di awal perkuiahan menjelaskan sistem perkuliahan dengan kontrak kuliah kehadiran, tugas, serta buku-buku yang dapat di baca  terkait filsafat.

Hari ini kuliah filsafat dengan dimulai luruh ego, bentuk dari bahasa adalah analitik dan substan dari bahasa sematik. Komponen kualitatif afirmasi, afirmatif. Pikiran bawaan sejak kecil atau lahir adalah kualitas, kuantitas, hubungan, modality. Modality disini masih belum bisa ditemukan dalam kamus besar bahasa indonesia. Note of the day sebuah spontanitas yang dilakukan oleh prof. Marsigit.

Ada tingkatan berfikir, filsafat lebih baik diulangi berkali kali ditempat berbeda. Berpikir modern seperti apa, awalnya dari struktur dunia sekarang ini paling bawah adalah arkaetik yaitu manusia batu. Olah pikir manusia batu jangan cari di hutan tapi justru di kota besar lebih banyak.  Manusia batu yang dites luruh ego adalah yang selalu dapat “0” tetapi tetap tidak mau membaca dan mencari ilmunya, seharusnya meningkat dengan komitmen, konsisten, dan konsekuen membaca, itu adalah sebenar-benar manusia batu.

Kemudian meningkat diatasnya arkaetik adalah tribal. Di perkotaan banyak tribal. Yaitu jika kita punya pikiran/pendapat tapi mengisolasi diri, menjauhkan dan tidak mau bersentuhan, tidak mau berdiskusi dan tidak mau membuka diri seakan-akan pikiran seperti itu adalah tribal.

Selanjutnya diatasnya adalah tradisional, contoh nya walupun sudah s3 terancam juga untuk tradisional yaitu ketika membaca landasan teori, tidak menutup kemungkinan meniru contoh-contoh dari disertasi yang sudah ada, sayangnya yang ditiru refrensinya sudah lama. Referensi lama teori nya ya sudah lama semua. Tapi karena pikiran nya mengalir dan memikirkan banyak perkara jadi tidak sadara kalua tulisannya itu adalah tradisional. Tradisional itu sudah ganti zaman. Kalau dulu zamannya orde baru sebelumnya masih ada bekas lurah, bekas camat, bekas  kepala desa, bekas, presiden sekarang sudah di ganti menjadi mantan. Jika kita menulis masih menggunakan bekas berrati kita termasuk tradisional/konvensional. Kata mantan aja masih di perhalus dengan rector ke-8, rector ke-9, rector -10. Contoh lagi adalah prof. Marsigit dengan di sebut direktur senior. Jadi bahasa itu berkembang, kalau tetap berarti tradisional.

Setelah tradisional kemudian menjadi feudal. Feudal ini agak punya gaya keluar, gaya eksploitasi dan gaya determinasi keluar. Karena mempunyai pengetahuan dan pengalaman tapi untuk menguasai orang lain dengan pamrin untuk mencari keuntungan, ini yang disebut berjiwa feudal. Karakteristiknya seperti zaman belanda dulu, zaman penjajah walaupun penjajjah zaman dahulu niatnya bukan untuk menjajah tetapi untuk berdagang. Karena sifat bangsa indonesia pada saat itu mempunyai sifat terjajah, bayangkan di pantura orangnya miskin, kemudian kedatangan orang dengan naik kapal dengan kerajaa bangsa eropa dengan topi lancip membawa sepatu bud.jadi melihat sepeperti itu apapun jadi diberikan. Penjajahan itu adalah pikiranmu sendiri yang terjajah, karena pikiran kita terjajah sehingga kita di jajah.  Seperti guru,pagi berangkat ke sekolah berdoa, senang,rapi, semnagat,  tapi ketika sampai kelas malah marah-marah, karena siswa nya perlu dimarahi.

Mengenai zaman modern,  orang awam dikiranya zaman modern adalah pada saat ini kalau filsafat bukan atau salah. Kalau filsafat zaman modern itu 3 abad yang lalu, atau bahkan 4 abad yang lalu, atau bahkan 5 abad yang lalu sewaktu peradaban 16 dan 17 . Kalau sekarang namanya post modern atau zaman kontemporer. Pertanyaann peradapan.zaman  modern itu adalah antithesis dari zaman kegelapan, zaman kegelapan itu abad ke 12 dan 13. Kalau islam abad ke-5, kalau yunani 2000 sebelum masehi belum ada agama maka dia mengenal dewa hemain, maka dikenal lah metode hermenika. Zaman gelap adalah zaman dimana gereja berkuasa, gereja itu menyatukan agama dan pemerintahan yang berkuasa sehingga mampu dan bisa mengatur dan membuat ketentuan pada saat itu. Pada zaman itu tidak boleh sembarang orang menyampaikan kebenaran, karena kebenaran itu direkomendasikan oleh gereja walaupun yang memberi kebenaran apakah itu presiden, apakah itu menteri, orang biasa, peneliti pokoknya kebenaran itu harus direkomendasikan oleh gereja. Suatu ketika gereja itu punya teori menyampaikan teori sebagai suatu kebenaran. Teorinya ialah bahwa tata surya itu yang menjadi peredaran pusatnya adalah bumi yaitu bersifat geosentris. Menurut mereka atau menurut gereja ini bumi sebagai pusat bulan, bintang, planet mars, termasuk matahari mengelilingi bumi.

Dalam kurun waktu mulai abad ke -16 masuk abad ke 17 sudah mulai ada orang-orang yang bersifat kritis mengadakan penelitian dan pengamatan. Hasil penelitian sudah ditengarai atau ditemukan pusatnya bukan bumi tapi pusatnya adalah matahari yaitu heleosentris. Jadi bumi, bulan, dan semua bintang-bintang, planet dan sebagainya semuanya memiliki matahari. Puncaknya adalah revolusi kovernicus, karena dia membuat buku yang isinya tentang tata surya, sebelumnya ada korban galileo galili di tangkap, dibakar dan di bunuh  gara-gara dia mengungkapkan kebenaran yang bertentangan dengan kebenaran gereja pada saat itu. Tapi covernicus selamat karena bukunya diterbitkan setelah dia meninggal dunia. Terus setelah itu menjadi masalah besar bagi pihak gereja dan akhirnya setelah itu muncullah filsuf-filsuf baru yang menyuarakan kebenaran. Lahirlah immanuel kant, scrates,  itulah zaman modern. Nah sampai sekarang buku-buku ipa, sains, pengetahuan yang beredar sesuai teori sekarang semuanya bersifat heliosentrik. Bumi itu berkeliling mengelilingi matahari, dan planet-planet yang lain, mars, venus, saturnus semuanya mengelilingi matahari. Jika ada orang gereja maka yang dipertanyakan apakah mereka menganut geosentris atau heliosentris, karena pengetahuan juga banyak orang-orang gereja. Perang dunia 1 dan 2 pun tidak akan mampu mengubah sejarahnya filsafat, tapi cukup dengan tulisan august the compte dia menulis buku, dia telah mengubah dunia. Itulah yang dinakaman kekuatan sebuah tulisan dengan dibanding kekuatan senjata. Jadi, prof. Marsigit memberikan suatu pandangan tentang hal ini, tentang metafisik. Dibalik marsigit itu ada mars nama planet, si melihat git gerbang. Itu berrati kualitas 1 dan 2, terus dari tampilan wajah ya seperti itu, kalau kita terapkan melihat fenomena kita bangun tidur saja sudah melihat kalau matahari sudah mengililingi bumi. Kalau malam juga bulan-bulan sudah bergerak mengelilingi bumi. Misalnya orang itu mengambil kualitas pertama tujuan nya untuk agama. Tergantung kualitasnya yang kita harapkan, itulah yang dinamakan metafisik.

 

 

 

The Nature of School Mathematics

 

Followings are various natures of school mathematics:

 

Search for pattern and relation

Problems Solving

Investigation/

Research

Communication

Humanistic Classroom giving rise to Connected Image of Mathematics

 

Search for pattern and relation

Pembelajaran merupakan kegiatan penting dimana di kegiatan tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa.  Kenapa kegiatan pembelajaran itu penting?, hal ini dikarenakan ketika pelaksanaan proses pembelajaran terjadi transfer of knowledge melalui ketrampilan yang dimiliki guru kepada siswa supaya siswa lebih enjoy ketika menerima pengetahuan tersebut. Untuk itu perlu dibuat pola dan hubungan pembelajaran yang tepat supaya proses pembelaharan yang meaningfull. Salah satu pembelajaran yang harus dibuat pola dan hubungan yang baik ketika pembelajaran berlangsung adalah pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang melibatkan pengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien (Rusyanti, 2014). Pembelajaran Matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari (Sudiati, 2014).

Menurut Marsigit (2009) dalam proses kegiatan pembelajaran matematika guru dapat melakukan pola dan hubungan pembelajaran matematika dengan: 1) pembelajaran dirancang supaya siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan matematika, 2) pembelajaran dirancang supaya siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan percobaan matematika dengan berbagai cara, 3) pembelajaran dirancang supaya siswa memperoleh kesempatan untuk menemukan adanya urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dalam matematika, 4) pembelajaran dirancang supaya siswa memperoleh kesempatan untuk menarik kesimpulan umum (membuktikan rumus), 5) pembelajaran dirancang supaya siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian matematika yang satu dengan yang lainnya.

 

Problems Solving

Pembelajaran matematika telah mengalami perubahan mendasar dari pendekatan transfer pengetahuan menjadi pembelajaran dengan pendekatan yang mengarahkan peserta didik  memanfaatkan pengetahuan yang telah dimiliki (prior knowledge) atau pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif peserta didik, dalam melakukan asimilasi informasi baru, untuk membangun pemahaman sendiri. Pembelajaran akan lebih bermakana apabila didasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik bukan berdasarkan pengethauan yang dimiliki guru. Rangkaian proses ini harus direalisasikan di dalam kelas dengan menerapkan beberapa teknik, salah satu diantaranya adalah teknik pemecahan masalah (problem solving).

Pemecahan masalah (problem solving) dalam matematika adalah suatu proses kognitif yang kompleks untuk mengatasi suatu masalah dan memerlukan  sejumlah strategi dalam menyelesaikannya (Surya, 2011). Melalui Problem solving dalam matematika peserta didik akan memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan masalah yang tidak rutin (tidak biasa) dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif mereka. Masalah matematika tidak rutin yang dimaksud adalah masalah matematika yang terkait dengan penerapan konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Problem solving dalam pembelajaran matematika difokuskan pada pembelajaran topik matematika melalui konteks problem solving dan lingkungan yang berorientasi pada kemampuan peserta didik dan membantu guru membangun pemahaman mendalam tentang gagasan dan proses matematika dengan melibatkan peserta didik dalam aktivitas matematika: menciptakan, menduga, mengeksplorasi, menguji, dan verifikasi (Lester et al., 1994).

Menurut Marsigit (2009) perlu adanya pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika melalui problem solving adalah: 1) diperlukan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika, 2) memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, 3) mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika, 4) memerlukan kegiatan berpikir logis, konsisten, sistematis dan membuat catatan, 5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan matematika, 6) mempelajari cara menggunakan berbagai alat peraga matematika seperti : jangka, kalkulator, penggaris, busur derajat.

Investigation/Research

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peran matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan menjadi sangatlah penting. Perlu adanya sebuah terobosan yang harus dilakukan guru ketika melaksanakan proses pembelajaran matematika supaya siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Model pembelajaran investigation merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada proyek investigasi kelompok, dimana siswa akan diberi proyek investigasi terkait dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan materi pokok yang diberikan. Diperlukan pemahaman yang baik terutama guru dalam melaksanakan pembelajaran investigation ini agar hasil yang diperoleh selama pembelajaran dapat dikuasai siswa dan siswa menjadi lebih paham dalam melakukan sebuah pemecahan masalah. 

Menurut Marsigit (2009)  keterampilan melakukan penyelidikan (investigation), meliputi: mengajukan pertanyaan dan menentukan bagaimana memperolehnya, membuat dan menguji hipotesis, menentukan informasi yang cocok dan memberi penjelasan mengapa suatu informasi diperlukan dan bagaimana mendapatkannya, mengumpulkan dan menyusun serta mengolah informasi secara sistematis, mengelompokkan criteria, mengurutkan dan membandingkan; mencoba metode alternatif, mengenali pola dan hubungan; dan menyimpulkan. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan sehingga diperlukan pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika adalah: 1) mempunyai inisiatif untuk mencari penyelesaian persoalan matematika, 2) mempunyai rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah dan kemampuan memperkirakan, 3) menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal bermanfaat, 4) berusaha menemukan struktur dan desain matematika, 5) menghargai penemuan siswa yang lainnya, 6) mencoba berfikir refleksif, yaitu mencari manfaat matematika 7) tidak hanya menggunakan satu metode saja dalam menylesaikan matematika. 

Communication 

Pembelajaran matematika sering dianggap matapelajaran yang sulit bagi siswa. Tentunya ini menjadi perhaian penting bagi guru, harus dengan cara seperti apa guru dapat mejelaskan materinya agar dengan mudah siswa memahami materi tersebut. Guru harus kreatif bagaimana merancang pembelajaran supaya terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Greenes dan Schulman (Priyambodo, 2008) menjelaskan bahwa komunikasi matematik merupakan kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika; sebagai modal keberhasilan siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; dan komunikasi sebagai wadah bagi siswa untuk memperoleh informasi atau membagi pikiran, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan orang lain. Pentingnya komunikasi matematika juga diungkapkan oleh Lindquist dan Elliot (1996) yang menyatakan bahwa kita memerlukan komunikasi dalam belajar matematika jika hendak meraih secara penuh tujuan sosial seperti belajar seumur hidup dan matematika untuk semua orang. Apabila kita sepakat bahwa matematika merupakan suatu bahasa dan bahasa tersebut sebagai bahasa terbaik dalam komunitasnya, maka mudah dipahami bahwa komunikasi adalah faktor penting dari mengajar, belajar, dan mengakses matematika. Tanpa komunikasi dalam matematika maka kita akan memiliki sedikit keterangan, data, dan fakta tentang pemahaman siswa dalam melakukan proses dan aplikasi matematika.

Menurut Marsigit (2009) pembelajaran matematika sebagai alat berkomunikasi, sehingga diperlukan pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika adalah: 1) berusaha mengenali dan menjelaskan sifat-sifat matematika, 2) berusaha membuat contoh-contoh persoalan matematika sendiri, 3) mengetahui alasan mengapa siswa perlu mempelajari matematika, 4) mendiskusikan penyelesaian soal-soal matematika dengan teman yang lain, 5) mengerjakan contoh soal dan soal-soal matematika, 6) menjelaskan jawaban siswa kepada teman yang lain.

Humanistic Classroom giving rise to Connected Image of Mathematics

Pada dasarnya matematika humanistik melibatkan pengajaran yang isinya humanistik (humanistic content) dengan menggunakan pendidikan humanistik (humanistic pedagogy) dalam keyakinan bahwa kekurangan motivasi siswa merupakan akar penyebab dari masalah-masalah sikap dan literasi dalam pendidikan matematika. White (dalam Susilo, 2004) menjelaskan bahwa matematika humanistik mencakup dua aspek pembelajaran, yaitu pembelajaran matematika secara manusiawi dan pembelajaran matematika yang manusiawi. Aspek pertama berkaitan dengan proses pembelajaran matematika yang menempatkan siswa sebagai subjek untuk membangun pengetahuannya dengan memahami kondisi-kondisi, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Pengetahuan matematika tidak terbentuk dengan menerima atau menghafal rumus-rumus dan prosedur-prosedur, tetapi dengan membangun makna dari apa yang sedang dipelajari. Siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan, mengaplikasikan apa yang dipelajari. Siswa juga mungkin melakukan kesalahan dan dapat belajar dari kesalahan tanpa takut untuk berbuat salah dengan melakukan ujicoba atau eksperimen. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada aspek kedua embelajaran matematika yang manusiawi berkaitan dengan usaha merekonstruksi kurikulum matematika sekolah, sehingga matematika dapat dipelajari dan dialami sebagai bagian kehidupan manusia. Sehingga perlu penjabaran lebih detail terkait dengan kaitan matematika dan dunia nyata atau mata pelajaran lain serta perlu dijabarkan secara konkrit.

Menurut Marsigit (2009) supaya siswa menyukai pelajaran matematika perlu adanya pedoman bagi guru dan siswa dalam pembelajaran matematika. Siswa menyukai matematika jika siswa mempunyai keinginan untuk mempelajarinya. Untuk itu cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut: 1) pelajarilah matematika dengan senang hati, 2) kenalilah apa yang siswa tahu dan belum tahu. Jika siswa menyukai matematika, siswa harus berani mempelajari matematika secara mandiri. Untuk itu cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut: 1) siswa harus percaya diri dalam belajar matematika dan optimis bias mengerjakannya 2) gunakanlah pengalaman yang siswa peroleh dalam kehidupan sehari-hari 3) untuk mempelajari matematika 4) carilah materi dan kegiatan yang menantang dari matematika. Agar siswa menyukai matematika, siswa perlu mencari teman untuk belajar bersama. Untuk itu cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut: 1) belajar kelompok akan melatih kemampuan bekerjasama 2) belajar kelompok memberikan kesempatan untuk bertukar gagasan. Agar siswa menyukai matematika, siswa memerlukan situasi dan suasana belajar yang bervariasi. Untuk itu cobalah lakukan hal-hal sebagai berikut: 1) gunakan berbagai alat bantu dan catatan/arsip untuk mempelajari matematika 2) belajar matematika di berbagai tempat yang berbeda: rumah, perpustakaan, 3) kelompok belajar, dsb 4) mencoba menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari 5) sekali waktu lakukanlah tes mandiri untuk mengetahui kemampuan matematika. 6) pilihlah buku pelajaran Matematika yang sesuai.

        Berdasarkan dari penjelasan di atas terkait dengan Understanding the nature school of mathematics yang sesuai dengan pembelajaran saya yaitu Humanistic Classroom giving rise to Connected Image of Mathematics. Melalui pembelajaran yang humanis siswa akan lebih dihargai sebagai objek belajar yang senantiasa tidak hanya sekedar ingin mencari informasi yang berkaitan dengan materi pelajaran saja, melainkan siswa di dalam kelas itu juga memerlukan sebuah bimbingan dan arahan serta nasehat selama melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang humanis akan membuat sebuah interaksi yang hangat, komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Melalui pembelajaran yang humanis ini juga akan membentuk karakter siswa menjadi lebih baik karena adanya pendampingan dan arahan yang ekstra yang dilakukan oleh guru.

 Referensi

Edy Surya, (2011). Visual Thinking and Mathematical Problem Solving of the Nation Character Development, Department of Mathematics Education, Yogyakarta State University Yogyakarta, July 21‐23,2011

Lester, F. K. (1994). Musings about mathematical problem-solving research: 1970-1994. Journal for Research in Mathematics Education, 25, 660-675. http://dx.doi.org/10.2307/749578

 

Lindquist, M.M. & Elliot, P.C. (1996). Communication-an Imperative for Change: A Conversation with Mary Lindquist. Dalam P.C Elliot dan M.J Kenney (Eds). Yearbook Communication in Mathematics K12 and Beyond. Virginia: The National Council of Teachers of Mathematics

 

Marsigit. (2009). Pedoman Umum dan Khusus Pembelajaran Matematika SMP.

 

Priyambodo, S. (2008). Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika siswa SMP melalui Strategi Heuristik. Tesis pada Sekolah Pasca Sarjana UPI

 

Rusyanti, Hetty. (2014). Analisis Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP Negeri 5 Jember pada Materi Pokok Lingkaran. Jurnal Pendidikan Matematika, (Online), (http://e-resources.perpusnas.go.id)

 

Sudiati, Sri.(2014). Analisis Berpikir Kritis Siswa dalam Pemecahan Polya Persamaan Kuadrat. Jurnal Pendidikan Matematika, (Online), (http://eresources.perpusnas.go.id)

 

Susilo, Frans. (2004). Matematika Humanistik. Yogyakarta: Basis

Hakikat Pengalaman Berdasarkan Immanuel Kant “Critique Of Pure Reason”

 

Pada pertemuan awal dengan Prof. Marsigit, saya mulai terkagum dengan pemaknaan yang mendalam dari setiap kalimat yang beliau sampaikan sekaligus menunjukkan kapasitas intelektual beliau yang memahami filsafat. Beliau sudah melakukan perubahan model pembelajaran dari model kelas konvensional yaitu dosen selalu menampilkan power point dan menjelaskan, menjadi kelas yang beliau mulai dengan “luruh ego” yaitu menjawab pertanyaan yang beliau berikan kemudian direfleksikan. Beliau juga merekomendasikan buku-buku yang bisa di baca atau di pakai sebagai pemula dalam berfilsafat seperti bukunya Immauel Kant. Banyak hal yang berbeda dari Prof. Marsigit lakukan, mulai dari tes, dan system penilaian terbuka, gaya bicara (komunikasi), metode pembelajaran dan lain-lain yang menurut saya menjadikan pembelajaran filsafat unik dan inovatif.

Selama ini, saya belajar filsafat hanya terfokus pada aliran rasionalisme dan empirisme yang kemudian melahirkan metode ilmiah. Melalui kuliah filsafat Prof. Marsigit, saya menemukan banyak aliran filsafat lain yang sangat penting dalam membangun ilmu pengetahuan. Filsafat beliau memiliki karakteristik tersendiri sehingga seringkali terlontar kata “Marsigitisme”, tetapi sebagaimana yang sering beliau sampaikan bahwa sebenar benar filsafat adalah penjelasanmu, tapi tidak sekedar penjelasanmu, tapi harus merujuk/merefer pemikiran para filsuf. Saya melihat bahwa referensi Marsigitisme adalah pengembangan dari pemikiran Immanuel Kant. Filsafat adalah olah piker, jadi Ketika kita berpikir maka kita telah berfilsafat kata Prof. Marsigit sebuah kalimat menurut saya sangat inspiratif dan mendalam. Beliau selalu mengajarkan berdoa sebelum dan berakhir kuliah. Pengalaman saya selama kuliah filsafat jika dikaitkan dengan Immanuel Kant adalah berkaitan dengan konsep estetika dan intuisi, fenomena dan Neoumne.

1.     Estetika dan Intuisi

Pada bab pertama Critique of Pure Reason, terdapat pembahasan tentang estetika. Masyarakat awam biasa menggunakan istilah ini sebagai ungkapan apresiatif terhadap keindahan dan seni. Kant menggunakan istilah ini bukan dengan pengertian tersebut. Dalam Critique of Pure Reason, istilah estetika mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi.

Kant juga memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Kant mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari pengalaman tanpa melalui konseptualisasi. Intuisi yang dimaksudkan oleh Kant di sini hanya merujuk pada suatu kondisi pengamatan sesuatu, tanpa konseptualisasi terhadap data tersebut.

2.     Revolusi Copernicus dalam Filsafat Kantian

        Salah satu konsekuensi hadirnya Critique of Pure Reason, menurut Immanuel Kant adalah Revolusi ala Copernicus dalam dunia filsafat. Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke – 16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup. Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

3.     Sifat Dasar Pengetahuan

     Immanuel Kant menganalisis tentang pengetahuan dengan didasarkan pada pemahaman umum. Misalnya, jika kita melihat bir, ya kita melihat bir (itu saja). Tidak ada keraguan tentang hal itu. Dengan demikian Kant meyakini bahwa untuk mendalilkan teori skeptis, seperti tidak ada dunia di luar diri, merupakan jurang maut yang mendiskreditkan filsafat. Melalui Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi kondisi – kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant berpendapat bahwa akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh : gagasan pikiran setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling berkaitan. Hal ini bagi Kant tidak perlu dibuktikan secara empiris karena pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas dalam diri sendiri adalah benar. Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:

 - Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’.

 - Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”.

- Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

 - Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’.

4.     Pernyataan A Priori Sintetik

Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

5.     Fenomena dan Noumena

Kata ‘Fenomena’ merujuk pada dunia sebagaimana tampak pada kita dari perspektif personal. Bagi Kant, dunia nyata hanya merupakan dunia fenomena yang kita tangkap dan konseptualkan. Kita kemudian dapat memperluas perspektif kita ke pandangan umum manusia, dari sudut pandang ini kemudian kita memiliki gagasan objektif. Dunia fenomena berbeda dengan dunia noumena, yang mana merupakan dunia pada dirinya sendiri. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia noumena. Hal ini selamanya tidak dapat diketahui, karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita tentang dunia. Konsekuensi pemikiran Immanuel Kant tentang dunia fenomena dan noumena adalah : Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya melihat sesuatu, maka sesuatu tersebut ada, karena dapat disentuh dan diorganisasikan dalam pikiran. Hal ini merupakan sebuah fenomena bukan noumena. Kant mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri berada melampaui pengamatan kita. Misalkan kita mengamati fosil ammonite, maka noumena fosil tersebut akan memberikan fenomena pada kita tentang fosil ammonite. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa fosil ammonite ini merupakan fosil ammonite dalam dirinya sendiri. Konsep ‘fosil ammonite’ terbatas pada dunia fenomena. Membicarakan segala sesuatu di luar pengalaman kita, merupakan omong kosong, karena perspektif kita tidak akan pernah mengetahui das Ding an sich. Melalui konsep ini, Kant berpendapat bahwa dunia kita terbatas pada batas kemampuan memahami dan mengkonseptualisasikan sesuatu. Hal ini dapat dirangkum melalui pernyataan, “Saya tidak pernah sadar minum alkohol, sampai saya sadar akan kata – kata”

A.    DEDUKASI TRANSDENTAL

Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis, sebagaimana berikut ini:

1. Hanya jika A maka B,

2. B telah kita alami maka,

3. A

Kant menggunakan silogisme ini untuk menyimpulkan kondisi yang diperlukan untuk mengetahui. Premis 2 menunjukkan apa yang telah kita alami, premis 1 adalah kondisi yang memungkinkan kita memiliki pengalaman itu, Karena keduanya adalah benar, elemen transendental A pada langkah 3 harus mengikuti. Kant menggunakan metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan, atau kondisi pra – mengetahui.

Contoh penerapan metode deduksi transendental Kant adalah keharusan kesatuan diri sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Mari kita ambil contoh tentang pengalaman sementara kita dalam menikmati minuman beralkohol tuak. Silogismenya berbentuk:

1. Hanya jika terdapat kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak,

2. Saya pernah menikmati tuak, maka

3. Terdapat kesatuan diri saya sepanjang waktu.

B.    PENGETAHUAN MURNI DAN PENGETAHUAN EMPIRIS

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.

Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain:Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi. Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Seluruh fenomena yang kita alami selalu berkaitan dengan materi dan forma. Materi merupakan sensasi sekilas. Sedangkan forma merupakan cara kita memahami sensasi tersebut. Sebagai contoh, ruangan merupakan suatu forma dari materi pengalaman visual, warna dan pencahayaan.

Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

LANGIT DIMENSI LEBIH TINGGI

 

Seperti biasanya pada awal perkuliahan prof. Marsigit selalu di iringi dengan doa, beliau sangat konsisten dengan hal itu. Dengan perantara doa segala sesuatu yang kita harapkan dapat diijabah oleh allah swt. Kemudian kami melanjutkan dengan luruh ego yaitu ada 30 pertanyaan, dan saya hanya betul 0. Dari luruh ego tersebut didaptkan penjelasan dari beliau yang sangat luar biasa. Hal ini saya jelaskan sebagai berikut. Melalui luruh ego ini kita mneyadari bahwa masih terdapat kekurangan pada diri kita yang belum kita sadari. Kita harus selalu memperbaiki diri melalui aktivitas-aktivitas yang dapat memberikan dampak positif bagi diri kita.

Langit dimensi lebih tinggi. Tata krama langit yaitu trancendental/etik. Kesalahan langit adalah antinomi/paralogos. Bentuk bahasanya adalah analitik, substansi bahasanya adalah sematik. Kenapa konsisten karena analogi. Noumena, reseptiviti, karena artitektonik, kualitas, kuantitas, hubungan, modaliti, hukum dari pengalaman adalah role of spasifi, discursi, kontingensi, kategori, hiptetikal, disfungsi, afirmatif, sensifinisi, representasi, bayangan, the great of perseption, persepsi, pengetahuan, reproduksi, pengenalan, spontanitas.

               berpikir modern seperti apa, struktur. Filsafat itu olah pikir/manusia batu. Sebenar-benar manusia adalah manusia batu. Tribal adalah berpikiran atau berpendapat. Penjajahan karena pikiran kata terjajah. Sekitar lima, empat atau tiga abad yang lalu zaman modern difilsafat. Sekarang zamannya post modern. Zaman modern adalah antitesis. Islam adalah abad ke 5. Ketika bangsa yunani belum ada agamanya, mereka menyembah dewa hermain.

            zaman gelap adalah zaman gereja berkuasa. Dimana gereja-gereja tersebut membuat ketentuan-ketentuan yaitu tidak boleh sembarang orangmencapai kebenaran, harus direkomendasikan oleh gereja. Gereja mempunyai teori yaitu tata surya peredaran yang menjadi pusat biosentris. Ketika abad ke 16 dan 17 ada orang yang kritis melakukan penelitian dengan menemukan hasil yaitu pusat peredaran bukan pada bumi tetapi matahari. Akhirnya muncullah revolusi copernican yaitu membuat buku. Sehingga lahirnya tokoh-tokoh ilmuan yang mampu membuktikan setiap kejadian alam berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Semua teori bersifat heleosentris. Geosentris menjadi heleosentris.

Dalam mempraktikan  etika dan estetika dalam kehidupan kita sehari-hari tidak mengenal yang namanya pangkat, gelar, kasta dan lain sebagainya. Namun seyogyanya ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih tua dari pada kita, kita harus menunjukan unggah ungguh yang baik sehingga orang yang lebih tua dari pada kita merasa dihormati dengan kesopanan yang kita lakukan. Kebiasaan sopan santun yang identik dengan orang indonesia harus kita sebarkan, harus kita pertahankan sehingga kita tidak ikut dengan perkembangan jaman yang semakin membawa generasi muda yang kerah yang negatif. Etika dan estetika yang saat terjadi yaitu semakin lunturnya nilai-nilai ini pada diri para pemuda penerus bangsa sehingga perlu tanamkan sejak dini tentang etika dan estetika kepada anak-anak kita.

Beliau juga menjelaskan bahwa kita hdup didalam masyarakat yang sangat majemuk. Apalagi indonesia dari sabang sampai merauke yang memiliki tingkat kemajukan yang sangat tinggi mulai dari agama, suku, ras, bahasa, jenis makanan, dan lain sebagainya. Hal ini mengahruskan bagi kita untuk senantiasa menghormati dari kekhasan yang dimiliki suatu daerah sehingga keharmonisan antar warga, antar daerah, antar kabupaten, antar provinsi tetap terjaga dengan baik. Pada kesempatan perkuliahan ini saya dapat menarik sebuah kesimpulan betapa pentingnya sebuah etika dan estetika yang positif yang harus miliki. Dengan kita dibekali etika dan estetika yang positif tentunya akan menyebarkan kebaikan-kebaikan dismanapun kita berada.

Pada pertemuan perkuliahan ini prof marsigit juga menekankan kepada kita semua bahwa kita harus senantiasa membawa hal-hal yang positif untuk orang yang berada disekitar kita, lingkungan kita, melalui sikap-sikap yang kita munculkan ketika kita berinteraksi kepada siapapun. Sekali lagi beliau menegaskan dan bahkan memberikan contoh perilaku etika yang sangat luar biasa yanitu dengan melakukan permintaan maaf kepada orang lain jika kita melakukan kesalahan. Beliau mengnganggap bahwa pada poin etika estetika tidak mengenal yang naman gelar dan pangkat karena beliau meyakini bahwa di hadapan allah swt semuanya itu sama dan yang membedakan adalah iman dan ketaqwaannya kepada allah swt.

 

 

 


Selasa, 05 Oktober 2021

REVIEW VIDEO YOUTUBE PROF. MARSIGIT MA

 

 FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN     

MERESUME VIDEO YOUTUBE PROF. MARSIGIT, M.A


Perkuliahan filsafat merupakan perkuliahan yang sulit untuk kita pahami dan bahkan kita selalu berfikiran bahwa dengan mempelajari filsafat akan menjauhkan dari semangat spiritualitas kita karena beberapa teori yang muncul pada filsafat. Namun setelah mendengarkan dari perkuliahan yang disampaikan oleh Prof. Marsigit, M.A melalui youtube, beliau menjelaskan dengan sangat jelas bahwa dengan filsafat kita akan lebih mendekatkan dengan sang kholiq. Beliau menjelaskan bahwa ujung dari kita mempelajari filsafat itu adalah meningkatnya spiritualitas kita. Dengan belajar filsafat yang beliau bawakan sangat membantu saya dalam memahami agama yang saya yakini. Maka dari itu, dari beberapa hal yang beliau sampaikan akan saya rangkum agar kita dapat belajar bersama. 

Hidup manusia itu metafisik, setelah yang ada masih ada yang ada lagi terus dan tidak akan selesai. Sebelum yang ada, ada lagi terus dan tidak akan selesai. Maju tidak selesai mundur tidak selesai, kenapa? Karena manusia itu tidak sempurna. Kenapa Manusia tidak sempurna? Supaya manusia bisa hidup, sebab kalau manusia sempurna, tidak akan bisa hidup. Kesempurnaan manusia itu sebenarnya tidak sempurna, manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan, tidak sempurna dalam kesempurnaan. Untuk itu, tuhan menciptakan manusia memiiki sifat sosial artinya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, ketika hidup agar senantiasa menunjukan sikap saling tolong menolong dengan orang yang ada disekeliling kita. Ini menunjukan dari ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh manusia. Karena sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.

Awal dari segala macam kegiatan atau aktivitas manusia adalah fatal dan vital. Fatal adalah terpilih. Terpilih adalah takdir. Kenapa takdir?karena sudah terjadi. Sebagai contoh saya akan memilih dua benda, ada warna putih dan hitam, saya mengambil warna putih. Jadi, yang telah terambil itu adalah takdir. Vital adalah memilih, memilih adalah ikhtiar. Kemudian dari situ muncul metafisiknya, metafisik adalah sifat di balik sifat, sifat mendahului sifat, sifat mengikuti sifat, sifat mempunyai sifat. Maka sebenar-bennar manusia adalah sifat mengikuti sifat. Maka, sifat bersifat tetap. Tidak ada manusia yang bisa merubah. Kecuali kuasa tuhan. Semua kuasa allah swt. Salah satu hilang, tanda sudah tidak ada lagi kehidupan. Hilang matanya tidak ada kehidupan. Dari sini kita sudah mulai berfilsafat.

Idealisme berarti absolut, sebaliknya yang berubah itu adalah di luar pikiran kita yang disebut realisme. Jadi yang cenderung tetap itu adalah pikiran kita, karena itu pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum identitas. Jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa tuhan). Jika di tarik kebawah, dunia pengalaman cenderung sintetik a posteriori, yaitu dunia yang nyata, konkret, dan bersifat kontradiksi. Langit itu konsisten ( para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap


Mahasiswa, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradikisi, sebenar-benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat a priori. Contoh seni hanya untuk senitidak untuk masyarakatmaka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah metode saintifik, mencoba itu sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Pada zaman modern ini muncul tokoh yang namanya august compte tahun 1857. August compte mengungkapkan bahwa pemikiran-pemikiran filsafat terdahulu tidak dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan dunia. Termasuklah semangat spiritual tidak dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan dunia, karena menurut august compte agama itu tidak logis untuk dijadikan dasar mengembangkan dunia. Maka dari itu august compte manaruh sisi agama berada pada porsi paling kecil, kemudian diikuti metafisik, kemudian barulah sisi paling besar adalah metode positif. Masyarakat sudah mulai berkembang dimana ditandai dengan struktur dunia itu meliputi archaic, tribal, tradisional, feodal, modern dan post modern atau power. Struktur dunia ini kemudia diback up dengan capitalis, materialism, pragmatism, utilitarian dan liberalism. Semakin berkembangnya dunia modern, melalui media sosial seperti faceebook, instagram, twitter, wa, indonesia terancam serangan terhadap dasar negara kita yaitu pancasila. Dimana sebelumnya ada serangan dari kanan yaitu pemberontakan pki dan sekarang dari sebelah kiri ada gerakan khilafiyah. Hal ini menjadi perhatian kita bersama bahwa kita sebagai warga negara indonesia harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial untuk berintraksi dengan orang lain serta kita harus lebih selektif terhadap informasi yang akan kita share di media sosial yang kita gunakan. Perkembangan dunia saat ini muncul Gerakan Trumpisme yaitu gerakan yang menganggap paling kuat, kaya dan makmur. Ini menjadi penyakit psikologi bagi pemimpin.


https://powermathematics.blogspot.com/